Grant Thornton Rangkum Plus Minus Transaksi Non-Tunai

Grant Thornton Rangkum Plus Minus Transaksi Non-Tunai
Model menunjukan contoh kartu Flazz BCA edisi Bali Run 2017 di sela-sela kampanye Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) di Denpasar, Bali, Minggu (1/10/2017). Kampanye menerapkan 100 persen transaksi non tunai di jalan tol tersebut merupakan komitmen dukungan untuk melayani transaksi di seluruh ruas tol di Bali. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal ( Foto: BeritaSatu Photo / mohammad defrizal )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Senin, 25 November 2019 | 14:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Banyak masyarakat yang belum sadar telah menjadi bagian dari cashless society dalam kehidupan sehari-hari mereka. Perkembangan teknologi yang kian pesat melahirkan cashless society, dimana istilah ini lahir dari kondisi berkurangnya penggunaan uang fisik karena tergantikan uang digital atau e-money.

Masyarakat menyambut sistem transaksi non tunai ini dengan eforia, didukung oleh banyaknya promo yang diberikan oleh penyedia layanan uang digital untuk mendorong penetrasi penggunaan di masyarakat.

Hampir setiap hari transaksi keuangan sudah mulai berganti menggunakan uang digital baik berbentuk kartu debit maupun kredit hingga aplikasi e-wallet yang dengan mudahnya diakses melalui smartphone, berbagai transaksi seperti pembayaran transportasi umum, membayar tol, membayar parkir, belanja kebutuhan harian dengan kartu kredit maupun debit semakin menguatkan cashless society di masyarakat.

Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia mengatakan transaksi digital tentunya sangat diperlukan untuk beradaptasi dengan perubahan di luar sana. Namun sebaiknya isi saldo pada dompet digital disesuaikan dengan kebutuhan agar tidak lepas kontrol atas pengelolaan keuangan pribadi karena kunci utamanya bukan pada produk namun bagaimana masyarakat menggunakan dan mengelola uang mereka.

“Walaupun cashless society telah menjadi gaya hidup masa kini, tidak ada salahnya tetap menyiapkan uang tunai untuk kebutuhan-kebutuhan transaksi yang belum tersentuh sistem pembayaran digital sehingga transaksi menjadi lebih mudah dengan dua pilihan pembayaran tersebut.” saran Johanna.

Grant Thornton Indonesia merangkum 3 hal penting yang perlu diketahui masyarakat terkait cashless society

"Ini untuk mendapat pandangan menyeluruh terkait transaksi non-tunai dibandingkan dengan transaksi tunai yang tentunya selalu ada plus-minus diantara keduanya," tulis Grant Thornton dalam keterangannya, Senin (25/11/2019).

Pertama, beragam promo menarik vs konsumtif.  Promo menjadi strategi paling ampuh untuk menarik minat masyarakat menggunakan uang digital, berbagai penyedia layanan uang digital berlomba memberikan promo seperti potongan harga hingga cashback besar-besaran.

Tentunya menguntungkan jika kita belanjakan untuk produk yang memang kita perlukan namun tanpa disadari kemudahan ini juga membuat masyarakat kian konsumtif yang pada akhirnya hanya menjadi pembelian impulsif karena tergoda diskon hingga pengeluaran menjadi tak terkendali.

Kedua, transaksi lebih cepat vs masalah sinyal. Transaksi dengan nilai besar tentunya akan memakan waktu lebih lama dengan perlunya pihak tenant menghitung uang dahulu, belum lagi menunggu uang kembalian yang kadang tidak tersedia pecahannya di kasir, dengan transaksi cashless proses tersebut dapat menjadi jauh lebih mudah dan cepat dengan tinggal gesek kartu pada mesin EDC ataupun scan barcode.

Namun pernahkah terbayang jika mesin-mesin tersebut atau smartphone Anda mengalami kesulitan signal? Otomatis pembayaran tidak bisa dilakukan jika tidak membawa uang tunai hingga ada resiko transaksi justru menjadi lebih lama atau bahkan terpaksa membatalkan pembelian.

Ketiga, terhindar dari perampokan vs serangan siber. Kartu maupun aplikasi uang digital didalam smartphone tentunya memiliki pin dan password yang menjadikan keamanan lebih ekstra .Disamping itu membawa uang dalam jumlah banyak dalam tas ataupun dompet dapat menarik perhatian yang beresiko mengundang aksi kriminal menjadi salah satu poin menarik bertransaksi cashless.

Namun perlu dipahami juga secanggih apapun teknologi yang digunakan pada sistem uang digital tetap saja ada celah yang memungkinkan terjadinya serangan siber termasuk pencurian data dengan resiko tinggi kehilangan uang karena data diretas pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

 



Sumber: BeritaSatu.com