Kuartal III 2020, BNI Cetak Laba Bersih Rp 4,32 Triliun
Selasa, 27 Oktober 2020 | 18:41 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) pada kuartal III 2020 mencatatkan laba bersih Rp 4,32 triliun, turun 63,9 persen year on year (yoy) dari Rp 11,97 triliun di periode yang sama tahun lalu.
"Penurunan ini merupakan bagian dari upaya BNI untuk memperkuat fundamental keuangan bank dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di masa mendatang, yaitu dengan melakukan pembentukan pencadangan yang lebih konservatif sehingga rasio kecukupan pencadangan atau coverage ratio hingga kuartal III 2020 berada pada level 206,9 persen lebih besar dibandingkan kuartal III 2019 yang sebesar 159,2 persen," kata Direktur Bisnis Konsumer BNI, Corina Leyla Karnalies, dalam paparan kinerja perseroan kuartal III, Selasa (27/10/2020).
BNI terus memupuk pencadangan yang cukup besar tahun ini. Pasalnya, posisi non performing loan (NPL) perseroan per kuartal III 2020 memang ada kenaikan cukup tinggi sebesar 1,8 persen menjadi 3,6 persen. Di samping itu, loan at risk (LAR) untuk kredit yang direstrukturisasi terkait Covid-19 juga meninggi hingga mencapai 28,7 persen.
Penurunan laba, kata Corina, juga tak terlepas dari perlambatan dari pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang terbilang stagnan di kuartal III 2020 menjadi Rp 26,64 triliun.
Meski begitu pendapatan non bunga bank berlogo 46 ini masih cukup positif dengan kenaikan sebesar 7,2 persen secara yoy menjadi Rp 8,71 triliun. Perlambatan perolehan pendapatan bunga itu juga membuat posisi margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) Bank BNI ikut menyusut 60 basis poin secara tahunan menjadi 4,3 persen.
Beberapa rasio profitabilitas lain seperti return on equity (ROE) juga menurun sebesar 9,3 persen secara tahunan menjadi hanya sebesar 5,4 persen di kuartal III 2020 dari tahun sebelumnya 14,7 persen. Sedangkan return on asset (ROA) menurun 1,6 persen secara tahunan menjadi sebesar 0,9 persen.
Di sisi lain, sambung Corina, realisasi dana pihak ketiga (DPK) tumbuh signifikan sebesar 21,4 persen yoy menjadi Rp 705,09 triliun dari periode setahun sebelumnya Rp 580,97 triliun. "Pertumbuhan DPK yang signifikan tersebut tentunya ikut menopang peningkatan aset perseroan yang kini telah menembus Rp 916,95 triliun atau meningkat 12,5 persen secara tahunan," sebutnya.
Selain itu, tambah Corina, BNI juga mendukung upaya pemerintah dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di mana hingga 20 Oktober 2020, BNI telah menyalurkan pinjaman sebesar Rp 21,1 triliun, yang mayoritas (70 persen) disalurkan pada segmen kecil terutama melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga akhir September 2020, BNI telah menyalurkan KUR senilai Rp 15,05 triliun dan disalurkan untuk 170.569 debitur.
"KUR BNI ini tersalurkan pada berbagai sektor ekonomi, antara lain ke sektor pertanian sebesar Rp 3,95 triliun, sektor perdagangan Rp 7,37 triliun, sektor jasa usaha Rp 2,44 triliun, serta untuk sektor industri pengolahan senilai Rp 1,08 triliun," jelasnya
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




