ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sinar Mas Bangun Pabrik Oleokimia Senilai Rp2,8 Triliun

Jumat, 7 Desember 2012 | 08:07 WIB
MA
B
Penulis: Muihammad Aulia | Editor: B1
Ilustrasi Sinar Mas Group
Ilustrasi Sinar Mas Group (JG Photo)
Lahan untuk loksai pabrik juga telah tersedia dan sedang memasuki tahap persiapan pembangunan

Sinar Mas Group akan membangun pabrik oleokimia terbarukan di Dumai, Provinsi Riau. Nilai investasinya diperkirakan mencapai Rp2-2,8 triliun. Saat ini, perusahaan sedang menyiapkan rencana investasi tersebut.

Ketika dikonfirmasi, Managing Director Sinar Mas Group Gandi Sulistiyanto membenarkan rencana investasi itu. Lahan untuk loksai pabrik juga telah tersedia dan sedang memasuki tahap persiapan pembangunan.

“Kami memang ada rencana untuk membangun pabrik oleokimia. Namun maaf, kami tidak bisa berkomentar banyak. Yang jelas, saat ini Sinar Mas sedang mempersiapkan semuanya, termasuk lahan,” kata Gandi di Jakarta, Kamis (6/12).

Sementara itu, Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Benny Wachyudi mengaku telah memperoleh informasi terkait rencana Sinar Mas Group tersebut, yang akan dilaksanakan oleh anak perusahaannya. Perseroan akan membangun industri hilir kelapa sawit di Dumai.

Benny telah mendengar bahwa nilai investasinya lebih dari Rp2 triliun. “Mereka belum mengajukan permohonan pemberlakukan insentif tax holiday (bebas pajak penghasilan periode tertentu). Mungkin sedang mempertimbangkan, apakah akan minta tax holiday atau tax allowance (mendapatkan potongan pajak peng- hasilan),” kata Benny.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri Kemenperin Haris Munandar mengaku, pihaknya sedang berkomunikasi dengan perusahaan industri agro nasional terkait pengajuan permohonan insentif tax holiday. Namun, dia tidak mau menyebutkan namanya karena perusahaan yang akan investasi yang berhak untuk menjelaskannya.

Perusahaan tersebut akan membangun pabrik produk yang berbasis minyak kelapa sawit (crude palm oil/ CPO). Investasi itu berpotensi menyerap tenaga kerja hingga 1.000 orang pada tahap pembangunan dan 500 orang pada tahap pabrik beroperasi.

“Investasinya memang besar. Termasuk working capital (modal kerja) setidaknya bisa mencapai US$245 juta,” kata Haris.

Dia melanjutkan, perusahaan nasional tersebut belum mengajukan permohonan insentif secara resmi dan baru berkonsultasi dengan Kemenperin. Namun melihat perkiraan nilai investasinya, investor ini berpeluang memperoleh tax holiday.

Apalagi, perusahaan itu akan menerapkan teknologi modern yang memerhatikan kelangsungan lingkungan (green industry). “Jadi, dari sisi besaran investasi, serapan tenaga kerja, pionir, hingga teknologi ramah lingkungan yang akan diterapkannya sudah sesuai dengan syarat pemberian tax holiday,” tuturnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon