ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

OCBC NISP Proyeksi IHSG Tembus 6.800 di Akhir Tahun, Ini Pemicunya

Sabtu, 24 Juli 2021 | 21:33 WIB
GR
WP
Penulis: Gita Rossiana | Editor: WBP
Pengunjung menggunakan ponselnya foto monitor pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.
Pengunjung menggunakan ponselnya foto monitor pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Beritasatu Photo/Uthan A Rachim)

Jakarta, Beritasatu.com -PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) memproyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada tahun ini bisa menembus level 6.400-6.800. Rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dua perusahaan teknologi raksasa menjadi salah satu katalis peningkatan indeks di akhir tahun 2021.

Wealth Management Head Bank OCBC NISP Juky Mariska mengatakan, pada Juni 2021, IHSG bergerak sideways di kisaran 5.950 hingga 6.100 atau hanya meningkat 0,64%. Melandainya pergerakan indeks disebabkan berkembangnya varian Covid-19, yakni delta yang cukup menyita perhatian investor. "Berkembangnya varian delta menimbulkan pernyataan para ahli yang mengungkapkan bahwa suntikan vaksin ekstra harus dipertimbangkan untuk mendapatkan perlindungan lebih," jelas dia dalam keterangan resmi, Sabtu (24/7/2021).

Dengan menyebarnya varian delta itu, pemerintah menyikapi dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sejak 3 Juli hingga 25 Juli mendatang. Pemberlakuan PPKM ini mengkhawatirkan pelaku pasar karena pemerintah bisa saja melakukan lockdown secara penuh, meski hal itu dihindari. "Menyikapi hal itu, investor lebih banyak mengambil sikap wait and see daripada sikap panic selling," kata dia.

Sementara dari sisi global, investor dikejutkan sikap The Fed yang membahas waktu melakukan program pelonggaran kuantitatifnya. Bank sentral juga memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga dapat dimulai pada 2023, lebih awal dari sebelumnya.

ADVERTISEMENT

Terlepas dari nada hawkish (agresif), The Fed cenderung keluar dari kebijakan dovish-nya secara bertahap, yakni dimulai dengan memperlambat pembelian obligasi dari awal 2022. Kehati-hatian The Fed seharusnya tetap menguntungkan aset risiko pada sisa 2021 dengan mempertahankan tingkat bunga di level 0-0,25% dan masih membeli obligasi senilai US$ 120 miliar per bulan untuk mendukung ekonominya.

Ke depan, investor yang tenang dan oportunistik akan mencari saham pada sektor-sektor yang kurang baik pada bulan Juni seperti transportasi dan logistik yang terkoreksi 6,72%, properti & real estate yang menurun 5,54% dan non-cyclicals konsumen yang terkontraksi 3,39%. Rencana IPO GoTo dan pencatatan saham (listing) Bukalapak bulan depan juga akan menjadi fokus investor. Pasalnya, hal ini akan menjadi ujung tombak revolusi teknologi di Indonesia dan membantu menggeser ekonomi lama ke ekonomi baru.

Obligasi
Sementara di pasar obligasi mencatat kerugian pada Juni lalu. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah 10 tahun naik 2,62% ke level 6,59%. Pergerakan tersebut didorong oleh berbagai faktor seperti varian delta Covid-19 yang meredam pergerakan indeks dan menimbulkan depresiasi rupiah.

Namun, investor asing masih mencatatkan inflow sebesar Rp 18,07 triliun pada Juni yang menandakan sebagian besar aksi jual didominasi investor domestik. Karenanya, dengan penawaran real yield yang relatif lebih tinggi, Juky menilai, obligasi masih akan mendukung untuk sisa 2021. "Kami masih mempertahankan proyeksi tahun sebelumnya dengan proyeksi akhir yield obligasi pemerintah 10 tahun di kisaran 6,15-6,5%," jelas dia.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon