ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Konsorsium Jepang

Tender MRT Lebak Bulus-Bundaran HI Masuki Tahap Finalisasi

Sabtu, 25 Agustus 2012 | 12:20 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Pembangunan jalur MRT di Jakarta
Pembangunan jalur MRT di Jakarta (Jakarta Globe)
MRT diharapkan mengangkut 300 ribu orang per hari

Proyek Mass Rapid Transit (MR T) sudah dalam tahap finalisasi tender kontrak sipil. Diharapkan kontrak ditandatangani pada September-Oktober mendatang.

MR T tahap I Lebak Bulus-Bundaran HI dipastikan beroperasi pada Januari 2017 dan dapat dinikmati warga Jakarta.

Sejak April 2012 sudah dilakukan kegiatan fisik di lapangan untuk persiapan pembangunan.

Kegiatan tersebut berupa pelebaran Jalan Fatmawati dan pemindahan kabel di bawah tanah.

“Sudah mulai terlihat kemajuan proyek transportasi tersebut. Progres terus berjalan dan saya yakin MRT setidaknya bisa beroperasi 2017,” ujar Director of Engineering and Project PT MRT Rachmadi kepada Investor Daily di Jakarta.

Ia menjelaskan, pihaknya tinggal menunggu pemenang tender tersebut dan nanti ada konsorsium dari beberapa perusahaan konstruksi dalam negeri dengan Jepang.

Pihak lokal adalah BUMN atau BUMD, seperti PT Wijaya Karya Tbk, PT PP Tbk, PT Adhi Karya Tbk, PT Hutama Karya, serta PT Jaya Konstruksi.

“Perusahaan konstruksi asal Indonesia akan berkonsorsium dengan investor asing dari Jepang. Mereka bersama-sama dengan perusahaan lokal Indonesia membentuk perusahaan patungan (joint venture company),” paparnya.

Sementara itu, total kebutuhan dana untuk pembangunan MR T tahap I sekitar USD 1,5 miliar untuk enam titik beserta kereta apinya. Sedangkan, sumber dananya berasal 85 persen dari Jepang berupa pinjaman dan 15 persen dari pemerintah Indonesia.

Jalur MR T ini meliputi Lebak Bulus hingga Jalan Sudirman atau Bundaran HI, dengan target pengerjaan 2013- 2016. Sedangkan jumlah kereta direncanakan 96 unit.

Proyek MR T ini sudah dibicarakan dengan pihak-pihak terkait, termasuk PLN.

Sedangkan dalam RAPBN 2013, ada dana hibah kepada daerah yang bersumber dari pinjaman luar negeri pemerintah untuk program MRT, sebesar Rp 3,1 triliun.

Bila semua itu berjalan lancar, kata Rachmadi, pemancangan tiang pertama (groundbreaking) MRT dapat dilakukan awal 2013 dan pengoperasian MRT tahap I Lebak Bulus-Bundaran HI bisa direalisasikan pada akhir 2016.

Kepala Biro Humas PT MRT Manpala Rega Chandra Gupta
 Sitorus menjelaskan, pekerjaan berupa pelebaran Jalan Fatmawati dan pemindahan kabel di bawah tanah sudah dilakukan.

Pekerjaan lainnya adalah pemindahan terminal Lebak Bulus setelah masa Lebaran.

Turunkan Kemacetan

Pembangunan MRT diproyeksikan menekan kemacetan di Jalan Sudirman hingga 40 persen.

Saat dioperasikan, MRT diharapkan mengangkut 300 ribu orang per hari.

Dengan model double track yang headway setiap tiga menit sekali, perjalanan dari kawasan Lebak Bulus hingga Bundaran HI hanya membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 30 menit.

Pakar transpor tasi Universitas Katolik Soegijapranata dan Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transpor tasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan, pembangunan MR T belum tentu signifikan mengurangi kemacetan pada tahap awal, karena yang dibangun baru rute Lebak Bulus menuju Bundaran HI.

“Padahal, penyebab kemacetan adalah lalu lintas yang berasal dari luar Jakarta, seperti Depok, Bogor, dan Bekasi; bukan dalam kota,” papar Djoko kemarin.

Kendala

Sementara itu, Ketua MTI Danang Parikesit memperkirakan, MRT baru bisa dioperasikan pada 2018.

Pasalnya, setidaknya ada tiga hal yang berpotensi menghambat pembangunan proyek tersebut, yakni adanya masa sanggah tender, perubahan gambar desain proyek, dan tingkat kesulitan pembangunan proyek.

“Kalau sebelumnya diperkirakan proyek MRT tahap I bisa dituntaskan pada 2016, saya pikir itu penuh risiko. Saya kira proyek baru bisa beroperasi pada 2018,” kata dia.

Menurut Danang, proyek yang direncanakan bakal melewati kawasan Lebak Bulus dan Fatmawati sudah menuai keberatan dari masyarakat.

Masyarakat meminta desain proyek diubah dari sebelumnya berupa proyek layang (elevated) dan bawah tanah (underground) menjadi semua underground.

“Setelah pemenang tender diumumkan dan ada sanggahan serta perubahan desain, proyek baru bisa dikonstruksi 2015. Untuk bisa dioperasikan pada 2018, proyek tentu saja har us dikebut,” kata dia.

Danang menilai tingkat kesulitan pembangunan MRT dan kendala teknis di lapangan cukup tinggi. Dia mencontohkan, saat ini berbagai sarana utilitas seperti jaringan telekomunikasi dan saluran air minum di kawasan Fatmawati ditanam dalam beton, sehingga pembongkarannya cukup sulit.

“Belum lagi Jakarta rawan banjir, yang bisa mempersulit pembangunan MRT,” kata dia.

Integrasi

Sementara itu, pemerintah pusat dan Pemprov DKI Jakarta siap menyediakan sarana transportasi massal lain, seperti kereta api, angkutan bus Transjakarta, dan bus pengumpan di pinggiran kota.

Pemerintah juga siap merestrukturisasi angkutan umum dan menaikkan tarif parkir kendaraan pribadi.

Pemerintah bahkan bisa mencabut subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan mengalokasikannya untuk transpor tasi massal tersebut.

Sejumlah strategi juga sudah disiapkan untuk mengurangi kemacetan di Ibukota, yang tertuang dalam Pola Transportasi Makro (PTM).

PTM memprioritaskan pembangunan angkutan umum massal, peningkatan jaringan jalan dan pembatasan lalu lintas, serta pengurangan penggunaan kendaraan pribadi.

Pembangunan angkutan umum massal disasarkan agar sebagian pengguna kendaraan pribadi berpindah ke angkutan massal.

Kebijakan lain untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi adalah mengubah kebijakan 3 in 1 menjadi electronic road pricing.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon