ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Menkeu: Pandemi Belum Usai, Muncul Risiko Baru Global

Kamis, 10 Februari 2022 | 13:09 WIB
TP
WP
Penulis: Triyan Pangastuti | Editor: WBP
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR.

Jakarta, Beritasatu.com- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan di tengah upaya mengendalikan pandemi Covid-19 varian Omicron, pemerintah dihadapkan dengan berbagai risiko baru mulai kenaikan inflasi di negara maju, lonjakan suku bunga acuan oleh bank sentral di berbagai negara, hingga terganggunya rantai pasok.

Sri Mulyani mengatakan pandemi Covid-19 di Indonesia sudah berlangsung hampir 3 tahun yang menimbulkan berbagai tantangan bagi pemulihan ekonomi yang harus tetap dimitigasi. "Kami tahu ini belum selesei (pandemi Covid-19), the battle is still on going sekarang kita masih hadapi Omicron. Di saat yang sama, muncul kompleksitas baru yang disebut sebagai environment policy kita, kenapa? Sebab semua negara dunia hadapi Covid-19 dan semua lakukan policy mix untuk menghadapinya," tutur dia dalam acara BRI Microfinance, Kamis (10/2/2022).

Baca Juga: Sri Mulyani Waspadai Empat Faktor Risiko Global

Bahkan di saat menghadapi pandemi, justru ada negara yang tidak miliki space fiskal dan moneter karena sudah mengalami krisis seperti Argentina. Ada juga negara yang membuat policy mix justru makin memperburuk situasi. Oleh karena itu pemerintah harus memformulasikan kebijakan secara tepat dan merata untuk mendukung pemulihan ekonomi.

ADVERTISEMENT

"Jadi ekonomi dan sosial sangat tertekan tak hanya karena Covid-19 tapi karena policy mix. Ada yang bisa lakukan countercylical secara cepat, tetapi setiap negara akses ke vaksin berbeda, ini sebabkan kecepatan pemulihan ekonomi tidak sama, ada yang kecepatan sangat tinggi, rebound, dan recover dan ada juga yang masih tertinggal. Ini merupakan konsekuensi kompleksitas policy kita makin tinggi," ucapnya.

Menurutnya pemulihan ekonomi di awal tahun semakin kuat di berbagai negara yang ditandai meningkatnya sisi permintaan alhasil menimbulkan inflasi tinggi karena sisi suplai terdisrupsi. Di sisi lain ada fakor kekurangan tenaga kerja dan kenaikan harga komoditas.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Benarkah Ada Simulasi Pandemi pada Epstein Files? Ini Fakta Sebenarnya

Benarkah Ada Simulasi Pandemi pada Epstein Files? Ini Fakta Sebenarnya

INTERNASIONAL
Menkes Budi Minta Update Rutin Program MBG Mirip Sistem Data Covid-19

Menkes Budi Minta Update Rutin Program MBG Mirip Sistem Data Covid-19

LIFESTYLE
Komisi IX Sindir Kasus Keracunan MBG Mirip Pandemi Covid-19

Komisi IX Sindir Kasus Keracunan MBG Mirip Pandemi Covid-19

NASIONAL
Kasus Bakteri Resistan Obat Bisa Jadi Ancaman Global Termasuk RI!

Kasus Bakteri Resistan Obat Bisa Jadi Ancaman Global Termasuk RI!

INTERNASIONAL
Waspada! Kasus Infeksi Bakteri Resistan Obat Naik 70 Persen di AS

Waspada! Kasus Infeksi Bakteri Resistan Obat Naik 70 Persen di AS

INTERNASIONAL
WHO: Asal-usul Covid-19 Masih Misterius, Semua Hipotesis Terbuka

WHO: Asal-usul Covid-19 Masih Misterius, Semua Hipotesis Terbuka

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon