ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kebijakan Emisi Nol Karbon Perlu Didorong dan Dilaksanakan

Selasa, 20 April 2021 | 15:59 WIB
HS
IC
Penulis: Hendro Dahlan Situmorang | Editor: CAH
Emil Salim
Emil Salim (istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Guru Besar Ekonomi Emeritus Universitas Indonesia, Prof Emil Salim menegaskan untuk menyelamatkan bumi dari ancaman dampak perubahan iklim, maka kebijakan strategi Indonesia harus berkelanjutan.

Dikatakan pencapaian netralitas karbon perlu dicapai pada 2050 untuk menghindari dampak perubahan iklim seperti kenaikan suhu bumi. Kebijakan strategi Indonesia harus berubah menjadi lebih berkelanjutan atau ekonomi hijau.

"Kebijakan emisi nol (net zero emission) atau bebas karbon perlu didorong dan dilaksanakan, kalau perlu negatif emisi alias di bawah 0. Contohnya dengan pengalihan penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi), batu bara dan gas beralih ke energi terbarukan mulai dari sekarang," kata Emil dalam acara "Indonesia Net Zero Summit 2021" yang digelar oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) secara virtual, Selasa (20/4/2021).

Menurutnya, saat ini dunia tengah menghasilkan 51 miliar ton gas rumah kaca internasional pada 2021. Hal ini sangat berpengaruh pada perubahan iklim bumi karena gas rumah kaca mengakibatkan gejala bahwa bumi semakin panas.

ADVERTISEMENT

"Jika hal ini berlanjut terus menerus dan gas rumah kaca tak menjadi nol, maka hal ini akan bertahan lama, bukan setahun atau ratusan tahun, tetapi ribuan tahun. Maka setiap emisi karbon yang ada senantiasa bertambah akan terus mencemari lingkungan kita," ungkap dia.

Karena itu Menteri Lingkungan Hidup periode 1978-1993 itu mendorong kebijakan yang memastikan pada 2050 tidak ada lagi karbon yang dihasilkan untuk mencegah perubahan suhu.

Meski demikian, Emil mengakui penurunan emisi tidak bisa secara instan dilakukan dan memerlukan proses. Hal itu berarti teknologi sains dalam negeri perlu mengembangkan teknologi terbarukan. Hal ini menjadi grand strategi yang harus dikejar jika Indonesia ingin menyelamatkan bumi ini.

Diakui apabila emisi karbon terus menaik, maka dan suhu juga ikut naik bertambah 1 derajat celcius bahkan lebih dari itu dari pra industri. Dengan pertambahan itu maka nantinya di tahun 2100, yakni 80 tahun dari sekarang, suhu bumi yang bergerak naik antara 4-8 derajat celcius.

"Sehingga nanti anak cucu kita yang berusia di bawah 5 tahun saat ini, pada akhir abad 21, di tahun 2100 nanti berumur 80-an tahun akan menghadapi suhu yang bergerak antara 4-8 derajat celcius dan itu yang dimaksud bisa menjadi neraka di dunia," urai Emil.

Buruknya, semua peri kehidupan dari proses sekarang ke tahun depan proses kehidupan itu akan mati. Alam atau tumbuh-tumbuhan tidak bisa bertahan jika kala iklim berubah menjadi buruk, hewan yang bergantung pada tumbuhan juga tak bisa bertahan. Bumi, ekosistem alam dan lingkungan akan babak belur, dan manusia tak punya kemampuan untuk mensubstitusi atau menganti alam ini.

"Oleh karena itu, kiamat di muka bumi ini harus bisa dicegah secepat mungkin. Nol emisi menjadi keharusan, bahkan hingga negatif kalau perlu. Tahun 2050 menjadi target Indonesia net zero emission," tutup Emil.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Garut Didorong Jadi Pusat Ekowisata dan Industri Kreatif Kulit

Garut Didorong Jadi Pusat Ekowisata dan Industri Kreatif Kulit

JAWA BARAT

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon