ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Billy Mambrasar Bangkitkan Perekonomian di Papua

Selasa, 19 November 2019 | 16:00 WIB
DA
B
Penulis: Dina Fitri Anisa | Editor: B1
Pencetus organisasi sosial, Kitong Bisa, Billy Mambrasar.
Pencetus organisasi sosial, Kitong Bisa, Billy Mambrasar. (SP/Dina Fitri Anisa)

Jakarta, Beritasatu.com - Pencetus organisasi sosial, Kitong Bisa, Billy Mambrasar (31) mengungkapkan, dirinya memiliki misi memberdayakan anak muda di Papua dan Papua Barat untuk menjadi pebisnis. Menurutnya hal ini dapat membuat anak muda Papua bangkit dari keterbatasan budaya dan mampu berperan aktif dalam perkembangan perekonomian Indonesia.

"Belajar dari Tiongkok, bagaimana mereka memadukan budaya dan inovasi modernitas. Mereka menjadikan budaya sebagai pijakan untuk beranjak ke level berikutnya, bukan membelenggu. Untuk itu, demi menyongsong masa depan, saya ingin bisa mendorong anak Papua menjadi generasi yang hebat tanpa meninggalkan budaya mereka," ungkap Billy saat "Gelar Wicara Ragam Budaya Papua" di Sarinah, Senin (18/11/2019).

Dirinya menilai, banyak masyarakat yang lahir di luar pulau Jawa masih menganggap sebelah mata kemampuan anak-anak asli kelahiran Papua. Bahkan, dirinya pun kerap kali menerima steriotip atau stigma saat berjuang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Diketahui, saat ini, ia sedang dalam proses penyelesaian tesis studi gelar Magister (MSc) dalam bidang bisnis di Universitas Oxford, Inggris. Gelar tersebut merupakan gelar ke tiganya, setelah menyelesaikan studi sarjana di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB dan studi magister di Australian National University (ANU) dengan beasiswa dari Pemerintah Australia dan menjadi mahasiswa terbaik pada 2015

ADVERTISEMENT

Dalam waktu dekat, ia juga akan melanjutkan pendidikan doktor dengan beasiswa afirmasi dari LPDP di Universitas Harvard, Amerika Serikat, dalam bidang pembangunan manusia.

"Saat masuk ITB, saya selalu ditanya apakah saya masuk melalui jalur khusus? Padahal orang tua saya menabung dengan keras, agar saya bisa mengikuti tes bersama peserta reguler lainnya untuk masuk ke sana. Saya lahir dari keluarga miskin, bahkan untuk bertahan hidup saya berjualan kue di pasar. Namun saya yakin, semua orang terlahir dengan ekualitas yang sama," ungkapnya.

Untuk itulah, sejak 10 tahun lalu ia membangun sebuah organisasi sosial yang diberi nama Kitong Bisa.

Kitong Bisa bermula dari sebuah kegiatan belajar mengajar yang diberikan secara cuma-cuma untuk membantu mereka sebagian anak-anak Papua tepatnya di kampung halamannya, Serui.

Fokus Mendidik
Billy mendirikan Kitong Bisa terinspirasi dari perjalanan hidupnya sendiri yang merasakan menjadi anak Papua yang ingin memiliki pendidikan dan mampu berdaya saing maksimal, tidak hanya di level nasional melainkan juga internasional.
Untuk itu, melalui Kitong Bisa Learning Center (KBLC) timnya mulai membekali kurikulum sederhana di beberapa kawasan, seperti Yapen, Jayapur, Merauke, and Fakfak. Di dalamnya mengajarkan kemampuan bahasa Inggris, komputer dan internet, kepedulian lingkungan, komunikasi dan kepemimpinan.

Melebarkan program yang ada, ia pun mendirikan Kitong Bisa Enterprise (KBE). Sebuah layanan yang berfokus dalam mendidik, dan memberdayakan anak-anak muda yang terpinggirkan di Indonesia, untuk memiliki mata pencaharian yang lebih baik. Telah berjalan selama kurun waktu tiga tahun, KBE telah memproduksi dan menjual ratusan unit produk baik secara nasional maupun internasional.

Salah satu pembuktiannya adalah anak didik dari KBE berhasil memenangkan kompetisi start up di acara Simposium Internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia 2019. Dengan semangat mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatan kapasitas SDM di Papua dan Papua Barat, mereka berhasil menyingkirkan 33 peserta.

Dirinya pun berharap, kinerja para generasi di Papua bisa dilibatkan untuk pembangunan negara. Ia pun menekankan, di Papua bukan hanya melimpah sumber daya alam dan juga pemandangan yang indah, tetapi juga ada generasi muda yang tumbuh untuk menjadi mitra pembangunan yang tepat.

"Saat ini banyak anak muda Papua yang tidak berpikir ingin masuk PNS, atau pun menjadi pejabat negara. Mereka semua sibuk memikirkan usaha yang mereka bangun. Program-program ini akan terus dilanjutkan, dan 12 bulan mendatang kami menargetkan untuk membangun 100 start up yang dibuat oleh anak-anak Papua," tukasnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon