Beli Pesawat Baru, Garuda Indonesia Cari Pinjaman Rp1,1 Triliun
Selasa, 20 November 2012 | 08:05 WIB
Pinjaman itu merupakan bagian dari fasilitas kredit sindikasi tujuh bank lokal dan asing senilai total US$200 juta
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) segera mengantongi pinjaman sebesar US$120 juta atau setara Rp1,1 triliun. Dana tersebut akan dipakai untuk membeli pesawat baru Boeing dan Airbus.
“Pinjaman sebesar US$120 juta bakal dikantongi perseroan dalam waktu sepekan ke depan,” kata Direktur Keuangan Garuda Indonesia Handrito Hardjono di Jakarta, Senin (19/11).
Pinjaman itu merupakan bagian dari fasilitas kredit sindikasi tujuh bank lokal dan asing senilai total US$200 juta. Jangka waktu pinjaman selama dua tahun. Handrito belum bersedia menyebut nama tujuh kreditor tersebut. Menurut dia, perseroan akan mengumumkan nama-nama bank, tanggal penandatanganan perjanjian pinjaman, dan informasi lainnya dalam waktu dekat.
Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan, perseroan akan mendatangkan 24 unit pesawat baru tahun depan senilai total US$2,25 miliar atau Rp21,4 triliun. Pesawat-pesawat tersebut terdiri atas empat unit Boeing 777-300 ER, tiga unit Airbus 330 (dua unit 330-200 dan satu unit 330-300), 10 unit Boeing 737-800 NG, dan tujuh Bombardier CRJ 1.000. Menurut Emir, ke-24 pesawat tersebut akan menambah armada Garuda yang saat ini mencapai 95 unit pesawat.
“Harga pesawat Boeing 777 sekitar US$150 juta per unit, Airbus 330 US$100 juta, Boeing 737 senilai US$50 juta, dan Bombardier senilai US$20-25 juta,” jelas dia, baru-baru ini.
Pesawat-pesawat baru itu akan melayani rute-rute domestik dan internasional. Boeing 777 dan Airbus akan dipergunakan untuk penerbangan ke luar negeri, menggantikan Boeing 747 yang sudah tua. layani 32 rute penerbangan domestik dan 18 rute internasional.
Sebagai kelanjutan program pengembangan armada, tahun ini Garuda akan menerima 20 pesawat, yang terdiri atas empat Boeing B737-800NG, dua Airbus A330-200, sembilan Airbus A320 untuk Citilink, dan lima sub 100 seaters Bombardier CRJ1000 NextGen.
Dengan demikian, Garuda akan mengoperasikan 105 pesawat pada akhir 2012 dengan rata-rata usia 5,8 tahun. Sementara itu, melalui program quantum leap, Garuda Indonesia akan mengoperasikan sebanyak 194 pesawat pada 2015.
Ekspansi usaha itu juga mendapat dukungan dari lembaga pembiayaan ekspor asal Kanada (Export Development Canada/EDC). EDC siap menyediakan fasilitas pembiayaan senilai US$135 juta kepada Garuda Indonesia untuk membeli lima pesawat Bombardier CRJ1000 NextGen hingga 2013.
“EDC telah menyanggupi pembiayaan sebesar US$135 juta atau 80 persen dari total kebutuhan dana pembelian pesawat Bombardier. Sisanya 20 persen akan didanai kas internal,” kata Handrito Hardjono, belum lama ini.
Pesawat Bombardier CRJ1000 NextGen sebelumnya bertipe CRJ900X yang merupakan perpanjangan dari CRJ900. Kapasitas penumpang pesawat itu sebanyak 100 orang.
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) segera mengantongi pinjaman sebesar US$120 juta atau setara Rp1,1 triliun. Dana tersebut akan dipakai untuk membeli pesawat baru Boeing dan Airbus.
“Pinjaman sebesar US$120 juta bakal dikantongi perseroan dalam waktu sepekan ke depan,” kata Direktur Keuangan Garuda Indonesia Handrito Hardjono di Jakarta, Senin (19/11).
Pinjaman itu merupakan bagian dari fasilitas kredit sindikasi tujuh bank lokal dan asing senilai total US$200 juta. Jangka waktu pinjaman selama dua tahun. Handrito belum bersedia menyebut nama tujuh kreditor tersebut. Menurut dia, perseroan akan mengumumkan nama-nama bank, tanggal penandatanganan perjanjian pinjaman, dan informasi lainnya dalam waktu dekat.
Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan, perseroan akan mendatangkan 24 unit pesawat baru tahun depan senilai total US$2,25 miliar atau Rp21,4 triliun. Pesawat-pesawat tersebut terdiri atas empat unit Boeing 777-300 ER, tiga unit Airbus 330 (dua unit 330-200 dan satu unit 330-300), 10 unit Boeing 737-800 NG, dan tujuh Bombardier CRJ 1.000. Menurut Emir, ke-24 pesawat tersebut akan menambah armada Garuda yang saat ini mencapai 95 unit pesawat.
“Harga pesawat Boeing 777 sekitar US$150 juta per unit, Airbus 330 US$100 juta, Boeing 737 senilai US$50 juta, dan Bombardier senilai US$20-25 juta,” jelas dia, baru-baru ini.
Pesawat-pesawat baru itu akan melayani rute-rute domestik dan internasional. Boeing 777 dan Airbus akan dipergunakan untuk penerbangan ke luar negeri, menggantikan Boeing 747 yang sudah tua. layani 32 rute penerbangan domestik dan 18 rute internasional.
Sebagai kelanjutan program pengembangan armada, tahun ini Garuda akan menerima 20 pesawat, yang terdiri atas empat Boeing B737-800NG, dua Airbus A330-200, sembilan Airbus A320 untuk Citilink, dan lima sub 100 seaters Bombardier CRJ1000 NextGen.
Dengan demikian, Garuda akan mengoperasikan 105 pesawat pada akhir 2012 dengan rata-rata usia 5,8 tahun. Sementara itu, melalui program quantum leap, Garuda Indonesia akan mengoperasikan sebanyak 194 pesawat pada 2015.
Ekspansi usaha itu juga mendapat dukungan dari lembaga pembiayaan ekspor asal Kanada (Export Development Canada/EDC). EDC siap menyediakan fasilitas pembiayaan senilai US$135 juta kepada Garuda Indonesia untuk membeli lima pesawat Bombardier CRJ1000 NextGen hingga 2013.
“EDC telah menyanggupi pembiayaan sebesar US$135 juta atau 80 persen dari total kebutuhan dana pembelian pesawat Bombardier. Sisanya 20 persen akan didanai kas internal,” kata Handrito Hardjono, belum lama ini.
Pesawat Bombardier CRJ1000 NextGen sebelumnya bertipe CRJ900X yang merupakan perpanjangan dari CRJ900. Kapasitas penumpang pesawat itu sebanyak 100 orang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




