IPO, Jasamarga Related Business Lepas 10%-15% di Awal 2022
Jumat, 26 Maret 2021 | 19:05 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - PT Jasamarga Related Business atau JMRB sebagai entitas anak emiten operator jalan tol PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) tengah melakukan persiapan untuk melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Rencananya, anak usaha di bidang non jalan tol dari Jasa Marga akan melepaskan saham secara bertahap di lantai bursa.
Direktur Utama Jasamarga Related Business Cahyo Satrio Prakoso mengatakan, rencana perseroan melantai di bursa saham diharapkannya secepatnya bisa terlaksana pada awal tahun 2022. Di mana, porsi saham yang dilepas di publik berkisar 10%-15%.
Saat ini, perseroan dijelaskan Cahyo tengah menyusun equity story dengan menggandeng konsultan Price Waterhouse Coopers (PwC). PwC Indonesia sempat menilai saat ini adalah waktu yang tepat bagi calon perusahaan yang akan melaksanakan IPO di tengah pandemi Covid-19 yang telah meredam pergerakan pasar ekuitas Indonesia selama beberapa waktu pada tahun 2020.
Terkait kinerja tahun ini, JMRB menargetkan ada pertumbuhan sebesar 10%-15% baik dari sisi pendapatan dan laba bersih perusahaan. Tahun lalu, perseroan telah meraup pendapatan sebesar Rp 300 miliar.
JMRB yang sebelumnya bernama PT Jasamarga Properti seperti diketahui telah mengembangkan usaha yang mendukung bisnis inti Jasa Marga.
Kini, Jasamarga Related Business memiliki lini bisnis yang mencakup pengembangan properti, pengembangan dan pengelolaan rest area di seluruh Indonesia, pengelolaan unit iklan dan utilitas, pengembangan bisnis digital, serta building management.
Di mana, salah satu lini bisnis yang sedang dikembangkan oleh JMRB juga adalah toll corridor development (TCD) yang seterusnya memiliki bisnis turunan lain yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
"Dari portofolio, iklan dan utilitas memberikan kontribusi terbesar ke pendapatan, disusul rest area dan toll corridor development. Tapi, kedepannya lini bisnis TCD akan kita kembangkan lebih besar karena keuntungan yang didapatkan dan profitabilitas paling besar, karena kenaikan dari nilai tanah itu sendiri. Rest area akan besar, tapi tidak sebesar TCD karena lahannya konsesi dan bentuknya recurring income," imbuh dia.
Cahyo mengungkapkan, sebagai anak usaha Jasa Marga, perseroan kata dia relatif diuntungkan karena mengelola kawasan di sepanjang tol yang dikelola Jasa Marga. Untuk itu, dia berharap ke depan, pengembangan koridor di kawasan tol yang dikelola JSMR akan mempercepat pengembangan properti, sehingga bisa memberi nilai tambah bagi pemegang saham.
Perusahaan yang berdiri sejak 2013 tersebut akan mengembangkan corridor development, di mana ada kenaikan harga tanah. Lalu dengan kenaikan tersebut, ada nilai tambah pada pengembangan ruas jalan tol, sehingga diharapkan IPO ini bisa mendapatkan hasil land bank dan inovasi bisnis.
"Kami akan sampaikan ke investor bahwa apa yang diinvestasikan akan naik 5-10 kali lipat dan itu menarik bagi investor. Karena kita punya punya jalan tol jadi kita lebih mudah untuk mengatur, karena induk kita investor di jalan tol," jelasnya.
Cahyo juga mengajak investor strategis untuk berinvestasi jika berminat mengembangkan lahan investasi terutama di daerah yang strategis. "Selain mengembangkan properti, kita juga mengajak strategic investor, siapapun yang ingin ikut mengembangkan lahan investasi di daerah yang bagus, kami sangat welcome," ungkap dia. [Lona Olavia]
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




