Harga Minyak Mentah Turun Akibat Sentimen Jurang Fiskal
Sabtu, 22 Desember 2012 | 08:40 WIB
Pelemahan ini dipicu kekhawatiran tidak adanya kompromi politik untuk mencegah kenaikan pajak.
Harga minyak mentah dunia pada Jumat (Sabtu pagi WIB) melemah di tengah kekhawatiran pemerintah Amerika Serikat (AS) pimpinan Barack Obama tidak mampu bertindak menghentikan jurang fiskal (fiscal cliff) hingga akhir tahun ini.
Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari, turun US$1,47 menjadi di level US$88,66 per barel.
Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Februari merosot US$1,23 menjadi ditutup pada US4108,97 per barel di perdagangan London.
Pelemahan ini dipicu kekhawatiran tidak adanya kompromi politik untuk mencegah kenaikan pajak bagi kalangan menengah dan pemotongan pengeluaran yang mulai berlaku pada Januari.
Sejumlah ekonom mengatakan, jurang fiskal bisa mendorong ekonomi terbesar dunia itu kembali ke dalam resesi. "Investor khawatir atas potensi jurang fiskal," kata analis Mizuho Securities Robert Yawger, Jumat (21/12).
Jika kekhawatiran investor meningkat, kata dia, bursa saham akan mengalami tekanan jual yang tinggi mengingat pasar minyak mentah saling mempengaruhi dengan pasar ekuitas.
Awalnya, kompromi sejumlah anggota parlemen dengan Washinghton membawa kemajuan. Namun, rencana itu belum membuahkan hasil karena Partai Republik (partai oposisi) gagal mendapat dukungan partai yang cukup, sehingga pembicaraan tidak menentu.
Tawaran kenaikan pajak yang diungkapkan pemimpin Republik John Boehner, merupakan bagian dari penawaraan kepada Presiden Barack Obama yang akan menghimpun penerimaan pajak sekitar US$1 triliun guna menutupi defisit fiskal. Selain kenaikan pajak, sejumlah hak warga negara juga akan terpangkas seperti hak perawatan kesehatan.
Harga minyak mentah dunia pada Jumat (Sabtu pagi WIB) melemah di tengah kekhawatiran pemerintah Amerika Serikat (AS) pimpinan Barack Obama tidak mampu bertindak menghentikan jurang fiskal (fiscal cliff) hingga akhir tahun ini.
Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari, turun US$1,47 menjadi di level US$88,66 per barel.
Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Februari merosot US$1,23 menjadi ditutup pada US4108,97 per barel di perdagangan London.
Pelemahan ini dipicu kekhawatiran tidak adanya kompromi politik untuk mencegah kenaikan pajak bagi kalangan menengah dan pemotongan pengeluaran yang mulai berlaku pada Januari.
Sejumlah ekonom mengatakan, jurang fiskal bisa mendorong ekonomi terbesar dunia itu kembali ke dalam resesi. "Investor khawatir atas potensi jurang fiskal," kata analis Mizuho Securities Robert Yawger, Jumat (21/12).
Jika kekhawatiran investor meningkat, kata dia, bursa saham akan mengalami tekanan jual yang tinggi mengingat pasar minyak mentah saling mempengaruhi dengan pasar ekuitas.
Awalnya, kompromi sejumlah anggota parlemen dengan Washinghton membawa kemajuan. Namun, rencana itu belum membuahkan hasil karena Partai Republik (partai oposisi) gagal mendapat dukungan partai yang cukup, sehingga pembicaraan tidak menentu.
Tawaran kenaikan pajak yang diungkapkan pemimpin Republik John Boehner, merupakan bagian dari penawaraan kepada Presiden Barack Obama yang akan menghimpun penerimaan pajak sekitar US$1 triliun guna menutupi defisit fiskal. Selain kenaikan pajak, sejumlah hak warga negara juga akan terpangkas seperti hak perawatan kesehatan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




