Semester I, Pendapatan Lippo Karawaci Rp 5,3 Triliun
Jumat, 30 Agustus 2019 | 15:32 WIB
Tangerang, Beritasatu.com - PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) hingga semester I-2019 mencatat total pendapatan Rp 5,3 triliun, atau tidak jauh berbeda dari periode yang sama tahun lalu.
Sementara perubahan triwulanan didorong pertumbuhan pendapatan recurring yang kuat terutama dari segmen bisnis healthcare yakni PT Siloam Hospitals Tbk yang diimbangi penurunan segmen bisnis properti dari tahun lalu. Hal ini terkait dengan keuntungan satu kali di semester I-2018. Jika PT Lippo Karawaci Tbk tidak memasukkan penjualan tanah yang tidak berulang sebesar Rp 450 miliar di semester I-2018, maka pendapatan semester I-2018 menjadi Rp 4,9 triliun, sehingga pendapatan di semester I-2019 naik sebesar 8,5 persen year on year (YoY).
Adapun marketing sales pada semester pertama 2019 mencapai Rp 835 miliar, atau meningkat 84 persen dari Rp 453 miliar di semester pertama 2018. "Pada kuartal kedua Lippo Karawaci terus menunjukkan kemajuan dalam rencana transformasi kami," kata CEO PT Lippo Karawaci Tbk, John Riady, dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com, Jumat (30/8/2019).
Sementara Siloam Hospitals mencatat pertumbuhan pendapatan yang kuat sebesar 18,5 persen YoY menjadi Rp 3,4 triliun di semester I-2019, dari Rp 2,8 triliun di semester I-2018. Pendapatan Siloam berkontribusi sekitar 78 persen dari total pendapatan recurring di semster I-2019 dibandingkan dengan 76 persen di semester I-2018.
Pendapatan dari segmen bisnis LPKR Mal & lain-lain naik 4,0 persen menjadi Rp 934 miliar, yang merupakan 21,7 persen dari total pendapatan recurring di semester I-2019 dibanding dengan 23,9 persen di semester I-2018.
Keuntungan sesekali di semester I-2018 merupakan faktor penyebab penurunan pendapatan bisnis development property. Seperti yang dilaporkan, pendapatan development properti pada semester I-2019 turun 37,7 persen menjadi Rp 991 miliar dari Rp 1,590 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Bisnis ini memberikan kontribusi sebesar 18,7 persen dari total pendapatan dibandingkan dengan 29,8 persen di semester I-2018.
Divisi Urban Development membukukan pendapatan sebesar Rp 643 miliar pada semester I-2019 dibandingkan dengan Rp 1,123 triliun setahun yang lalu.
Sementara divisi Large Scale Integrated Development LPKR membukukan pendapatan sebesar Rp 348 miliar dibandingkan dengan Rp 467 miliar.
LPKR membukukan laba bruto yang lebih rendah, yaitu Rp 2,0 triliun dibandingkan dengan Rp 2,4 triliun di semester I-2018 terutama karena laba bruto sektor properti yang lebih rendah sebesar Rp 271 miliar yang merupakan penurunan sebesar 70 persen dibandingkan Rp 913 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara laba bruto bisnis healthcare mencatat pertumbuhan yang sehat sebesar 26,3 persen YoY menjadi Rp 1,1 triliun dari Rp 869 miliar setahun yang lalu
Beban usaha LPKR menurun sedikit menjadi Rp 1,870 triliun dari Rp 1,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terutama disebabkan beban usaha di bisnis properti yang lebih rendah.
Namun sebagian besar diimbangi oleh kenaikan beban usaha bisnis healthcare yang naik sebesar 18,5 persen YoY, sebagai akibat dari pembukaan tiga rumah sakit baru, menjadi 37 rumah sakit pada akhir semster I-2019 dibandingkan dengan 34 rumah sakit.
Selain itu, kenaikan beban usaha di bisnis mal dan lainnya sebesar 12,3 persen YoY.
Adapun EBITDA turun 39,4 perse menjadi Rp 534 miliar dari Rp 882 miliar terutama disebabkan hal-hal yang sifatnya sesekali, dan ini menyebabkan marjin EBITDA yang dilaporkan turun menjadi 10 persen dari 17 persen.
Segmen bisnis healthcare melaporkan pertumbuhan EBITDA yang kuat yang disebabkan oleh pendapatan yang lebih tinggi serta peningkatan kontrol biaya di berbagai lini bisnis.
Pada semester pertama 2019, LPKR memperkuat posisi kasnya dengan saldo kas dan setara kas sebesar Rp 4,6 triliun dibandingkan Rp 1,8 triliun pada akhir tahun 2018. Perusahaan melaporkan total utang sebesar Rp 13,5 triliun dibanding dengan Rp 14,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu atau setahun menurun sebesar Rp 1,37 triliun.
Rasio utang bersih terhadap ekuitas meningkat secara signifikan menjadi 0,30x dibandingkan 0,53x pada akhir tahun 2018.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




