ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Atasi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Kembangkan UMKM di Selatan Jabar

Minggu, 1 Desember 2019 | 21:26 WIB
SH
B
Penulis: Siprianus Edi Hardum | Editor: B1
Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM,  Rully Indrawan (tengah) berbicara dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bertema
Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Rully Indrawan (tengah) berbicara dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bertema "Wirausaha Pemula vs Pembiayaan", di Kota Bandung, Jumat (24/5/2019). (istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Rully Indrawan mengatakan, saat ini masih terjadi
ketimpangan yang luar biasa di Selatan Jawa Barat. Kondisi tersebut, dinilai cukup memprihatinkan bila dibandingkan dengan kondisi di Jawa Barat Utara.

Tidak hanya itu, kata Rully, angka kemiskinan di Selatan Jawa Barat, juga terbilang cukup tinggi ketimbang di Utara, Jawa Barat. Tidak heran bila Selatan Jawa Barat menjadi fokus utama Pemerintah Daerah Jawa Barat dalam mengentaskan persoalan tersebut.

"Kalau kita lihat peta statistik, angka kemiskinan yang terjadi di Selatan Jabar memang cukup tinggi dibandingkan dengan Utara Jabar. Karenanya, persoalan yang terjadi di Selatan Jabar, menjadi fokus utama bagi pemerintah daerah Jabar," ujar Rully, saat menjadi pembicara dalam seminar nasional "Implementasi Perda Nomor 28 Tahun 2010 tentang Pembangunan Wilayah Selatan Jabar Tahun 2020-2029" dengan tema Pengembangan Ekonomi Masyarakat Selatan Jabar, di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (30/11/2019).

Acara yang digelar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini, juga dihadiri Ketua Umum ICMI, Jimly Asshiddiqie, dan Ketua ICMI Orwil Jabar, M Najib.

ADVERTISEMENT

Menurut Rully, persoalan itu sesungguhnya bisa diatasi melalui kebijakan. Sayangnya, kata dia, hingga saat ini kebijakan tersebut dinilai masih belum berpihak kepada sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

"Makanya kemarin Pak Jokowi agak nyemprot kepada bank nasional kita. Padahal, sektor UMKM berkontribusi besar kepada perekonomian secara nasional. Makanya ada anekdot bahwa UMKM itu disebut 'usaha maneh kumaha maneh'. Yang artinya usaha kamu bagaimana kamu," ujar Rully.

Padahal, katanya, bila dibandingkan dengan negara lain, seperti di Jepang, Singapura, atau di Korea, besarnya kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan perekonomian negaranya, didukung oleh kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada UMKM.

"Kalau mau jujur, masalah yang sangat serius dalam urusan keberpihakan adalah menyangkut nasib UMKM. Dimana UMKM yang menikmati dana perbankan dengan kebijakannya, baru sekitar 12% saja dari jumlah UMKM yang ada di Indonesia. Selebihnya pembiayaan UMKM kita berasal dari rentenir," katanya.

Menurut Rully, semua itu merupakan persoalan UMKM yang dihadapi saat ini, tidak hanya terjadi di Jawa Barat, tapi persoalan hampir sama juga dihadapi di seluruh Indonesia. Terutama menyangkut birokrasi, bukan infrastruktur, khususnya terkait masalah perizinan.

"Persoalan UMKM nasional kita, ternyata bukan pada modal atau pembiayaan, bukan juga persoalan infrastruktur, tetapi menyangkut persoalan birokrasi. Pak Jokowi, dalam berbagai kesempatan sering menyinggung soal lamanya pengurusan perijinan. Di luar negeri, pengurusan perijinan cukup membutuhkan hitungan hari, bahkan cukup dengan hitungan jam, tapi di Indonesia memakan waktu berminggu-minggu, lama dan 'mahal'," ujarnya menambahkan.

Ke depan, katanya, diharapkan pengurusan perizinan tidak perlu memakan waktu lama, dan yang terpenting tidak dipungut biaya alias gratis. Sebab, kata Rully, bila ingin menunjukkan mengembangkan UMKM di Indonesia, perlu difasilitasi seperti itu.

Pada kesempatan tersebut, Rully juga menjawab sejumlah pertanyaan dari peserta seminar terkait upaya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Koperasi dan UKM dalam pengambangan koperasi dan UMKM, khususnya di Jawa Barat.

Menurut Rully, seiring dengan era revolusi industri 4.0 saat ini, muncul tren ekonomi kolaborasi atau ekonomi berbagi, dimana melibatkan banyak pihak yang mendapatkan manfaat dari suatu kegiatan ekonomi.

"Jadi, berdirinya koperasi, saat ini tak lagi top down seperti zaman dulu, namun lebih karena adanya kebutuhan untuk bekerja sama membantu dirinya melalui suatu kelompok. Terhadap kelompok masyarakat atau pekerja yang belum tergerak mendirikan koperasi, yang bisa kita lakukan adalah memberikan sosialisasi dan pendidikan apa itu koperasi dan bagaimana bisa mendapatkan manfaat dari sebuah koperasi," kata Rully.

Dia mengatakan, dunia yang berubah dan penuh dengan disrupsi ini, harus direspon dengan berbeda. Sepuluh tahun lalu, katanya, tak pernah terbayang profesi tukang ojek semenarik hari ini. Juga tak pernah terbayang bila istilah driver memiliki konotasi yang positif daripada sopir zaman dulu.

"Aplikasi sharing economy telah merubahnya. GoJek, Grab, Uber lahir dan hal-hal yang tak terbayangkan itu menjadi nyata di depan mata. Dulu mencari informasi hotel yang sesuai dengan budget harus kita lakukan dengan telpon sana sini. Dunia berubah dan menawarkan website untuk setiap hotel," katanya.

"Di pulau Bali sana salah satu koperasi mulai menjajaki modus itu. KSP TEB Artha Mulia yang berdiri pada 2014, telah terhubung (interconnected) dengan sebelas koperasi lain di sana. Hasilnya sangat menggembirakan. Statistik anggota dan asetnya meningkat tajam. Dengan aplikasi berbasis Android anggota dilayani," katanya.

Pada kesempatan itu, Rully juga menyinggu soal anggapan masyarakat terkait keberadaan koperasi. Selama ini, kata dia, masyarakat selalu menganggap bahwa koperasi merupakan usaha yang gurem, lemah, terbelakang.

"Kita harus bergegas untuk mengubah pola pikir klasik dan klise, yang memandang koperasi sebagai bangun usaha yang kumel, gurem, lemah, dan terbelakang, sehingga koperasi pantas menjadi objek belas kasihan," katanya menambahkan.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

202 Atlet Ramaikan Kejurnas Gimnastik Junior-Senior 2026

202 Atlet Ramaikan Kejurnas Gimnastik Junior-Senior 2026

SPORT
Jawa Barat Tetapkan 18 Mei Hari Tatar Sunda, Ini Alasannya

Jawa Barat Tetapkan 18 Mei Hari Tatar Sunda, Ini Alasannya

JAWA BARAT
Jakarta, Banten, dan Jabar Deklarasikan Aglomerasi Jabodetabekpunjur

Jakarta, Banten, dan Jabar Deklarasikan Aglomerasi Jabodetabekpunjur

JAKARTA
RUPST Tahun Buku 2025 Bank BJB

RUPST Tahun Buku 2025 Bank BJB

MULTIMEDIA
Depok Siap Jadi Tuan Rumah Porprov XV Jawa Barat 2026

Depok Siap Jadi Tuan Rumah Porprov XV Jawa Barat 2026

JAWA BARAT
Pemprov Jabar Wajibkan Kendaraan Listrik Bayar Pajak

Pemprov Jabar Wajibkan Kendaraan Listrik Bayar Pajak

JAWA BARAT

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon