PLTGU Muara Karang Laksanakan Steam Turbine First Synchronization
Kamis, 4 Maret 2021 | 11:58 WIBJakarta, Beritasatu.com - PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Barat (PLN UIP JBB) melalui Unit Pelaksana Proyek Pembangkit Jawa Bagian Barat 2 (UPP PJBB 2) kembali menorehkan prestasi.
Kali ini, proyek yang dikerjakan yaitu PLTGU Muara Karang Peaker, telah resmi melaksanakan Steam Turbine (ST) First Synchronization pada Kamis (4/3/2021), tepat pukul 00:00 WIB.
Keberhasilan UPP PJBB 2 dalam mencapai milestone ini merupakan bentuk komitmen PLN untuk terus melistriki serta menyediakan kelistrikan terbaik. ST First Synchronization ini sendiri, merupakan salah satu tahapan pengujian peralatan pembangkit atau disebut komisioning.
"Saat ini, Steam Turbine PLTGU Muara Karang (400-500 MW) telah resmi terhubung dengan sistem kelistrikan Jawa-Bali dan mampu menghasilkan daya yang dapat disalurkan untuk pertama kalinya," ujar General Manager PLN UIP JBB, Ratnasari Sjamsuddin.
Artinya, tahapan ini merupakan suatu prestasi besar dalam rangka penyelesaian pembangunan pembangkit yang terletak di Muara Angke, Jakarta Utara ini.
PLTGU Muara Karang Peaker merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional, dimana listrik yang dihasilkan akan digunakan untuk meningkatkan kehandalan sistem kelistrikan DKI Jakarta dan sekitarnya dengan tambahan daya total sebesar 500 MW.
"Kapasitas total pembangkit ini terdiri dari 341 MW Gas Turbine, dan 159 MW untuk Steam Turbine," jelas Ratnasari.
Gas Turbine proyek ini telah resmi melakukan Commercial Operation Date (COD) pada 15 Februari 2020 lalu, lebih cepat kurang lebih 1 bulan dari target kontrak 12 Maret 2020. Sedangkan target COD sesuai kontrak untuk steam turbine adalah 7 Juli 2021.
"Namun demikian, dengan adanya optimalisasi schedule d imana ST First Synchronization lebih cepat dari jadwal awal, maka kami optimis dapat menyelesaiakn target COD pada akhir Mei 2021," tutur Ratnasari.
Pembangunan PLTGU Muara Karang Peaker ini telah berlangsung sejak tahun 2017, dengan lokasi di lahan PT PJB UP Muara Karang seluas 3,75 Ha. "Setelah kesuksesan ST First Synchronization, selanjutnya kami akan melakukan beberapa pengujian termasuk performance test dan RR, sehingga akhir Mei 2021 PLTGU MKG Peaker dapat beroperasi penuh 500 MW," imbuh Ratnasari.
Ratnasari melanjutkan, pembangunan proyek pembangkit ini memang dinilai sangat krusial dalam memberikan suplai listrik terbaik, khususnya di Ibukota dan sekitarnya.
"Hal ini karena DKI Jakarta & sekitarnya merupakan pusat bisnis, ekonomi dan industri yang sedang tumbuh kembang dengan berbagai infrastruktur seperti MRT, LRT, perluasan Bandara Soekarno Hatta, dan perkantoran serta bisnis. Semuanya membutuhkan listrik terbaik agar dapat terus bergerak," jelas Ratnasari.
Suplai listrik untuk wilayah DKI Jakarta berasal dari beberapa pembangkit besar, seperti PLTU Suralaya, PLTU Lontar, PLTU Jawa-7, PLTGU Muara Tawar, PLTGU Tanjung Priok dan PLTGU Muara Karang. Oleh karena itu, dengan adanya penambahan PLTGU Muara Karang Peaker, diharapkan mampu meningkatkan keandalan sistem kelistrikan jawa bali sub sistem DKI Jakarta.
Besarnya kebutuhan listrik di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya inilah, yang tidak menyurutkan perjuangan insan kelistrikan untuk terus memberikan yang terbaik. Kendati terkendala adanya pandemi Covid-19, pembangunan harus tetap berjalan.
"Sebagian besar tenaga asing yang bekerjasama untuk proyek ini diwajibkan pulang ke negaranya, sehingga cukup menyulitkan percepatan progres pembangunan," ujar Ratnasari.
Ia melanjutkan, untuk menyiasati kendala ini, tim UPP PJBB 2 mengoptimalkan pekerjaan yang bisa dilakukan dalam format virtual. Selain itu, juga dilakukan supervisi secara online dari engineer dari negara asal masing-masing, terkait dengan warranty equipment.
"Kami juga upayakan untuk melakukan reschedule terhadap target-target proyek," imbuh Ratnasari.
Di samping itu, komitmen untuk tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat juga terus diterapkan. Seluruh mitra kerja rutin menjalani tes Covid-19 sebagai bentuk tindakan preventif atas meluasnya penyebaran virus.
"Karena kebutuhan listrik tidak bisa menunggu lama, jadi kami harus adaptif mencari cara terbaik agar proyek tetap berjalan dengan baik dan aman," tandas Ratnasari.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




