Citi Indonesia Bukukan Kredit Korporasi US$3 Miliar
Selasa, 2 Oktober 2012 | 18:28 WIB
Tren pertumbuhan kredit korporasi Citi mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan tahun lalu
Citibank NA Indonesia (Citi Indonesia) telah membukukan kredit korporasi sekitar US$3 miliar hingga akhir September 2012. Angka tersebut termasuk penyaluran kredit kepada korporasi multinasional (multinational corporation) dan sejumlah bank lainnya.
Head of Corporate and Investment Citi Indonesia Kunardy Lie mengatakan, sebenarnya tren pertumbuhan kredit korporasi Citi mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan tahun lalu. Hal itu bisa terlihat dari perbedaan target year to date yang dipasang Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) asal Amerika Serikat tersebut.
“Pertumbuhan kredit korporasi kami tahun ini mungkin hanya sekitar 10-15 persen, lebih rendah dibanding tahun lalu sekitar 15-20 persen. Ini karena banyak perusahaan yang menunda penambahan modal kerja (capital expenditure/capex), akibat ketidakpastian global,” kata Kunardy seusai jumpa pers kerja sama dengan Bank Andara di Jakarta, hari ini.
Namun, Kunardy tidak menyebutkan berapa persen pertumbuhan total kredit tersebut jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year on year). Sebagai gambaran, hingga Agustus tahun lalu, Citi telah menyalurkan kredit korporasi sebesar US$1,4 miliar. Porsi kredit korporasi saat ini mencapai sekitar 65 persen terhadap total kredit Citi Indonesia.
“Kami banyak menyalurkan jenis kredit modal kerja (KMK), porsinya sekitar 60-70 persen dari total portofolio kredit korporasi. Mayoritas kredit korporasi kami memang berjenis valuta asing (valas), porsinya sekitar 60 persen, sisanya 40 persen kredit rupiah,” jelasnya.
Menurutnya, sejak krisis global semakin tidak menentu, permintaan kredit rupiah justru semakin banyak. Pasalnya, selain suku bunganya yang lebih kompetitif, kredit rupiah notabene memang disalurkan untuk perusahaan yang fokus bisnisnya di dalam negeri. Sektor industri domestik yang selama ini disasar Citi Indonesia terutama adalah manufaktur, yaitu barang-barang konsumer (consumer goods) dan otomotif.
Sedangkan di sisi kredit valas, Citi banyak menyalurkan ke sektor pertambangan dan jenis ekspor-impor lainnya. Dengan harga komoditas yang saat ini tengah memburuk, Kunardy mengakui, permintaan kredit pertambangan menurun. Namun, Citi berusaha mencari perusahaan pertambangan yang gearing ratio-nya masih rendah.
“Kalau gearing ratio-nya rendah, kami bisa leverage kredit lebih besar ke perusahaan itu,” tukasnya.
Secara khusus, Kunardy menilai, kekhawatiran paling besar di pasar saat ini adalah potensi pelemahan ekonomi Cina. Saat ini, karena ketidakpastian di Eropa, mesin ekonomi di Cina mulai melemah, padahal negara tersebut menjadi mitra dagang utama Indonesia. Hal tersebut dapat semakin melemahkan penyaluran kredit valas.
Namun, dia menegaskan, masih terdapat nilai plus dari pasar domestik Indonesia yang bisa dikembangkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh, biaya tenaga kerja yang mulai meningkat di Cina serta banjir besar di Thailand tahun lalu membuat sejumlah perusahaan besar Jepang dan Korea memindahkan pabriknya ke negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia.
“Ditambah populasi Indonesia yang sangat besar, terutama pertumbuhan kelas menengahnya, itu memicu konsumsi domestik sehingga dampaknya ekonomi tetap bertumbuh. Saya optimistis investasi asing yang masuk ke Indonesia akan lebih besar nantinya,” tutur Kunardy.
Namun, untuk membuat investor asing betah, menurutnya pemerintah harus menggalakkan pembangunan infrastruktur yang tertata. Kendati Citi dan KBCA lainnya tidak dapat masuk ke pembiayaan infrastruktur yang bertenor terlalu panjang, pihaknya tetap mengkaji kemungkinan terlibat dalam kredit-kredit sindikasi untuk proyek.
“KCBA paling lama hanya bisa membiayai proyek infrastruktur sekitar 5-7 tahun. Jadi, saya pikir bank-bank pemerintah yang cocok untuk masuk ke sana lebih serius,” pungkasnya.
Citibank NA Indonesia (Citi Indonesia) telah membukukan kredit korporasi sekitar US$3 miliar hingga akhir September 2012. Angka tersebut termasuk penyaluran kredit kepada korporasi multinasional (multinational corporation) dan sejumlah bank lainnya.
Head of Corporate and Investment Citi Indonesia Kunardy Lie mengatakan, sebenarnya tren pertumbuhan kredit korporasi Citi mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan tahun lalu. Hal itu bisa terlihat dari perbedaan target year to date yang dipasang Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) asal Amerika Serikat tersebut.
“Pertumbuhan kredit korporasi kami tahun ini mungkin hanya sekitar 10-15 persen, lebih rendah dibanding tahun lalu sekitar 15-20 persen. Ini karena banyak perusahaan yang menunda penambahan modal kerja (capital expenditure/capex), akibat ketidakpastian global,” kata Kunardy seusai jumpa pers kerja sama dengan Bank Andara di Jakarta, hari ini.
Namun, Kunardy tidak menyebutkan berapa persen pertumbuhan total kredit tersebut jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year on year). Sebagai gambaran, hingga Agustus tahun lalu, Citi telah menyalurkan kredit korporasi sebesar US$1,4 miliar. Porsi kredit korporasi saat ini mencapai sekitar 65 persen terhadap total kredit Citi Indonesia.
“Kami banyak menyalurkan jenis kredit modal kerja (KMK), porsinya sekitar 60-70 persen dari total portofolio kredit korporasi. Mayoritas kredit korporasi kami memang berjenis valuta asing (valas), porsinya sekitar 60 persen, sisanya 40 persen kredit rupiah,” jelasnya.
Menurutnya, sejak krisis global semakin tidak menentu, permintaan kredit rupiah justru semakin banyak. Pasalnya, selain suku bunganya yang lebih kompetitif, kredit rupiah notabene memang disalurkan untuk perusahaan yang fokus bisnisnya di dalam negeri. Sektor industri domestik yang selama ini disasar Citi Indonesia terutama adalah manufaktur, yaitu barang-barang konsumer (consumer goods) dan otomotif.
Sedangkan di sisi kredit valas, Citi banyak menyalurkan ke sektor pertambangan dan jenis ekspor-impor lainnya. Dengan harga komoditas yang saat ini tengah memburuk, Kunardy mengakui, permintaan kredit pertambangan menurun. Namun, Citi berusaha mencari perusahaan pertambangan yang gearing ratio-nya masih rendah.
“Kalau gearing ratio-nya rendah, kami bisa leverage kredit lebih besar ke perusahaan itu,” tukasnya.
Secara khusus, Kunardy menilai, kekhawatiran paling besar di pasar saat ini adalah potensi pelemahan ekonomi Cina. Saat ini, karena ketidakpastian di Eropa, mesin ekonomi di Cina mulai melemah, padahal negara tersebut menjadi mitra dagang utama Indonesia. Hal tersebut dapat semakin melemahkan penyaluran kredit valas.
Namun, dia menegaskan, masih terdapat nilai plus dari pasar domestik Indonesia yang bisa dikembangkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh, biaya tenaga kerja yang mulai meningkat di Cina serta banjir besar di Thailand tahun lalu membuat sejumlah perusahaan besar Jepang dan Korea memindahkan pabriknya ke negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Indonesia.
“Ditambah populasi Indonesia yang sangat besar, terutama pertumbuhan kelas menengahnya, itu memicu konsumsi domestik sehingga dampaknya ekonomi tetap bertumbuh. Saya optimistis investasi asing yang masuk ke Indonesia akan lebih besar nantinya,” tutur Kunardy.
Namun, untuk membuat investor asing betah, menurutnya pemerintah harus menggalakkan pembangunan infrastruktur yang tertata. Kendati Citi dan KBCA lainnya tidak dapat masuk ke pembiayaan infrastruktur yang bertenor terlalu panjang, pihaknya tetap mengkaji kemungkinan terlibat dalam kredit-kredit sindikasi untuk proyek.
“KCBA paling lama hanya bisa membiayai proyek infrastruktur sekitar 5-7 tahun. Jadi, saya pikir bank-bank pemerintah yang cocok untuk masuk ke sana lebih serius,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




