Sandang Status BUMN Jadi Sentimen Positif BRIS
Minggu, 13 Maret 2022 | 17:09 WIB
Jakarta, Beritasatu.com –PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI pada 2022 ditargetkan berubah status menjadi BUMN. Hal ini diperkirakan bakal menjadi satu sentimen positif bagi saham bank syariah bersandi BRIS tersebut. Saat ini lalu lintas transaksi saham BRIS terbilang baik. Mengacu data Indo Premier Sekuritas, sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) saham BRIS telah diperjualbelikan investor senilai Rp 1,74 triliun. BRIS pun cukup laku di kalangan investor asing, meski rasionya tidak besar. Rekapitulasi net buy asing sebesar Rp81,81 miliar ytd per penutupan Rabu (9/3/2022) pekan lalu.
Pendiri Syariah Saham, Asep Muhammad Saepul Islam mengatakan bahwa dengan status sebagai bank BUMN akan memberikan keuntungan kepada BSI. Investor akan melihat fleksibilitas BSI untuk mempertebal permodalan. "Apalagi kalau BSI kemudian dapat membuktikan dapat mengelola modal dengan baik untuk meningkatkan profitabilitas," kata Asep di Jakarta, Minggu (13/3/2022).
Baca Juga: Politisi PPP dan Golkar Dukung BSI Jadi Bank BUMN
Asep menjelaskan, jika menarik data dari awal tahun hingga saat ini, saham BRIS dalam tren naik. Namun harganya masih diuji pada level Rp 1.805 per saham. Dari sisi grafik, harga rata-rata setahun BRIS adalah Rp 1.895 per saham. BRIS harus mencapai level Rp 1.900 terlebih dahulu untuk naik lebih jauh. "Kalau itu tembus, boleh jadi itu akan terus naik," ujar Asep memproyeksikan.
Adapun secara fundamental kinerja BSI sangat baik. Pada tahun 2021, bank syariah terbesar di Tanah Air itu membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 38,42% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 3,03 triliun. Tingkat pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE) BSI naik dari 11,18% menjadi 13,71%. Kemudian, return on asset (ROA) juga mengalami pertumbuhan dari 1,38% menjadi 1,61%.
Sejalan dengan itu, aset bank naik 10,73% yoy menjadi Rp 265,29 triliun. Hal ini disokong oleh penyaluran pembiayaan yang mencapai Rp 171,29 triliun atau naik sekitar 9,32% yoy. Bila dirinci, pembiayaan konsumer mencapai Rp 82,33 triliun, naik sekitar 19,99% yoy.
Disusul pembiayaan gadai emas yang bertumbuh 12,92% yoy. Pada periode yang sama pembiayaan mikro tumbuh 12,77% yoy dan pembiayaan komersial naik 6,86% yoy. Kinerja positif tersebut masih berlanjut hingga awal tahun ini.
Per Januari 2022, BSI mengantongi laba bersih setelah pajak senilai Rp320,3 miliar. Jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya, bank menorehkan pertumbuhan lebih dari 40%.
Apresiasi Pasar
Sementara itu pengamat pasar modal dari Asosiasi Analis Efek Indonesia Reza Priyambada mengatakan BRIS hanya perlu menunggu apresiasi pasar. Terlebih, sejak resmi berdiri pada 1 Februari 2021 BSI mampu menunjukan kinerja impresif dan melakukan integrasi dengan baik. "BSI pernah sentuh level Rp 2.000-an. Artinya harga saat ini masih lebih rendah," katanya.
Investor, menurut Reza, masih menunggu kinerja BRIS pada tahun ini. Apabila bank dapat kembali membukukan pertumbuhan cemerlang, sentimen positif terhadap bank akan semakin kuat.
Baca Juga: Saham BRIS Berpotensi Kembali Tembus Level Rp 2.000
Hal senada disampaikan oleh President Director of CSA Institute Aria Santoso. Menurutnya kinerja positif BSI akan mendorong harga saham perseroan ke level Rp 2.000-an. Di luar dari kinerja perseroan, Aria menilai BSI memiliki prospek bisnis yang terbuka lebar.
Mengingat fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, sehingga menjadi captive market yang sangat menjanjikan bagi pertumbuhan perseroan. "Selain itu, rencana pemerintah memperkuat industri keuangan syariah hingga industri halal nasional akan berpengaruh sebagai peluang meningkatnya aktivitas bisnis dan pertumbuhan nasabah," kata dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




