ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Holding Ultra Mikro Terbentuk, Saham BRI Berpotensi Tembus Rp 5.000

Rabu, 15 September 2021 | 14:23 WIB
NL
FB
Penulis: Novy Lumanauw | Editor: FMB
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso dalam press conference Penandatanganan Akta Inbreng Ultra Mikro yang diselenggarakan secara daring, Senin, 13 September 2021
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso dalam press conference Penandatanganan Akta Inbreng Ultra Mikro yang diselenggarakan secara daring, Senin, 13 September 2021 (Beritasatu.com/Herman)

Jakarta, Beritasatu.com – Saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) berpotensi menembus harga tertinggi sebelumnya Rp 4.950 didorong Holding Ultra Mikro sebagai sumber pertumbuhan baru perseroan.

Pengamat Pasar Modal Asosiasi Analis Efek Indonesia Reza Priyambada mengatakan, penawaran harga saham baru BRI Rp 3.400 per lembar tergolong sangat menarik. Terlebih, harga saham BBRI saat ini tergolong stabil di kisaran Rp 3.800 hingga Rp 4.000.

"Tentu ini sangat menarik seharusnya dengan harga seperti itu (Rp 3.400). Apa lagi kalau dilihat posisi tertinggi BRI yang pernah dicapai adalah Rp 4.950 maka potensi gain-nya cukup tinggi untuk mencetak rekor lagi," kata Reza melalui keterangan tertulis, pada Rabu (15/9/2021).

Reza menuturkan BRI punya potensi pengembangan kinerja yang sangat besar dengan pembentukan Holding UMi tahun ini. Seperti diketahui pada Senin (13/9), Menteri BUMN Erick Thohir, Direktur Utama BRI Sunarso, Direktur Utama PT Pegadaian Kuswiyoto dan Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani atau PNM Arief Mulyadi menandatangani Akta Inbreng sebagai salah satu proses pembentukan Holding UMi.

ADVERTISEMENT

Integrasi strategis ini, lanjutnya, dapat menjadi peluang besar bagi BBRI untuk mendiversifikasi bisnisnya sehingga penetrasi ke pasar akan lebih dalam dan menciptakan ekosistem penyaluran kredit yang kuat untuk memacu pertumbuhan kinerja di masa datang.

Di sisi lain, kata Reza, investor memiliki optimisme atas prospek bisnis Holding Umi ke depan, di mana BRI berperan sebagai induk bakal memperkuat ekosistem usaha UMi bersama Pegadaian dan PNM.

"Bagaimana pun kinerja historis dan prospeknya ini sangat besar dan lebih pasti. Holding pun akan menambah optimisme investor untuk terus mengapresiasi saham BBRI lebih lanjut. Potensi peningkatan harganya juga sangat tinggi," kata Reza.

Optimisme terkait kinerja saham BBRI yang akan kembali mencatatkan rekor harga tertingginya diungkapkan pula pengamat pasar modal sekaligus Founder Indonesia Superstocks Community Edhi Pranasidhi. Dia bahkan mencatat ada 10 investor besar yang melakukan penjualan saham BBRI puluhan juta lot pada 2020.

Menurutnya, hal itu dilakukan untuk menunggu momentum yang lebih baik guna menyerap kembali BBRI di masa datang. Dia berpendapat penerbitan saham guna pembentukan holding adalah momentum yang sangat tepat untuk kembali berinvestasi di BBRI.

Proyeksi aksi beli dalam jumlah besar akan mendorong peningkatan harga BBRI yang cukup signifikan. "Sepanjang 2020 ada 10 top brokerage houses melakukan aksi jual. Investor pun harus mewaspadai program buying setidaknya dari 5 investor besar tersebut baik pada sebelum maupun setelah penerbitan saham Bank BRI," ungkapnya.

Edhi berpendapat harga pelaksanaan rights issue BRI sebesar Rp 3.400 per saham tergolong sangat murah. Bahkan, keuntungan dapat tetap dicetak investor hanya dengan menggunakan hak dan menjualnya pada hari pertama perdagangan setelah aksi korporasi.

"Maka dari itu, memang akan sangat untung jika menggunakan hak. Ini adalah momentum spesial. emiten yang menjual menerapkan harga di bawah harga pasar itu selalu menarik dan menguntungkan," jelasnya.

Lebih lanjut, Edhi mengatakan investor pun akan mendapat untung lebih besar lagi jika berkomitmen untuk periode yang lebih panjang. "Menebus HMETD berpotensi memberikan return hingga 32% pada harga maksimal Rp5.025 atau 2,5 kali harga buku dalam 12 bulan investasi," ujarnya.

Sebelumnya, manajemen BRI melaksanakan public expose secara daring, pada 9 September 2021. Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari mengungkapkan bahwa sekitar 60%-70% dana hasil rights issue untuk modal kerja holding UMi bersama Pegadaian dan PNM.

Adapun sisanya untuk modal kerja bisnis mikro dan kecil. Dalam prospektus yang diterbitkan Selasa (31/8), manajemen BRI menawarkan sebanyak-banyaknya 28,213 miliar Saham Baru Seri B atas nama dengan nilai nominal Rp50 per saham atau sebanyak-banyaknya 18,62% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon