ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Hingga Juni 2020, Bank Banten Catat Pendapatan Bunga Rp 223,8 Miliar

Selasa, 29 September 2020 | 20:27 WIB
JS
JS
Penulis: Jayanty Nada Shofa | Editor: JNS
Ilustrasi Bank Banten.
Ilustrasi Bank Banten. (Dok. Bank Banten)

Jakarta, Beritasatu.com - PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) memaparkan kinerja perseroan pada triwulan II tahun 2020 di kegiatan public expose tahunan, Selasa (29/9/2020).

Hingga periode 30 Juni 2020, Bank Banten mencatat pendapatan bunga sebesar Rp 223,8 miliar setelah sebelumnya meraup Rp 545,16 miliar pada akhir tahun 2019.

Sebanyak 71,31% pendapatan bunga Juni 2020 tersebut disumbang dari kredit konsumer dan diikuti oleh kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dengan 22,45%. Sementara itu, kredit komersial berkontribusi sebesar 6,24%.

Adapun portofolio kredit Bank Banten di segmen kredit komersial pada Juni 2020 tercatat sebesar Rp 572 miliar, kredit UMKM Rp 51,4 miliar, dan kredit konsumer Rp 2,3 triliun. Diketahui, produk kredit konsumer Bank Banten di antaranya adalah kredit tunjangan hari tua, kredit karya guna, dan kredit agunan tunai konsumer.

ADVERTISEMENT

Biaya bunga di Juni 2020 menurun ke Rp 191,2 miliar dari Rp 465,3 miliar di Desember 2019. Pada Juni 2020, perseroan mencatat pendapatan bunga bersih sebesar Rp 32,6 miliar. Akhir tahun lalu, pendapatan bunga bersih mencapai Rp 79,8 miliar.

Di sisi dana dan jasa, dana pihak ketiga Bank Banten mencapai Rp 4,6 triliun di Juni 2020. Sebesar 50% dari portofolio dana pihak ketiga berasal dari deposito. Diikuti oleh giro sebesar 38% yang mayoritas adalah giro pemerintah. Kemudian, 12% komposisi portofolio berasal dari tabungan.

"Dalam kondisi yang tidak menentu, Bank Banten juga terus berupaya untuk melakukan perbaikan dan penguatan struktur keuangan perseroan. Hal tersebut terwujud dalam rangkaian aksi korporasi Bank Banten yang tengah kami lakukan untuk memperkuat modal inti," kata Direktur Bank Banten Kemal Idris.

Kemal menjelaskan, Bank Banten berencana menerbitkan saham baru dengan seri dan nominal yang berbeda yakni saham Seri C melalui mekanisme penawaran umum terbatas dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD).

Melalui persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 2 Oktober mendatang, sebanyak 60,82 miliar saham Seri C dengan nilai nominal Rp 50 per lembar saham akan diterbitkan. Jumlah tersebut setara 90,46% dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan.

Bank Banten, lanjut Kemal, berencana melakukan penggabungan nilai saham perseroan (reverse stock) sebagai rangkaian dari aksi korporasi sebelum melaksanakan PUT VI. Nantinya, nominal saham perseroan dengan rasio setiap 10 saham lama menjadi 1 saham dengan nilai nominal baru. Penggabungan nilai saham ini diperlukan untuk mendukung kegiatan PUT VI dengan hasil valuasi saham tersebut.

"Terkait dengan dampak reverse stock terhadap harga saham adalah harga saham meningkat dari Rp 50 menjadi Rp 500 di mana jumlah saham yang dimiliki juga berubah secara proporsional dari 1.000 lembar menjadi 100 lembar tetapi tidak mengubah nilai absolutnya," jelas Kemal.

"Reverse stock dibutuhkan untuk memperbaiki kinerja dan memperkuat struktur keuangan. Right issue tidak akan terealisasi tanpa adanya reverse stock dikarenakan Peraturan Bursa Nomor I-A dan II-A terkait batas minimum harga transaksi perdagangan saham di bursa," tambahnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Warga Serang Resah Trafo dan Genset Bank Banten Dekat Pemukiman

Warga Serang Resah Trafo dan Genset Bank Banten Dekat Pemukiman

BANTEN

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon