ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BRI Danareksa Sekuritas Pegang Mandat Dua IPO Perusahaan Teknologi

Jumat, 19 Februari 2021 | 13:31 WIB
LO
B
Penulis: Lona Olavia | Editor: B1
Talkshow dalam rangkaian peluncuran nama dan logo baru dari PT Danareksa Sekuritas menjadi PT BRI Danareksa Sekuritas secara virtual Senin (7/12/2020).
Talkshow dalam rangkaian peluncuran nama dan logo baru dari PT Danareksa Sekuritas menjadi PT BRI Danareksa Sekuritas secara virtual Senin (7/12/2020). (Beritasatu Photo/Whisnu Bagus)

Jakarta, Beritasatu.com - PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) telah mengantongi dua mandat penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dan delapan penerbitan surat utang (obligasi) untuk semester I-2021.

"Untuk equity ada dua, tech company. Sedangkan mandat obligasi yang saat ini sedang kita kerjakan, dengan target penyelesaian di kuartal I dan II ada sekitar 8 emiten," sebut Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas Friderica Widyasari Dewi, baru-baru ini.

Namun sayangnya, Kiki biasa dia disapa belum membeberkannya secara detail. Sementara itu, melanjutkan fokus untuk membidik pasar investor ritel dan syariah seiring dengan perubahan nama perusahaan dari sebelumnya PT Danareksa Sekuritas setelah sahamnya diakuisisi oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) sebesar 67%, tahun 2021 ini BRI Danareksa Sekuritas mengincar penambahan jumlah nasabah hingga 100.000 rekening baru.

"Untuk tahun 2020, total penambahan nasabah baru mencapai 51.317 rekening. Angka itu kami dapatkan dari pertumbuhan organik dan dari sinergi dengan BRI Group. Untuk tahun ini kami menargetkan pertumbuhan nasabah sebesar 50.000-100.000 rekening," kata Kiki.

ADVERTISEMENT

Pertumbuhan investor ritel domestik saat ini seperti diketahui, cenderung sangat pesat.

Menurut Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dari total jumlah investor di pasar modal, sebanyak 3,87 juta merupakan investor ritel atau menyumbang 99,1%, dan investor institusi hanya 32.464 atau menyumbang kurang dari 1%.

Sementara itu, di tengah tren ekonomi syariah yang terus berkembang dan edukasi investasi yang terus dijalankan, respon terhadap investasi syariah diakuinya sangat baik.

Oleh karena itu, kedepannya BRI Danareksa Sekuritas akan terus melakukan edukasi secara intens dan pemasaran terkait D’ONE Syariah ini untuk lebih meningkatkan awareness, serta pemahaman akan investasi syariah itu sendiri. "Kami meluncurkan D’ONE Syariah baru Desember 2020 lalu. Jadi, jumlah nasabah khusus syariah belum signifikan," kata Kiki.

Dari segi pangsa pasar (market share), BRI Danareksa Sekuritas saat ini menguasai 1,32%. Diharapkan, tahun ini market share-nya bisa meningkat mencapai 1,5%.

Untuk mencapai target tersebut, perseroan sudah mempersiapkan beberapa strategi inisiatif diantaranya peningkatan internal proses, termasuk penambahan sistem online trading yang dimiliki saat ini dan peningkatan sinergi di BRI Group. "Kami juga sedang berupaya meningkatkan market share melalui banyak hal, salah satunya fokus pada pengembangan pasar ritel," ungkap dia.

BRI Danareksa Sekuritas menargetkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir 2021 berada di level 6.850.

"Bila memakai pendekatan top down dan bottom up, mengarah pada target IHSG di tahun 2021 sebesar 6.850 dengan pembobotan lebih besar untuk pendekatan top down sebesar 60% dan 40% dari bottom up. Dengan target tersebut, BRIDS memperkirakan adanya kenaikan IHSG sebesar 14% dibandingkan dengan akhir tahun 2020," sebutnya.

Di mana, untuk sektornya, utilitas, kawasan industri, konstruksi, telekomunikasi dan semen merupakan sektor yang paling meningkat. Sebaliknya, transportasi, industri dasar, dan rokok diperkirakan akan mengalami return negatif di tahun 2021.

Sebelumnya, tim riset Danareksa Sekuritas dalam hasil risetnya yang diterbitkan 8 Februari kemarin mengungkapkan, ada lima faktor yang bakal berdampak positif terhadap pemulihan ekonomi nasional tahun ini. Faktor pertama adalah aliran investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang lebih kuat berkat omnibus law (UU Cipta Kerja).

Faktor kedua, likuiditas yang kuat sejalan dengan pertumbuhan M2 sebesar 12,4%. Kuatnya likuiditas akan menyangga permintaan selama fase pemulihan. Faktor ketiga, program vaksinasi bakal memastikan aktivitas ekonomi yang lebih kuat.

Faktor keempat, tren makro akan memberikan ruang bagi fleksibilitas kebijakan moneter. Bank Indonesia (BI) bisa menurunkan kembali suku bunga acuan (BI 7-day Reverse Repo Rate/BI7DRR). "Faktor terakhir yaitu dukungan anggaran 2021 yang difokuskan pada belanja produktif selama pandemi," papar tim riset Danareksa Sekuritas.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon