Kempupera Aspal 793 Km Jalan Nasional
Jumat, 30 Oktober 2020 | 12:15 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) memanfaatkan produk Aspal Buton (Asbuton) untuk pekerjaan preservasi dan pembangunan jalan di Indonesia. Jalan sepanjang 793 Km yang tersebar di 25 provinsi di Indonesia tercatat menggunakan Asbuton dengan volume kebutuhan sekitar 42.000 ton.
Menpupera Basuki Hadimuljono mengatakan pemanfaatan Asbuton untuk pembangunan dan penanganan jalan merupakan bagian dari pelaksanaan kebijakan penggunaan produk dalam negeri. Peningkatan dan pembangunan jalan bertujuan untuk memberikan kelancaran, keselamatan, keamanan, serta kenyamanan perjalanan para pengendara.
"Kondisi jalan yang semakin baik tentu akan mampu menunjang perekonomian masyarakat," kata Basuki dalam keterangannya, Jumat (30/10/2020).
Menurutnya, Asbuton tidak sama dengan aspal minyak terutama dari sisi teknologi. Karena itu, Kempupera pun terus mengembangkan teknologi Asbuton, baik dari sisi jaminan kualitas maupun teknik penghamparan, di antaranya Cold Paving Hot Mix Asbuton (CPHMA), Lapis Penetrasi Macadam Asbuton (LPMA), campuran beraspal dengan Asbuton, Butur Seal, Cape Buton Seal dan Asbuton campuran aspal emulsi.
Sampai saat ini, progres pemanfaatan Asbuton untuk TA 2020 sebesar 80%. Pemanfaatan Asbuton alah satunya digunakan di jalan Provinsi Sulawesi Tengah sepanjang 173 km.
Asbuton memiliki potensi pemanfaatan per tahun sebesar 167.182 ton. Artinya 25% akan diserap untuk peningkatan dan pembangunan jalan nasional, selain tentu aspal karet. Panjang jalan yang ditangani dengan overlay setiap tahun untuk jalan nasional diperkirakan mencapai 1.120 Km, jalan provinsi 220 Km, dan jalan kabupaten 1.822 Km.
Teknologi pemanfaatan Asbuton yang populer digunakan adalah CPHMA. Teknologi tersebut merupakan produk campuran beraspal siap pakai. CPHMA memiliki beberapa keunggulan dibanding dengan campuran sejenis antara lain konstruksi perkerasan yang lebih merata dan homogen serta kerataan permukaan yang lebih baik.
Pencampuran dilakukan secara pabrikasi, kemudian didistribusikan dalam bentuk kemasan dan selanjutnya dihampar dan dipadatkan secara dingin (pada temperatur udara). Teknologi ini bermanfaat untuk pembangunan jalan di daerah terpencil dan pulau-pulau kecil yang tidak memiliki akses ke alat pencampur aspal (Asphalt Mixing Plan/AMP).
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




