Bukit Asam Alihkan Ekspor Batubara ke India
Selasa, 4 September 2012 | 17:33 WIB
Berkurangnya permintaan batubara dari Tiongkok sendiri disebabkan karena melemahnya pertumbuhan ekonomi di Tiongkok
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan mengalihkan ekspor batu baranya ke India.
Menurut Direktur Utama PTBA, Milawarma, langkah yang dilakukan perseroan karena tersendatnya ekspor ke Tiongkok.
"Selain itu juga permintaan batubara dari India terus meningkat sejalan dengan adanya pemadaman listrik hampir di separuh India," katanya dalam keterangan pers di Jakarta, hari ini.
Milawarma mengatakan, berkurangnya permintaan batubara dari Tiongkok sendiri disebabkan karena melemahnya pertumbuhan ekonomi di Tiongkok.
Melemhanya perekonomian Tiongkok berimbas pada penggunaan batubara sehingga stock yang dialokasikan oleh perseroan kepada Tiongkok menjadi over.
"Jika kondisi normal stok batubara di sana untuk 15 hari, saat ini hingga 20-25 hari, stok batubara Cina Selatan tidak habis," ujarnya.
Menurut Milawarma, saat ini ekspor ke India masih di kisaran 800 ribu ton, dengan adanya pengalihan ekspor ini, perseroan memperkirakan ekspor ke India akan meningkat hingga 1-2 juta ton atau sekitar 0,2 persen dari total ekspor perseroan.
Sementara, untuk eskpor ke negara lain seperti Jepang dan Malaysia menurut Milawarma tidak mengalami masalah.
Sebagai informasi, perseroan melepas sekitar 35 persen produksinya ke pasar ekspor, sementara sisanya sekitar 65 persen untuk kebutuhan domestik.
Hingga semester I 2012, perseroan mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp1,56 triliun atau turun tipis 3 persen dibandingkan periode sama 2011 yang tercatat sebanyak Rp1,61 triliun.
Meski laba bersih menurun, namun volume penjualan meningkat sekitar 14 persen, dari 6,19 juta ton menjadi 7,08 juta ton.
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan mengalihkan ekspor batu baranya ke India.
Menurut Direktur Utama PTBA, Milawarma, langkah yang dilakukan perseroan karena tersendatnya ekspor ke Tiongkok.
"Selain itu juga permintaan batubara dari India terus meningkat sejalan dengan adanya pemadaman listrik hampir di separuh India," katanya dalam keterangan pers di Jakarta, hari ini.
Milawarma mengatakan, berkurangnya permintaan batubara dari Tiongkok sendiri disebabkan karena melemahnya pertumbuhan ekonomi di Tiongkok.
Melemhanya perekonomian Tiongkok berimbas pada penggunaan batubara sehingga stock yang dialokasikan oleh perseroan kepada Tiongkok menjadi over.
"Jika kondisi normal stok batubara di sana untuk 15 hari, saat ini hingga 20-25 hari, stok batubara Cina Selatan tidak habis," ujarnya.
Menurut Milawarma, saat ini ekspor ke India masih di kisaran 800 ribu ton, dengan adanya pengalihan ekspor ini, perseroan memperkirakan ekspor ke India akan meningkat hingga 1-2 juta ton atau sekitar 0,2 persen dari total ekspor perseroan.
Sementara, untuk eskpor ke negara lain seperti Jepang dan Malaysia menurut Milawarma tidak mengalami masalah.
Sebagai informasi, perseroan melepas sekitar 35 persen produksinya ke pasar ekspor, sementara sisanya sekitar 65 persen untuk kebutuhan domestik.
Hingga semester I 2012, perseroan mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp1,56 triliun atau turun tipis 3 persen dibandingkan periode sama 2011 yang tercatat sebanyak Rp1,61 triliun.
Meski laba bersih menurun, namun volume penjualan meningkat sekitar 14 persen, dari 6,19 juta ton menjadi 7,08 juta ton.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




