Bank Danamon Bukukan Laba Bersih Rp2,99 Triliun
Rabu, 17 Oktober 2012 | 21:45 WIB
Laba bersih tersebut ditunjang oleh pendapatan operasional yang bertumbuh 17 persen dari Rp10,97 triliun menjadi Rp12,89 triliun
PT Bank Danamon Indonesia Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp2,99 triliun hingga kuartal III-2012 atau bertumbuh sebesar 22 persen dari Rp2,45 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih tersebut ditunjang oleh pendapatan operasional yang bertumbuh 17 persen dari Rp10,97 triliun menjadi Rp12,89 triliun. Sedangkan pendapatan jasa tercatat bertumbuh 10 persen dari Rp3 triliun menjadi Rp3,30 triliun.
“Dengan demikian, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang bertumbuh 20 persen (year on year/yoy) dari Rp7,97 triliun menjadi Rp9,59 triliun,” kata Direktur Keuangan Bank Danamon Vera Eve Lim dalam paparan kinerja triwulan III-2012 di Jakarta, hari ini.
Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) Bank Danamon tercatat menurun 0,1 persen dari 10 persen menjadi 9,9 persen. Vera melihat, dengan kompetisi yang semakin ketat di pasar, NIM akan terus menurun. Sebab itu, perseroan juga harus dapat mengimbangi pendapatan operasional non bunga, terutama berbasis biaya (fee based income).
“Target kami adalah kontribusi fee income bisa meningkat 30 persen dalam 3 tahun ke depan. Sekarang masih 26 persen dari total laba operasional, sudah meningkat karena dulu masih 14 persen,” katanya.
Pendapatan operasional dipicu oleh pertumbuhan kredit pada segmen mass market atau ritel, usaha kecil menengah (UKM), dan segmen wholesale (korporasi). Hingga September 2012, perseroan telah menyalurkan total kredit outstanding sebesar Rp113 triliun atau bertumbuh 16 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp97 triliun.
Vera menjelaskan, porsi kredit segmen mass market bertumbuh sebesar 14 persen dibandingkan tahun lalu menjadi Rp64 triliun. Kontribusi segmen tersebut mencapai 57 persen kepada total portofolio kredit. Pertumbuhan kredit segmen UKM mencapai 25 persen menjadi Rp17 triliun dan kredit segmen wholesale bertumbuh sebesar 21 persen menjadi Rp14 triliun.
Dia mengakui, pertumbuhan kredit perseroan sebesar 16 persen di bawah pertumbuhan kredit industri, karena dampak penerapan aturan uang muka (down payment/DP) minimum. Aturan tersebut berdampak besar terutama di sisi anak usaha, yaitu PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance), yang mayoritas bergerak di pembiayaan sepeda motor.
“Aturan DP itu diterapkan pada Juli 2012 dan sekarang sudah mulai terasa dampaknya ke segmen mass market, kemudian terhadap total kredit. Total pembiayaan Adira Finance mencapai Rp45 triliun atau bertumbuh 15 persen, namun pembiayaan sepeda motor itu hanya 5 persen,” papar Vera.
Secara keseluruhan, perseroan masih optimistis pada akhir tahun pertumbuhan kredit minimal dapat mencapai 20 persen, sehingga tidak jauh dari prediksi Bank Indonesia sekitar 23-25 persen tahun ini. Pasalnya, pertumbuhan kredit UKM dan pembiayaan mobil masih bisa menggantikan penurunan yang terjadi di pembiayaan sepeda motor.
Bank Danamon mencatat penurunan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross dari 2,4 persen menjadi 2,9 persen. Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) tercatat menurun dari 51,3 persen menjadi 50,1 persen. Total aset tercatat bertumbuh 10 persen dari Rp136,07 triliun menjadi Rp150,10 triliun.
Sedangkan di sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), perseroan mencatat pertumbuhan tipis sebesar 2 persen (yoy) dari Rp86,99 triliun menjadi Rp88,30 triliun. Dengan begitu, rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) meningkat dari 99,5 persen menjadi 103,5 persen. Vera mengatakan, kendati LDR tinggi, rasio kredit terhadap pendanaan (loan to funding/LTF) masih di level 89,3 persen.
“LDR itu hanya menghitung DPK, sedangkan LTF itu termasuk pendanaan jangka panjang. Rata-rata 20 persen dari pendanaan kami itu dana jangka panjang, misalnya obligasi. Ditambah rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 18,7 persen, sebenarnya kami masih punya banyak ruang untuk kredit,” jelas Vera.
Akuisisi Oleh DBS
Terkait akuisisi oleh DBS Holdings, Direktur Kepatuhan Bank Danamon Fransiska Oei mengatakan, hingga kini perseroan masih sama-sama menunggu bersama PT Bank DBS Indonesia atas proses yang masih dilakukan BI. Sebenarnya, berdasarkan regulasi, selama dokumen sudah komplet, proses sebuah akuisisi dapat dilakukan dalam waktu 30 hari.
“Tapi untuk mencapai kompletnya dokumentasi itu ‘kan masih panjang antara BI dan DBS. Bank sentral harus melihat kelengkapan dokumen. Kalau ada yang kurang, harus dijelaskan lagi,” ungkapnya.
PT Bank Danamon Indonesia Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp2,99 triliun hingga kuartal III-2012 atau bertumbuh sebesar 22 persen dari Rp2,45 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih tersebut ditunjang oleh pendapatan operasional yang bertumbuh 17 persen dari Rp10,97 triliun menjadi Rp12,89 triliun. Sedangkan pendapatan jasa tercatat bertumbuh 10 persen dari Rp3 triliun menjadi Rp3,30 triliun.
“Dengan demikian, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang bertumbuh 20 persen (year on year/yoy) dari Rp7,97 triliun menjadi Rp9,59 triliun,” kata Direktur Keuangan Bank Danamon Vera Eve Lim dalam paparan kinerja triwulan III-2012 di Jakarta, hari ini.
Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) Bank Danamon tercatat menurun 0,1 persen dari 10 persen menjadi 9,9 persen. Vera melihat, dengan kompetisi yang semakin ketat di pasar, NIM akan terus menurun. Sebab itu, perseroan juga harus dapat mengimbangi pendapatan operasional non bunga, terutama berbasis biaya (fee based income).
“Target kami adalah kontribusi fee income bisa meningkat 30 persen dalam 3 tahun ke depan. Sekarang masih 26 persen dari total laba operasional, sudah meningkat karena dulu masih 14 persen,” katanya.
Pendapatan operasional dipicu oleh pertumbuhan kredit pada segmen mass market atau ritel, usaha kecil menengah (UKM), dan segmen wholesale (korporasi). Hingga September 2012, perseroan telah menyalurkan total kredit outstanding sebesar Rp113 triliun atau bertumbuh 16 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp97 triliun.
Vera menjelaskan, porsi kredit segmen mass market bertumbuh sebesar 14 persen dibandingkan tahun lalu menjadi Rp64 triliun. Kontribusi segmen tersebut mencapai 57 persen kepada total portofolio kredit. Pertumbuhan kredit segmen UKM mencapai 25 persen menjadi Rp17 triliun dan kredit segmen wholesale bertumbuh sebesar 21 persen menjadi Rp14 triliun.
Dia mengakui, pertumbuhan kredit perseroan sebesar 16 persen di bawah pertumbuhan kredit industri, karena dampak penerapan aturan uang muka (down payment/DP) minimum. Aturan tersebut berdampak besar terutama di sisi anak usaha, yaitu PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance), yang mayoritas bergerak di pembiayaan sepeda motor.
“Aturan DP itu diterapkan pada Juli 2012 dan sekarang sudah mulai terasa dampaknya ke segmen mass market, kemudian terhadap total kredit. Total pembiayaan Adira Finance mencapai Rp45 triliun atau bertumbuh 15 persen, namun pembiayaan sepeda motor itu hanya 5 persen,” papar Vera.
Secara keseluruhan, perseroan masih optimistis pada akhir tahun pertumbuhan kredit minimal dapat mencapai 20 persen, sehingga tidak jauh dari prediksi Bank Indonesia sekitar 23-25 persen tahun ini. Pasalnya, pertumbuhan kredit UKM dan pembiayaan mobil masih bisa menggantikan penurunan yang terjadi di pembiayaan sepeda motor.
Bank Danamon mencatat penurunan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross dari 2,4 persen menjadi 2,9 persen. Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) tercatat menurun dari 51,3 persen menjadi 50,1 persen. Total aset tercatat bertumbuh 10 persen dari Rp136,07 triliun menjadi Rp150,10 triliun.
Sedangkan di sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), perseroan mencatat pertumbuhan tipis sebesar 2 persen (yoy) dari Rp86,99 triliun menjadi Rp88,30 triliun. Dengan begitu, rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) meningkat dari 99,5 persen menjadi 103,5 persen. Vera mengatakan, kendati LDR tinggi, rasio kredit terhadap pendanaan (loan to funding/LTF) masih di level 89,3 persen.
“LDR itu hanya menghitung DPK, sedangkan LTF itu termasuk pendanaan jangka panjang. Rata-rata 20 persen dari pendanaan kami itu dana jangka panjang, misalnya obligasi. Ditambah rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 18,7 persen, sebenarnya kami masih punya banyak ruang untuk kredit,” jelas Vera.
Akuisisi Oleh DBS
Terkait akuisisi oleh DBS Holdings, Direktur Kepatuhan Bank Danamon Fransiska Oei mengatakan, hingga kini perseroan masih sama-sama menunggu bersama PT Bank DBS Indonesia atas proses yang masih dilakukan BI. Sebenarnya, berdasarkan regulasi, selama dokumen sudah komplet, proses sebuah akuisisi dapat dilakukan dalam waktu 30 hari.
“Tapi untuk mencapai kompletnya dokumentasi itu ‘kan masih panjang antara BI dan DBS. Bank sentral harus melihat kelengkapan dokumen. Kalau ada yang kurang, harus dijelaskan lagi,” ungkapnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




