Pandemi Dorong Pengembangan Obat Tradisional Modern
Sabtu, 10 April 2021 | 18:04 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Tanaman asli Indonesia seperti kunyit, temulawak, dan jahe merah telah dikenal memiliki banyak khasiat. Salah satunya, meningkatkan imunitas tubuh. Tak heran, berbagai jenis tanaman asli Indonesia banyak diburu masyarakat di tengah pandemi Covid-19.
CEO Nucleus Farma, Edward Basilianus, mengatakan, biodiversitas tanaman obat yang dimiliki Indonesia sangat berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut, guna memenuhi kebutuhan produk berbahan herbal yang semakin meningkat di masa pandemi.
"Jika ini bisa dilakukan dengan optimal akan berdampak positif pada perekonomian nasional dan mendukung kemandirian industri obat berbahan herbal," kata Edward Basilianus, seperti dikutip dari keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, Sabtu (10/4/2021).
Menurut Edward Basilianus, tren penggunaan bahan alam, khususnya obat tradisional modern di masa pandemi Covid-19 merupakan momentum emas bagi masyarakat untuk kembali mencari dan menggunakan rempah-rempah asli Indonesia.
"Hal ini juga menjadi peluang bagi para peneliti untuk dapat mengembangkan hasil risetnya serta memacu para produsen untuk lebih fokus mengembangkan produk berbasis herbal," tegasnya.
Ketua Umum GP Jamu, Dwi Ranny Pertiwi Zarman, mengatakan pengobatan tradisional Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan ramuan jamu.
"Jamu di Indonesia sudah ada sejak tahun 1300 dan merupakan minuman bersejarah dengan berbagai khasiat untuk menjaga kesehatan, bahkan menyembuhkan berbagai penyakit," jelas Dwi Ranny.
Lebih jauh, Dwi Ranny mengatakan, pengobatan tradisional sudah diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. "WHO bahkan menunjukan kepedulian terhadap pengembangan obat tradisional dengan mengeluarkan buku panduan metodologi penelitian dan wvaluasi terhadap pengobatan tradisional," katanya.
Dwi Ranny menambahkan, jenis pengobatan alternatif dikelompokkan menjadi dua, yakni pengobatan berdasarkan herbal dan terapi yang berdasarkan prosedur tradisional.
"Adapun yang termasuk pengobatan alternatif herbal yaitu penggunaan bahan asli tanaman seperti bunga, buah-buahan, akar, daun dan lain-lain dan saat ini bertambah dari sumber hewani," tandasnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Reri Indriani, mengatakan, Indonesia memiliki sekitar 30.000 jenis tanaman, dimana sekitar 800 diantaranya berpotensi untuk dijadikan obat herbal.
Sejalan dengan Inpres nomor 6 tahun 2016 tentang Percepatan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, BPOM menginisasi pembentukan Satgas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Fitofarmaka. Ada 14 lembaga yang terlibat dalam Satgas ini, terdiri dari kementerian, asosiasi pelaku usaha, organisasi profesi, dan perguruan tinggi.
"Dengan terbentuknya Satgas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Fitofarmaka diharapkan dapat meningkatkan intensifikasi hilirisasi penelitian obat berbahan alam untuk menjadi Fitofarmaka, sehingga akses dan ketersediaan obat produksi nasional akan meningkat. Ke depannya, produk Fitofarmaka juga diharapkan dapat berperan sebagai produk pengobatan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN," papar Reri Indriani.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




