Produsen Karet Sepakat Kurangi Ekspor 300 Ribu Ton
Kamis, 23 Agustus 2012 | 17:37 WIB
Sudah ada kesepakatan awal ITRC (International Tripartite Rubber Council) soal itu, meski pembicaraan masih akan dilanjutkan untuk memastikan kebijakan itu
Tiga negara produsen karet dunia Indonesia, Thailand dan Malaysia sepakat mengurangi ekspor karet alam hingga 300 ribu ton untuk mengangkat harga komoditas itu yang terus anjlok di bawah US$3 per kilogram.
"Sudah ada kesepakatan awal ITRC (International Tripartite Rubber Council) soal itu, meski pembicaraan masih akan dilanjutkan untuk memastikan kebijakan itu termasuk waktu pelaksanaanya hingga jumlah pemangkasan untuk masing-masing negara," kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, di Medan, hari ini.
Dalam keterangan Sekretariat ITRC di Bangkok, Thailand, 15 Agustus lalu, kata dia, disepakati juga untuk melakukan peremajaan atau replanting seluas 100.000 hektare yang diperkirakan bisa mengurangi produksi hingga 150.000 ton sehingga pengurangan ekspor mencapai 450.000 ton.
Dengan semakin sedikitnya ekspor dan produksi, maka diharapkan harga karet bisa naik meski permintaan diragukan masih lemah akibat dampak krisis global.
"Gapkindo Sumut siap melaksanakan kebijakan itu karena harga karet yang terus turun bukan hanya menyusahkan eksportir tetapi juga petani," katanya.
Kesulitan petani karet mengkhawatirkan Gapkindo akan beralihnya lagi petani ke tanaman sawit .
"Jangan sampai produksi karet terus menurun karena membahayakan ekspor komoditas itu," katanya.
Kesepakatan Indonesia, Malaysia dan Thailand dalam kebijakan implementasi dari Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) dan Supply Management Scheme (SMS) itu sudah direncanakan sejak harga jatuh beberapa bulan lalu.
Tetapi, bekum juga dilaksanakan dengan berbagai pertimbangan termasuk sempat naiknya harga kembali meski belum pulih dan krisis yang juga melanda Amerika Serikat (AS) dan perlambatan pertumbuhan ekonomi di Jepang China yang sebagai negara konsumen utama.
Permintaan yang lemah itu membuat harga karet alam menyentuh US$2.795 per kilogram pada pertengahan Agustus, dimana harga itu menurun jauh dibandingkan harga tertinggi yang pernah dicapai selama tahun 2012 hampir US$4 atau sebesar 3,879 per kilogram.
Dengan kebijakan AETS dan SMS secara bersama, anggota ITRC berharap harga karet alam kembali terdongkrak naik.
Implementasi dari AETS dan SMS akan dimonitor penuh oleh ITRC Monitoring and Surveillance Committee.
Eksportir karet alam Sumut, Tjoe Min Fat menyebutkan, langkah implementasi AETS yang merupakan kebijakan berupa pengetatan atau pengurangan pasokan karet alam ke pasar dunia saat terjadi kelebihan pasokan saat permintaan sedikit dan SMS yakni berupa pengendalian produksi karet di tingkat hulu atau di perkebunan untuk jangka panjang melewati peremajaan, diversifikasi kebun, peningkatan konsumsi di dalam negeri dan tidak membuka lahan perkebunan baru harusnya langsung dilakukan ketika harga jatuh.
"Meski bagi eksportir itu juga sulit, tetapi harus dilakukan agar pengusaha dan petani tidak semakin terpuruk,"katanya.
Sebagai Wakil Ketua Bidang Pemasaran Gapkindo Sumut, katanya, dia berharap Sumut bisa memangkas volume ekspor karet dari daerah itu sebesar 15-20 persen.
Harga ekspor sebesar US$2,96 per kg seperti pada penutupan di bursa Singapura awal Juli 2012 sehingga harga bahan olah karet (bokar) di pabrikan tinggal sekitar Rp22.800-Rp24.800 per kg sudah sangat menyulitkan eksportir dan petani.
Harus ada langkah konkrit mengatasi kesulitan pengusaha maupun petani dan pengurangan ekspor karet itu diharapkan bisa mendongkrak harga di pasar internasional.
"Masa sebagai penguasa karet atau 70 persen dari produksi dunia, Indonesia, Thailand dan Malaysia tidak bisa mengambil langkah menyelamatkan harga jual," katanya.
Sumut sendiri termasuk salah satu daerah pengekspor karet terbesar di Indonesia.
Tahun lalu, ekspor karet Sumut mencapai 537.669 ton atau naik 4,64 persen dari 2010.
Tiga negara produsen karet dunia Indonesia, Thailand dan Malaysia sepakat mengurangi ekspor karet alam hingga 300 ribu ton untuk mengangkat harga komoditas itu yang terus anjlok di bawah US$3 per kilogram.
"Sudah ada kesepakatan awal ITRC (International Tripartite Rubber Council) soal itu, meski pembicaraan masih akan dilanjutkan untuk memastikan kebijakan itu termasuk waktu pelaksanaanya hingga jumlah pemangkasan untuk masing-masing negara," kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, di Medan, hari ini.
Dalam keterangan Sekretariat ITRC di Bangkok, Thailand, 15 Agustus lalu, kata dia, disepakati juga untuk melakukan peremajaan atau replanting seluas 100.000 hektare yang diperkirakan bisa mengurangi produksi hingga 150.000 ton sehingga pengurangan ekspor mencapai 450.000 ton.
Dengan semakin sedikitnya ekspor dan produksi, maka diharapkan harga karet bisa naik meski permintaan diragukan masih lemah akibat dampak krisis global.
"Gapkindo Sumut siap melaksanakan kebijakan itu karena harga karet yang terus turun bukan hanya menyusahkan eksportir tetapi juga petani," katanya.
Kesulitan petani karet mengkhawatirkan Gapkindo akan beralihnya lagi petani ke tanaman sawit .
"Jangan sampai produksi karet terus menurun karena membahayakan ekspor komoditas itu," katanya.
Kesepakatan Indonesia, Malaysia dan Thailand dalam kebijakan implementasi dari Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) dan Supply Management Scheme (SMS) itu sudah direncanakan sejak harga jatuh beberapa bulan lalu.
Tetapi, bekum juga dilaksanakan dengan berbagai pertimbangan termasuk sempat naiknya harga kembali meski belum pulih dan krisis yang juga melanda Amerika Serikat (AS) dan perlambatan pertumbuhan ekonomi di Jepang China yang sebagai negara konsumen utama.
Permintaan yang lemah itu membuat harga karet alam menyentuh US$2.795 per kilogram pada pertengahan Agustus, dimana harga itu menurun jauh dibandingkan harga tertinggi yang pernah dicapai selama tahun 2012 hampir US$4 atau sebesar 3,879 per kilogram.
Dengan kebijakan AETS dan SMS secara bersama, anggota ITRC berharap harga karet alam kembali terdongkrak naik.
Implementasi dari AETS dan SMS akan dimonitor penuh oleh ITRC Monitoring and Surveillance Committee.
Eksportir karet alam Sumut, Tjoe Min Fat menyebutkan, langkah implementasi AETS yang merupakan kebijakan berupa pengetatan atau pengurangan pasokan karet alam ke pasar dunia saat terjadi kelebihan pasokan saat permintaan sedikit dan SMS yakni berupa pengendalian produksi karet di tingkat hulu atau di perkebunan untuk jangka panjang melewati peremajaan, diversifikasi kebun, peningkatan konsumsi di dalam negeri dan tidak membuka lahan perkebunan baru harusnya langsung dilakukan ketika harga jatuh.
"Meski bagi eksportir itu juga sulit, tetapi harus dilakukan agar pengusaha dan petani tidak semakin terpuruk,"katanya.
Sebagai Wakil Ketua Bidang Pemasaran Gapkindo Sumut, katanya, dia berharap Sumut bisa memangkas volume ekspor karet dari daerah itu sebesar 15-20 persen.
Harga ekspor sebesar US$2,96 per kg seperti pada penutupan di bursa Singapura awal Juli 2012 sehingga harga bahan olah karet (bokar) di pabrikan tinggal sekitar Rp22.800-Rp24.800 per kg sudah sangat menyulitkan eksportir dan petani.
Harus ada langkah konkrit mengatasi kesulitan pengusaha maupun petani dan pengurangan ekspor karet itu diharapkan bisa mendongkrak harga di pasar internasional.
"Masa sebagai penguasa karet atau 70 persen dari produksi dunia, Indonesia, Thailand dan Malaysia tidak bisa mengambil langkah menyelamatkan harga jual," katanya.
Sumut sendiri termasuk salah satu daerah pengekspor karet terbesar di Indonesia.
Tahun lalu, ekspor karet Sumut mencapai 537.669 ton atau naik 4,64 persen dari 2010.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




