Harga Batu Bara Acuan Juni Tembus US$100, Tertinggi Sejak 2018
Kamis, 3 Juni 2021 | 17:23 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode Juni 2021 sebesar US$100,33/ton. Harga tersebut merupakan tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Tercatat pada November 2018 HBA mencapai US$97,90/ton. Melambungnya harga batu bara tak lantas mempengaruhi pada transaksi bahan baku pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Pasalnya pemerintah telah menetapkan batas atas harga batu bara sebesar US$70/ton.
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan HBA Juni naik US$10,59/ton dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di posisi US$9,74/ton. "HBA Juni ditetapkan sebesar US$100,33/ton," kata Agung di Jakarta, Kamis (3/6/2021).
Agung mengungkapkan tren kenaikan harga batu bara dalam dua bulan terakhir ini utamanya didorong oleh peningkatan permintaan dari Tiongkok akibat periode musim hujan di negara tersebut, serta semakin tingginya harga domestik batu bara setempat. "Kenaikan permintaan (Tiongkok) untuk keperluan pembangkit listrik yang melampaui kapasitas pasokan batu bara domestik," ujarnya.
Musim hujan ekstrem, sambung Agung, ikut memperketat kapasitas pasokan batu bara Tiongkok. "Faktor ini yang memicu harga batu bara global ikut terimbas naik," ungkapnya.
Perhitungan nilai HBA diperoleh dari rata-rata empat indeks harga batu bara dunia, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya.
Sebagai catatan, nilai HBA sejak tahun 2021 cukup fluktuatif. Dibuka pada level US$75,84/ton di Januari, HBA mengalami kenaikan pada Februari US$87,79/ton, sempat turun di Maret US$84,47/ton. Sementara dalam dua bulan terakhir, HBA mengalami kenaikan, yaitu US$86,68/ton di April dan di Mei sebesar US$89,74/ton.
Sebagai informasi, perubahan HBA diakibatkan juga oleh faktor turunan supply dan faktor turunan demand. Untuk faktor turunan supply dipengaruhi oleh cuaca, teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.
Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




