Minimnya Pengawasan Membuat Kasus Jiwasraya Berlarut-larut

Minimnya Pengawasan Membuat Kasus Jiwasraya Berlarut-larut
Ilustrasi Jiwasraya. (Foto: Antara / Galih Pradipta)
/ WBP Senin, 20 Januari 2020 | 09:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kasus dugaan penyimpangan investasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) tak lepas dari lengahnya pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator.

“OJK punya tugas dan tanggung jawab mengawasi bisnis keuangan," ujar anggota Komisi VI DPR Fraksi Gerindra, Khilmi saat dihubungi wartawan, Senin (20/1/2020).

OJK, kata dia, merupakan lembaga yang mempunyai wewenang untuk mengevaluasi investasi PT Asuransi Jiwasraya ketika ada indikasi masalah. Sayangnya OJK tidak bertindak. Hingga akhirnya kerugian membesar dan tidak bisa diselesaikan oleh internal Jiwasraya. “Selama ini OJK membiarkanya saja,” kata Khilmi.

Politikus Partai Gerindra ini mengaku khawatir dengan bisnis keuangan di Indonesia saat ini menyusul lemahnya pengawasan regulator.

Sementara politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani mempertanyakan peran OJK dalam pengawasan perusahaan asuransi. Menurut dia, sistem pengawasan lembaga keuangan seperti asuransi ada pada OJK, meski ada dewan asuransi. Dia menganggap, meski sudah gaduh, OJK seolah diam tak menjelaskan secara rinci kasus itu sampai lolos dari pengawasannya. Dia juga mempertanyakan sikap OJK yang tidak segarang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap perusahaan pelat merah itu. "Dimana akuntabilitas mereka sebagai lembaga pengawas?" tanya Asrul Sani.

Anggota BPK Achsanul Qosasi memastikan akan memeriksa OJK terkait peran pengawasan yang tidak berjalan dalam kasus Jiwasraya. Dengan begitu, diharapkan bisa ditelisik lebih jauh pihak yang bertanggungjawab dan evaluasi sehingga kasus serupa tidak terjadi lagi.

Diketahui, dalam kasus hukumnya Kejaksaan Agung telah memeriksa sejumlah saksi penting dalam menelusuri kasus tersebut. Kejagung telah memeriksa enam saksi yakni Iwan Gurnari Direktur PT Pan Acradia Asset Managemen, Arifadhi Soesilarto mantan Direktur Pemasaran PT GAP Asset Managemen, Ferro Budimailano Direktur PT Pool Advista Asset Managemen, Ferry Kojongian Direktur PT MNC Asset Managemen, Alex Setyawan WK Direktur PT Sinar Mas Asset Managemen, Ratna Putpitasari mantan Marketing PT GAP Asset Managemen.

Selain memeriksa saksi, Kejagung juga telah menetapkan lima orang sebagai tersangka. Kelimanya adalah Komisaris PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro, Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) Heru Hidayat. Kemudian mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Harry Prasetyo, mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim dan mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT Jiwasraya Syahmirwan.



Sumber: BeritaSatu.com