Pemerintah Didorong Kembangkan Pariwisata Berkelanjutan
Rabu, 10 Maret 2021 | 14:09 WIB
Jakarta, Beritasatu.com- Pemerintah didorong mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan mengingat pada 2021 diproyeksi sektor pariwisata mulai pulih.
Founder dan Chairman Markplus, Hermawan Kertajaya, mengatakan Indonesia yang telah menjadi destinasi wisatawan dunia, terutama Bali, diminta tidak hanya menerapkan sertifikasi cleanliness, healthiness, sustainability, and environmental (CHSE), tetapi mulai mengembangkan pariwisata berkelanjutan.
"Semuanya harus dilakukan dengan cepat. Kita harus melihat berbagai peluang yang ada saat ini. Jangan hanya CHSE yang technical, tetapi harus menerapkan SDG atau sustainable development goals pada sektor pariwisata," kata Hermawan dalam keterangan yang diterima, Rabu (10/3/2021).
Hermawan menambahkan pemerintah harus sudah mempersiapkan visi pariwisata nasional setidaknya sampai 2030. Untuk tahun 2021, sektor pariwisata harus fokus terlebih dahulu kepada wisatawan domestik sebagai kunci utama pemulihan ekonomi nasional. Kemudian sampai 2025, pemerintah mesti mengembangkan sustainable tourism bagi turis regional. Terakhir, visi jangka panjang sampai tahun 2030, dimana Indonesia diharapkan sudah dapat menjadi World-Class Integrated and Sustainable Tourism Growth Destination.
Berdasarkan hasil survei cepat Markplus Tourism, kampanye mengenai pariwisata yang berkelanjutan bisa dimulai dengan menggaungkan aspek perilaku wisatawan yang bertanggung jawab kepada masyarakat luas. Sebanyak 83,9% dari 62 responden berusia 25 sampai 44 tahun mengatakan saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengkampanyekan program responsible tourist. Harapannya ketika pandemi berakhir dan pariwisata kembali pulih, sudah tumbuh kesadaran masyarakat untuk berwisata yang bertanggungjawab.
"95,2% responden memahami perilaku responsible tourist sebagai upaya menjaga lingkungan kawasan destinasi. Menurut 71% dari mereka menilai untuk menjadi wisatawan yang bertanggungjawab harus berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal yang akan dikunjungi," papar Senior Business Analyst MarkPlus Tourism, Azhari Fauzan, dalam kesempatan yang sama.
Namun, pemerintah perlu berkolaborasi dengan pengelola destinasi wisata, masyarakat lokal, hingga travel influencer untuk mencapai visi tersebut. Sebanyak 80,6% responden juga menilai para wisatawan perlu mengunggah pengalaman berwisata melalui media sosial setelah berkunjung ke suatu destinasi untuk mendorong kampanye sustainable torusim.
Menurut Azhari, mayoritas wisatawan mencari produk ekraf seperti kuliner (93,5%), kerajinan tangan (72,6%), seni pertunjukan (59,7%), dan fesyen seperti kain batik (50%) saat berkunjung ke tempat wisata. "Produk ekraf yang menarik harus memiliki story telling, artinya harus ada unsur cerita yang bisa disajikan kepada publik. Selain itu, kemasan yang menarik juga menjadi perhatian wisatawan," tambahnya.
Sebanyak 93,5% responden menilai pelatihan dan pembinaan sebagai program pemerintah yang paling tepat meningkatkan daya saing produk ekraf. Selain itu, pelaku usaha ekraf juga perlu mempertahankan konsistensi kualitas produk agar wisatawan bisa memberikan rekomendasi dan berujung pada peningkatan penjualan.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menuturkan bahwa pemerintah saat ini telah mempersiapkan strategi akselerasi pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




