ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

KPR Syariah Dinilai Menarik Saat Suku Bunga Melambung

Selasa, 12 Juli 2022 | 13:20 WIB
NL
WP
Penulis: Novy Lumanauw | Editor: WBP
Direktur Utama BSI Hery Gunardi, Komisaris Utama BSI Adiwarman Azwar Karim, Wakil Komisaris Utama BSI Muhammad Zainul Majdi saat memulai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Syariah Indonesia Tbk di Jakarta, Jumat 27 Mei 2022.
Direktur Utama BSI Hery Gunardi, Komisaris Utama BSI Adiwarman Azwar Karim, Wakil Komisaris Utama BSI Muhammad Zainul Majdi saat memulai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Syariah Indonesia Tbk di Jakarta, Jumat 27 Mei 2022. (Beritasatu Photo/Uthan)

Jakarta, Beritasatu.com – Perbankan syariah memiliki kesempatan menggenjot pembiayaan atau kredit kepemilikan rumah (KPR) syariah pada semester II 2022 hingga tahun 2023. Hal ini seiring dengan proyeksi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI-7DRR), yang telah bertahan selama 17 bulan terakhir.

BI menetapkan suku bunga acuan ke level paling rendah sepanjang sejarah pada Februari 2021 yakni menjadi 3,5%. Penurunan ini dilakukan secara bertahap setelah BI-7DRR menyentuh 6% pada Juni 2019. Kendati demikian, perekonomian global dihantui inflasi tinggi sehingga Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) mendorong kenaikan suku bunga acuan lebih agresif. Hal itu akan mempengaruhi suku bunga acuan di Indonesia untuk kembali merangkak lebih tinggi.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menjelaskan dalam skenario tren kenaikan suku bunga acuan, bank syariah memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan bank konvensional dalam memasarkan pembiayaan kepemilikan rumah atau lebih dikenal dengan KPR syariah.

"Saat BI rate naik, bank konvensional akan dalam posisi mau tidak mau menaikan suku bunga KPR mengikuti pasar (floating). Bank syariah sudah dalam posisi menjual pembiayaan dengan cicilan tetap, sehingga tidak ada kenaikan cicilan," kata Amin di Jakarta, Selasa (12/7/2022).

ADVERTISEMENT

Baca Juga: Indonesia Butuh Bank Syariah Besar Berkemampuan Komprehensif

Dari sudut pandang konsumen, kata Amin, cicilan tetap akan lebih menarik dibandingkan produk yang menawarkan suku bunga tak tetap mengikuti suku bunga acuan yang berangsur naik. Terlebih kondisi perekonomian ke depan dibayangi ketidakpastian seiring konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina. "Ada dua kesempatan di sini bagi bank syariah, ambil nasabah baru, atau ambil nasabah existing KPR bank konvensional," tambah Amin.

Namun untuk mengambil kesempatan tersebut, dibutuhkan keberanian dan perhitungan matang. Bank syariah bisa lebih agresif dengan menyasar generasi milenial. Salah satu syaratnya menawarkan tenor panjang seperti KPR milenial yang diberikan bank konvensional.

Tingkatkan Penetrasi
Dia menyebut saat ini di Indonesia ada dua bank syariah yang mumpuni untuk memperdalam penetrasi KPR syariah yaitu PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI yang terafiliasi kepada pemerintah, dan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Menurutnya, BSI saat ini berstatus sebagai bank syariah terbesar di Indonesia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon