Digugat Uni Eropa ke WTO, Jokowi: Kita Lawan dengan Cara Apa pun
Kamis, 18 November 2021 | 20:49 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan tak gentar dan takut atas gugatan Uni Eropa ke Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) karena mengeluarkan kebijakan melarang ekspor nikel. Presiden Jokowi menegaskan akan melawan dengan cara apapun terhadap gugatan tersebut.
"Kebijakan kita mengenai hilirisasi ini akan kita teruskan. Kalau sudah setop nikel, ya nikel setop. Meskipun kita dibawa ke WTO oleh Uni Eropa, silakan enggak apa-apa. Ini nikel kita kok, dari bumi negara kita kok, silakan," kata Jokowi saat memberikan pidato kunci dalam acara Kompas 100 CEO Forum, Kamis (18/11/2021).
Diungkapkan Jokowi, sewaktu menghadiri KTT G-20 di Roma, Italia, banyak negara-negara yang menyampaikan keluhan terhadap kebijakan penghentian ekspor nikel yang dikeluarkannya. Jokowi memberikan alasan dibalik terbitnya kebijakan itu. Salah satunya, ia ingin menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya di Indonesia.
"Kalau saya buka nikel dan saya kirim raw material dari Indonesia ke Eropa, ke negara-negara lain, yang buka lapangan kerja mereka dong. Kita enggak dapat apa-apa. tapi kalau mau kerja sama, ayo, kerja sama setengah jadi di Indonesia enggak apa-apa, nanti setengah jadinya dikirim ke negaramu, jadikan barang jadi, enggak apa-apa kok. Kita terbuka, tapi bikin di sini, invest di sini," ujar Jokowi.
Ditegaskannya, Indonesia tidak menutup diri terhadap negara lain, justru Indonesia adalah negara yang terbuka. Namun, Jokowi menegaskan Indonesia tak mau jika disuruh mengirimkan bahan mentah nikel atau produk tambang lainnya.
"Ndak, ndak, ndak. Setop. Jangan berpikir Indonesia akan kirim bahan mentah. Nikel pertama kita setop, tahun depan mungkin kita bisa setop bauksit, kalau smelter kita sudah siap, kita setop bauksit. Tinggal kita bisa membuka lapangan kerja, hilirisasi dan industrialisasi di negara kita," jelas Jokowi.
Tidak hanya menghentikan ekspor bahan mentah nikel dan bauksit, Jokowi juga akan menghentikan ekspor tembaga. Hal itu akan dilakukannya ketika pembangunan smelter di Kota Gresik rampung.
"Smelter kita di Gresik ini sudah mungkin hampir selesai. Kita setop. Kenapa kita lakukan ini, kita ingin nilai tambah, added value. Kita ingin menciptakan lapangan kerja yang sebanyak-banyaknya," terang Jokowi.
Ketegasan pemerintah menghentikan ekspor produk tambang telah disadari oleh negara-negara lain. Dengan demikian, negara lain harus melakukan invasi atau bermitra dengan Indonesia untuk mendapatkan produk tambang tersebut.
"Pilihannya itu saja. Silakan mau invest sendiri bisa, mau dengan swasta silakan, mau dengan BUMN silakan. Kita terbuka. Jangan kamu tarik-tarik kita ke WTO gara-gara setop kirim raw material. Ndak, ndak, dengan cara apa pun akan kita lawan," tegas Jokowi.
Dijelaskan Jokowi, jika raw material nikel dijadikan besi baja, maka akan memiliki nilai tambah 10 kali lipat. Saat ini, katanya, lompatan ekspor nasional sudah tinggi. Hingga akhir tahun, Jokowi memprediksi jumlah ekspor akan mencapai US$ 20 miliar. Hal ini lantaran hingga Oktober saja, nilai ekspor sudah mencapai US$ 16,5 miliar.
"Perkiraan saya, estimasi saya bisa US$ 20 miliar hanya dari kita setop nikel. Dan perkiraan saya kalau jadi barang-barang yang lain, perkiraan saja US$ 35 miliar hanya satu barang. Bauksit dan tembaga juga sama. Mengapa berpuluh-puluh tahun kita tidak lakukan ini. Sehingga nanti neraca perdagangan kita baik, neraca transaksi kita berjalan menjadi semakin baik," terang Jokowi.
Ia mencontohkan ekspor besi baja yang menyebabkan terjadinya defisit perdagangan Indonesia dengan Tiongkok yang begitu tinggi. Di 2018, defisit perdagangan mencapai minus US$ 18,5 miliar. Kemudian di tahun 2020 mengalami penurunan menjadi minus US$ 7,85 miliar dan di sampai Oktober 2021, defisit perdagangan sudah berhasil ditekan hingga tinggal minus US$ 1,5 miliar.
"Nanti tahun depan, 2022, saya yakin kita sudah plus terhadap perdagangan kita dengan RRT. Saya yakin itu. Kalau kita lakukan untuk tembaga, timah dan semuanya, bisa dibayangkan devisa kita nanti seperti apa," ungkap Jokowi.
"Inilah strategi yang kita semuanya harus sama. Tapi yang lebih penting lagi, tidak hanya dilakukan hilirisasi, industrialisasi, tetapi bagaimana mengintegrasikan ini, nikel terintegrasi dengan tembaga, terintegrasi dengan timah, terintegrasi dengan bauksit semuanya. Kalau terintegrasi nanti barang jadinya kan betul-betul dari kita semuanya," lanjut Jokowi.
Begitu juga dengan produk stainless steel yang menjadi bahan pembuatan jarum suntik. Permintaan dunia terhadap jarum suntik mencapai 10 miliar sekarang ini, dan Indonesia masih mengimpor jarum suntik.
"Sebentar lagi, kita bisa bikin ini karena barangnya sudah kita setop. Mau tidak mau orang harus bikin di sini. Sudah sebentar lagi kita sudah bisa produksi jarum suntik, enggak tahu berapa miliar nanti produksinya. Inilah yang saya sampaikan mengenai integrasi. Artinya kita optimistis dengan setop ekspor raw material, kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih dan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya," papar Jokowi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




