Peneliti: Krisis Kedelai Mainan Kepentingan Kapitalis
Senin, 30 Juli 2012 | 06:18 WIB
"Secara sistem mereka telah berhasil 'mengalahkan' proteksi negara," kata Peneliti Kelompok Studi Perdesaan UI Nia Elvina.
Krisis kedelai yang kini terjadi di Indonesia diperdiksi adalah suatu kebijakan yang didasarkan untuk "melegalkan" kepentingan-kepentingan kapitalis besar.
"Secara sistem mereka telah berhasil 'mengalahkan' proteksi negara terhadap pengenaan bea impor kedelai," kata Peneliti Kelompok Studi Perdesaan Universitas Indonesia (UI) Nia Elvina, di Jakarta, hari ini.
Menurut dia, jelas tidak masuk akal jika koperasi akan menang ketika berkompetisi dengan mereka. "Dan yang sangat menyedihkan dan memperihatinkan untuk memuluskan tujuan mereka, para kapitalis ini selalu mengorbankan masyarakat kelas bawah," ungkap dia.
Dikemukan Nia, "sweeping" yang terjadi beberapa saat yang lalu dilakukan pedagang-pedangang kecil yang notabenenya kelas bawah. Setelah sistem mereka kuasai, lanjut dia, sekarang juga untuk ranah hilirnya mereka sedang mengenalkan varietas baru bibit kedelai yang tahan terhadap kekeringan.
"Jika pemerintah kita tidak sensitif melihat hal ini, maka nanti petani kita khususnya kedelai akan semakin tergantung dengan produk luar," tutur dia.
Sekretaris Program Ilmu Sosiologi Universitas Nasional (Unas) itu melihat bahwa sebenarnya petani Indonesia dikenal sebagai petani pemulia tanaman juga. Artinya, kata dia, petani bisa membuat bibit sendiri.
Tetapi yang paling substansial, katanya, pemerintah harus menyadari akan hal ini. Untuk itu, ia menilai bahwa peranan Bulog dalam hal ini harus ditinjau kembali.
"Proteksi negara terhadap kebutuhan rakyat itu harus tetap dipertahankan, dan masyarakatpun harus perduli akan isu ini. Bahu-membahu untuk memajukan bangsa ini," tandas dia.
Krisis kedelai yang kini terjadi di Indonesia diperdiksi adalah suatu kebijakan yang didasarkan untuk "melegalkan" kepentingan-kepentingan kapitalis besar.
"Secara sistem mereka telah berhasil 'mengalahkan' proteksi negara terhadap pengenaan bea impor kedelai," kata Peneliti Kelompok Studi Perdesaan Universitas Indonesia (UI) Nia Elvina, di Jakarta, hari ini.
Menurut dia, jelas tidak masuk akal jika koperasi akan menang ketika berkompetisi dengan mereka. "Dan yang sangat menyedihkan dan memperihatinkan untuk memuluskan tujuan mereka, para kapitalis ini selalu mengorbankan masyarakat kelas bawah," ungkap dia.
Dikemukan Nia, "sweeping" yang terjadi beberapa saat yang lalu dilakukan pedagang-pedangang kecil yang notabenenya kelas bawah. Setelah sistem mereka kuasai, lanjut dia, sekarang juga untuk ranah hilirnya mereka sedang mengenalkan varietas baru bibit kedelai yang tahan terhadap kekeringan.
"Jika pemerintah kita tidak sensitif melihat hal ini, maka nanti petani kita khususnya kedelai akan semakin tergantung dengan produk luar," tutur dia.
Sekretaris Program Ilmu Sosiologi Universitas Nasional (Unas) itu melihat bahwa sebenarnya petani Indonesia dikenal sebagai petani pemulia tanaman juga. Artinya, kata dia, petani bisa membuat bibit sendiri.
Tetapi yang paling substansial, katanya, pemerintah harus menyadari akan hal ini. Untuk itu, ia menilai bahwa peranan Bulog dalam hal ini harus ditinjau kembali.
"Proteksi negara terhadap kebutuhan rakyat itu harus tetap dipertahankan, dan masyarakatpun harus perduli akan isu ini. Bahu-membahu untuk memajukan bangsa ini," tandas dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




