REI Optimistis Insentif PPN Genjot Penjualan Properti
Selasa, 9 Maret 2021 | 17:37 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Real Estate Indonesia (REI), Paulus Totok Lusida menyambut baik kebijakan pemerintah terkait pemberian insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sektor perumahan. Meskipun insentif PPN yang merupakan usulan dari REI ini tidak sepenuhnya terakomodasi, ia meyakini stimulus ini akan kembali menggairahkan sektor properti.
"Kami berterima kasih sekali kepada pemerintah yang telah memberikan insentif ini. Tadinya kami minta sampai akhir tahun, tapi pemerintah lebih prefer sampai Agustus, berarti kan lebih terukur karena pakai rumah stok. Tidak apa-apa, ini tetap kami apresiasi. Kalau nanti rumah stoknya laku kan akan bangun lagi, sehingga domino efeknya tetap ada," kata Totok Lusida kepada Beritasatu.com, Selasa (9/3/2021).
Seperti diketahui, dukungan PPN properti Ditanggung Pemerintah (DTP) ini diberikan atas penyerahan rumah tapak dan unit harian rumah susun dengan kriteria tertentu. Antara lain memiliki harga jual maksimal Rp 5 miliar, diserahkan secara fisik pada periode pemberian insentif, merupakan rumah baru yang diserahkan dalam kondisi siap huni, dan diberikan maksimal satu unit rumah tapak atau unit hunian rumah susun untuk satu orang, serta tidak boleh dijual kembali dalam jangka waktu 1 tahun.
Besaran PPN DTP yaitu sebesar 100% untuk harga jual rumah tapak dan rumah susun paling tinggi Rp 2 miliar, dan 50% untuk harga jual rumah tapak dan rumah susun lebih dari Rp 2 miliar sampai dengan Rp 5 miliar. Besaran PPN DTP ini berlaku untuk masa pajak Maret 2021 sampai dengan Agustus 2021.
Melalui kebijakan ini, lanjut Totok, pengembang akan memacu diri agar stok rumah bisa terjual seluruhnya. Apalagi berbagai kebijakan yang memberi kemudahan juga telah dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga harapannya sektor properti di tahun ini bisa tumbuh di atas 5%. Sebelumnya di 2020, Totok menyebut sektor properti masih bisa tumbuh sekitar 1% karena dibantu oleh penjualan rumah dengan harga sampai Rp 2 miliar.
"Kita akan berusaha kembali ke posisi sebelum pandemi. Kemarin itu kan khususnya untuk rumah susun drop sekali karena banyak yang takut tertular Covid-19, padahal maintenance dan protokol kesehatan di rumah susun sangat ketat. Setelah pandemi berjalan setahun, orang mulai melihat kalau tinggal di rumah susun itu aman. Harapannya stimulus ini juga semakin meningkatkan minat masyarakat untuk membeli rumah susun," kata Totok.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




