ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Dukungan Regulasi

Aset Bank RI Capai Rp 5.000 Triliun Pada 2013

Senin, 16 Juli 2012 | 09:25 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution (kiri) didampingi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman Hadad (kanan), memberikan keterangan pers seusai Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia triwulan II 2012 di Jakarta, Kamis (12/7). Gubernur BI menyatakan pertumbuhan ekonomi nasional 2012, akan menurun akibat tekanan luar negeri khususnya krisis Eropa dan belum pulihnya ekonomi AS
Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution (kiri) didampingi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman Hadad (kanan), memberikan keterangan pers seusai Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia triwulan II 2012 di Jakarta, Kamis (12/7). Gubernur BI menyatakan pertumbuhan ekonomi nasional 2012, akan menurun akibat tekanan luar negeri khususnya krisis Eropa dan belum pulihnya ekonomi AS (Antara)
Sepanjang 2011, total aset perbankan nasional tercatat tumbuh 45,13 persen

Kalangan bankir optimistis total aset perbankan nasional bakal menembus Rp 5.000 triliun pada akhir 2013, dari posisi Mei 2012 sebesar Rp 3.827,4 triliun.

Potensi pertumbuhan industri perbankan Indonesia masih terbuka luas, mengingat penetrasinya terhadap produk domestik bruto (PDB) masih rendah, baik di sektor perkreditan maupun pendanaan.

Dengan aset yang besar, peranan industri perbankan nasional dalam perekonomian bisa diperbesar. Oleh karena itu, para bankir membutuhkan regulasi dan kondisi makro ekonomi yang kondusif.

Demikian rangkuman pendapat dari Ketua Umum Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) Gatot M Suwondo, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja, Direktur ICBC Bank Indonesia Sandy T Muliana, Direktur Korporasi PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) Frans Rahardja Alimhamzah, dan pengamat perbankan Mirza Adityaswara. Mereka dihubungi Investor Daily secara terpisah, Sabtu (14/7).

Sepanjang 2011, total aset perbankan nasional tercatat tumbuh 45,13 persen (Rp 1.135,82 triliun) menjadi Rp 3.652 triliun, sekaligus menjadi pertumbuhan terbesar dalam sejarah negeri ini.

Dengan asumsi per tumbuhan 20 persen per tahun, aset perbankan nasional pada Mei 2013 bisa mencapai Rp 4.593 triliun.

Bila tembus Rp 5.000 triliun pada akhir 2013, aset perbankan nasional kian setara dengan Malaysia, sekaligus bisa mengejar Singapura.

Per Desem ber 2011, total aset perbankan Malaysia tercatat US$ 562,5 miliar (Rp 5.100,9 triliun), Singapura Rp 6.009 triliun, dan Thailand Rp 3.731,5 triliun.

Di sisi lain, ruang bagi perbankan Malaysia dan Singapura untuk ekspansi semakin sempit, mengingat rasio kredit dan simpanan terhadap PDB yang sudah di atas 100 persen.

Di Singapura, rasio kredit dan simpanan terhadap PDB mencapai 128,64 persen dan 147,88 persen, Malaysia 117,68 persen dan 152,42 persen, Thailand 80,42 persen dan 74,62 persen, sedangkan Indonesia baru 29,62 persen dan 37,5 persen.

Saat ini, menurut Gatot Suwondo, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum menggunakan jasa perbankan. Mereka masih menabung di bawah bantal.

“Untuk itu, industri perbankan perlu memacu penetrasi perbankan hingga ke daerah perdesaan, salah satunya melalui program financial inclusion,” jelas dia.

Dengan pertumbuhan ekonomi 6,3 persen, Sandy Muliana yakin, total aset perbankan Indonesia sangat mungkin menembus Rp 5.000 triliun, terlebih lagi perekonomian Asia masih positif.

Namun, industri perbankan juga membutuhkan regulasi yang mendukung. “Perbankan tentu akan meningkatkan fungsi intermediasinya ke sektor produktif untuk menggerakkan per- ekonomian,” tutur dia.

Frans Rahardja optimistis peranan perbankan kian besar, ketika sudah menjadi jawara di Asean. Dia juga yakin aset perbankan bisa menembus Rp 5.000 triliun, namun tidak untuk pendanaan.

“Selama 3-4 tahun belakangan, pertumbuhan aset selalu lebih cepat dari pertumbuhan DPK,” ujar Frans.

Menurut Frans, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mewajibkan penempatan devisa hasil ekspor (DHE), di perbankan domestik dapat membantu per tumbuhan DPK.

Terlebih lagi, BI telah menyiapkan instrumen swap jual/beli bagi bank.

 “Kami berharap BI terus mendorong penempatan devisa hasil ekspor di bank dalam negeri. Kita harus bisa bersaing dan tidak kalah kelas dengan bank- bank luar negeri, karena kita negara besar dengan populasi terbesar di Asean,” ujar Frans.

Sebelumnya, Gubernur BI Darmin Nasution menyatakan, pelemahan perekonomian dunia mulai berdampak pada kinerja ekspor, sehingga ekonomi nasional tumbuh lebih rendah dari prakiraan sebelumnya.

BI mem- perkirakan, pertumbuhan ekonomi pada kuar tal III-2012 hanya berkisar 6,3 persen. Meski begitu, per tumbuhan kredit hingga Mei lalu masih mencapai 26,3 persen dengan rincian kredit investasi tumbuh 29,3 persen, kredit modal kerja 28,9 persen dan kredit konsumsi 20,3 persen
.
2020 Jawara Asean

Jahja Setiaatmadja dan Mirza Adityaswara optimistis, peranan perbankan nasional bisa bertambah besar dengan pertumbuhan ekonomi yang baik.

Namun, Jahja tidak bisa memprediksi apakah perbankan Indonesia mampu menjadi jawara Asean pada 2020.

Sebaliknya, Mirza yakin total aset perbankan Indonesia bakal menjadi yang terbesar di Asean seiring dengan PDB nasional yang besar.

“Masalah paling krusial adalah stabilitas ekonomi dan stabilitas perbankan, termasuk penambahan modal. Dengan modal yang kuat, perbankan dapat berekspansi lebih besar,” jelas Mirza.

Roosniati Salihin sependapat, kekuatan modal dan kecukupan likuiditas merupakan masalah krusial di tengah ketidakpastian ekonomi dunia saat ini.

“Perekonomian nasional akan terkena dampaknya dan perbankan sebagai fungsi intermediasi tergan- tung kepada hal-hal itu,” papar dia.

Sebenarnya, menurut Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah, aset perbankan nasional pada 2011 sudah mencapai 81,7 persen terhadap total sektor keuangan.

Namun, rasio kredit terhadap PDB masih di bawah 30 persen. Kondisi itu berbeda dengan negara-negara lain, terutama Amerika Serikat dan Inggris. Di kedua negara itu, aset bank hanya sekitar 45-47 persen dari total sektor ke uangan, karena pasar modal lebih dominan memberikan pembiayaan untuk sektor riil.

“Kelihatannya sampai 30 tahun ke depan, pangsa perbankan di Indonesia masih akan dominan,” tukas Halim.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon