ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Cermati Strategi Emiten, Investor Asing Tetap Buru Saham CPO

Jumat, 1 April 2022 | 11:20 WIB
WP
WP
Penulis: Whisnu Bagus Prasetyo | Editor: WBP
Investor saat beraktifitas di galeri sekuritas di Jakarta.
Investor saat beraktifitas di galeri sekuritas di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Uthan A Rachim)

Jakarta, Beritasatu.com - Kampanye negatif minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya asal Indonesia di Eropa, tidak menyurutkan investor asing membeli saham emiten perusahaan perkebunan sawit yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Investor cenderung mengedepankan strategi dan target kinerja emiten.

Vice President Brokerage Strategic Development PT Henan Putihrai, Hendra Martono, mengatakan bahwa pada dasarnya karakter investor asing sama saja dengan investor domestik. Mereka lebih fokus pada prediksi dan rencana kerja perusahaan dan pergerakan saham. "(Investor) Asing tetap masuk, kalau menjanjikan keuntungan ya tetap masuk," jelas Hendra Martono, dalam keterangan yang diterima Jumat (1/4/2022).

Hendra mengakui kampanye negatif masih menjadi tantangan perusahaan perkebunan karena isu ini gencar di luar negeri. "Persoalan itu dapat diatasi jika perusahaan dapat menunjukkan aktivitas bisnis berkelanjutan dan kinerja keuangan positif," kata dia.

Baca Juga: Ditopang Harga CPO, Pendapatan Cisadane Sawit Naik 47,5%

ADVERTISEMENT

Apalagi banyak kalangan menyadari bahwa kampanye negatif dipengaruhi persaingan usaha di bisnis minyak nabati yang tidak sehat alias ada kepentingan produsen minyak nabati di negara lain. "Posisi industri sawit rawan dipojokkan dengan isu lingkungan oleh pihak-pihak tertentu," kata Hendra.

Di sisi lain, lanjutnya, untuk yang baru IPO sebaiknya melihat dulu pergerakan saham di awal transaksi minimal 30 hari perdagangan setelah listing. Setelah ada pergerakan saham secara teknikal, akan lebih mudah memprediksi pergerakan untuk jangka pendek, menengah, ataupun jangka panjang.

"Kalau saya tunggu sampai minimal 30 candle. Kalau kurang dari itu ya bisa juga, tetapi trading kilat saja. Jadi transaksilah setelah chart sudah terbentuk. Ini di luar bicara fundamental karena soal fundamental sangat sulit," ujarnya.

Pengamatan terhadap harga transaksi setiap hari akan memberikan gambaran yang terinci terhadap masing-masing saham, meskipun perusahaannya bergerak di bidang yang sama.

Baca Juga: Harga CPO Naik, Laba Dharma Satya Nusantara Melesat 55%

Sebelumnya, Komisaris PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS), Robiyanto, mengatakan NSS ikut berpartisipasi mendukung program ekonomi hijau demi keberlangsungan bumi. NSS berkomitmen mengelola sumber daya alam milik Indonesia semaksimal mungkin agar bermanfaat bagi masyarakat di dalam negeri, sejalan dengan kebijakan pemerintah.

Dia mengakui pihaknya menghadapi tantangan akibat kampanye hitam. Namun dapat ditangkis dengan upaya perusahaan memenuhi sertifikat penerapan program lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG), yaitu ISPO dan RSPO.

PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) berencana melepas saham perdana ke publik (IPO) pada tahun ini dengan target Rp 1,5 triliun



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon