ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Menkeu: Impor Barang Sulit Dihindari

Jumat, 10 Agustus 2012 | 14:50 WIB
AH
B
Penulis: Antara/ Ayyi Achmad Hidayah | Editor: B1
Menteri Keuangan Agus Martowardojo
Menteri Keuangan Agus Martowardojo (Antara)
Jadi kalau impor yang terkait dengan barang modal dan bahan baku, itu memang tidak dapat dihindarkan

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengakui pemerintah kesulitan menghindari tingginya impor barang modal dan bahan baku yang mengakibatkan besarnya defisit transaksi berjalan sampai triwulan II tahun 2012.

"Jadi kalau impor yang terkait dengan barang modal dan bahan baku, itu memang tidak dapat dihindarkan. Dan pasti ada periode antara barang modal diimpor dan kemudian dihasilkan. Nah, kita juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan agar investasi-investasi itu dilakukan dengan porsi untuk bisa melakukan ekspor. Sehingga kembali neraca perdagangan kita dapat lebih terkendali," katanya usai Rakor menteri-menteri bidang ekonomi dengan Bank Indonesia di Gedung BI Jakarta, hari ini.

Menurut Menkeu, pemerintah sangat memperhatikan kondisi membengkaknya defisit transaksi berjalan yang diakibatkan tingginya impor di tengah arus ekspor yang melemah akibat turunnya permintaan global.

"Kita ingin meyakini bahwa upaya-upaya untuk ekspor itu bisa terus baik, upaya membuka pasar baru dijalankan. Kebijakan-kebijakan untuk membuat ekspor itu lebih lancar, dan lebih baik akan terus dilakukan dan juga langkah-langkah untuk pengendalian impor," katanya.

Sementara itu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa dalam kesempatan itu mengatakan, tingginya laju impor terutama untuk barang modal hanya bersifat sementara karena besarnya kebutuhan investasi dalam negeri.

"Tadi kita analisa bahwa memang itu ada karena impor kita terutama barang modal meningkat, akan tetapi itu bersifat sementara karena capital goods yang kita gunakan itu pada akhirnya akan meningkatkan produktifitas dan mendorong ekspor kita," katanya.

Mengenai langkah yang akan dilakukan menurunkan defisit transaksi berjalan, Hatta mengatakan yang terutama adalah mengendalikan impor migas dengan pengurangan penggunaan BBM bersubsidi.

"Jadi kebijakan pengendalian BBM bersubsidi penting untuk dijalankan," katanya.

Tingginya laju impor di tengah ekspor yang lesu diperkirakan akan mengakibatkan membengkaknya transaksi berjalan sehingga defisit neraca pembayaran Indonesia pada triwulan II akan semakin besar. BI akan mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia triwulan II pada Jumat sore ini.

Tingginya impor belakangan ini, terdiri atas 72 persen barang baku, 7 persen barang konsumsi, dan 21 persen barang modal.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

BPS: Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,18 Persen

BPS: Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,18 Persen

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon