Pemerintah Siapkan Rp5 T Revitalisasi Tanaman Karet
Senin, 16 Juli 2012 | 18:07 WIB
Peremajaan karet setiap tahun selalu dilakukan, namun jumlahnya tidak terlalu besar.
Peremajaan karet setiap tahun selalu dilakukan, namun jumlahnya tidak terlalu besar.
Pemerintah tengah memfinalisasi pelaksanaan gerakan nasional (Gernas) peremajaan tanaman karet dengan anggaran sekitar Rp5 triliun untuk tiga tahun ke depan.
"(Gernas karet) sudah digodog. Sekarang di tingkat kebijakan. Semoga tahun depan sudah bisa dilaksanakan," kata Direktur Tanaman Tahunan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Rismansyah Danasaputra di sela diskusi karet di Jakarta, hari ini.
Rismansyah menjelaskan, gernas membutuhkan anggaran cukup besar karena akan dilaksanakan serempak. Saat ini, kebun karet yang harus diremajakan seluas 300 ribu hektare (ha). Dari total jumlah itu, 50 ribu ha akan diintesifikasi.
Peremajaan karet setiap tahun selalu dilakukan, Namun, jumlahnya tidak terlalu besar, sekitar 10-15 ribu hektare (ha) per tahun saja yang mampu dibiayai Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Luasan tersebut jauh di bawah kebutuhan peremajaan yang mencapai ratusan ribu ha per tahun.
Dalam gernas, pemerintah akan memberikan bantuan benih, pupuk, dan alat-alat pertanian. Pemerintah juga akan memanfaatkan pengalaman pelaksanaan gernas kakao untuk karet.
Menutur dia, Gernas karet bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani karena produktivitas saat ini sangat rendah menyusul umur tanaman yang sudah tua.
Produktivitas karet nasional pada 2011 mencapai 900 ribu kg per ha. Angka itu masih jauh di bawah produktivitas karet Thailand yang mencapai 2,6 ton per ha. Total luas lahan kebun karet di Indonesia saat ini 3,4 juta ha dengan produksi 2,8 juta ton tahun lalu.
"Ke depan, produktivitas diharapkan naik menjadi 1,2 juta ton per ha," papar atase pertanian Indonesia di Jepang itu.
Selain itu, lanjut dia, gernas karet dimaksudkan untuk meningkatkan devisa dari ekspor karet. Saat ini, 80 persen produksi karet nasional dialokasikan untuk ekspor. Hingga akhir 2011, Indonesia mengekspor 2,3 juta ton senilai US$3,7 miliar.
"Harga karet memang berfluktuasi. Sekarang harga turun. Mungkin nanti produksi Thailand turun karena tanaman tua sehingga kita bisa mengisi," ujar dia.
Peremajaan karet setiap tahun selalu dilakukan, namun jumlahnya tidak terlalu besar.
Pemerintah tengah memfinalisasi pelaksanaan gerakan nasional (Gernas) peremajaan tanaman karet dengan anggaran sekitar Rp5 triliun untuk tiga tahun ke depan.
"(Gernas karet) sudah digodog. Sekarang di tingkat kebijakan. Semoga tahun depan sudah bisa dilaksanakan," kata Direktur Tanaman Tahunan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Rismansyah Danasaputra di sela diskusi karet di Jakarta, hari ini.
Rismansyah menjelaskan, gernas membutuhkan anggaran cukup besar karena akan dilaksanakan serempak. Saat ini, kebun karet yang harus diremajakan seluas 300 ribu hektare (ha). Dari total jumlah itu, 50 ribu ha akan diintesifikasi.
Peremajaan karet setiap tahun selalu dilakukan, Namun, jumlahnya tidak terlalu besar, sekitar 10-15 ribu hektare (ha) per tahun saja yang mampu dibiayai Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Luasan tersebut jauh di bawah kebutuhan peremajaan yang mencapai ratusan ribu ha per tahun.
Dalam gernas, pemerintah akan memberikan bantuan benih, pupuk, dan alat-alat pertanian. Pemerintah juga akan memanfaatkan pengalaman pelaksanaan gernas kakao untuk karet.
Menutur dia, Gernas karet bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani karena produktivitas saat ini sangat rendah menyusul umur tanaman yang sudah tua.
Produktivitas karet nasional pada 2011 mencapai 900 ribu kg per ha. Angka itu masih jauh di bawah produktivitas karet Thailand yang mencapai 2,6 ton per ha. Total luas lahan kebun karet di Indonesia saat ini 3,4 juta ha dengan produksi 2,8 juta ton tahun lalu.
"Ke depan, produktivitas diharapkan naik menjadi 1,2 juta ton per ha," papar atase pertanian Indonesia di Jepang itu.
Selain itu, lanjut dia, gernas karet dimaksudkan untuk meningkatkan devisa dari ekspor karet. Saat ini, 80 persen produksi karet nasional dialokasikan untuk ekspor. Hingga akhir 2011, Indonesia mengekspor 2,3 juta ton senilai US$3,7 miliar.
"Harga karet memang berfluktuasi. Sekarang harga turun. Mungkin nanti produksi Thailand turun karena tanaman tua sehingga kita bisa mengisi," ujar dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




