Pemimpin Perempuan Minim, Termasuk di Ekosistem Pendidikan
Rabu, 20 Juli 2022 | 05:30 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Educator dan Founder Sekolah.mu Najeela Shihab melihat masih ada kesenjangan besar dari persentase perempuan yang memegang posisi sebagai pemimpin dibandingkan laki-laki, baik di sektor swasta maupun publik. Kesenjangan juga terlihat di ekosistem pendidikan. Jumlah perempuan yang menjadi kepala sekolah masih tergolong rendah.
Baca Juga: Menaker Dorong Peningkatan Kemampuan Pekerja Perempuan
"Kita melihat di posisi-posisi kepemimpinan, ada kesenjangan yang besar, bahkan di ekosistem pendidikan itu sendiri. Jumlah kepala sekolah perempuan itu masih rendah, sekitar 20% kepala sekolah perempuan dibandingkan dengan persentase guru perempuan di dalam sekolah tersebut. Jadi tidak cukup banyak figur pemimpin," kata Najeela Shihab dalam talk show bertajuk "Keberagaman dan Inklusi" dalam rangkaian KTT Y20 Indonesia 2022, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (19/7/2022).
Untuk itu diperlukan agenda khusus untuk menjawab tantangan tersebut. Karena sebetulnya masalah kesetaraan gender di dunia pendidikan di Indonesia sudah semakin membaik.
"Ini isu yang penting karena banyak sekali kesalahpahaman ketika kita bicara tentang kesenjangan gender dalam pendidikan. Ada fakta menarik yang mungkin belum diketahui banyak orang. Saat ini sudah tidak lagi ada kesenjangan dari sisi sisi angka partisipasi. Jadi angka partisipasi sekolah baik laki-laki maupun perempuan sudah cukup merata," ungkap Najeela.
Selain itu dari sisi pencapaian akademik, anak perempuan juga terlihat lebih menonjol di berbagai bidang. "Dari sisi akademik, anak perempuan sebenarnya mencatatkan skor lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki. Ini berdasarkan penilaian di tingkat nasional maupun internasional," ujar Najeela.
Baca Juga: P2G Ungkap 4 Faktor Pemicu Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan
Namun, tantangan muncul ketika perempuan mulai menyelesaikan pendidikannya dan memasuki dunia karir. Sehingga membuat kepemimpinan perempuan baik di sektor swasta maupun publik masih tergolong rendah.
"Banyak sekali hambatan yang dihadapi perempuan setelah mereka menyelesaikan pendidikannya. Ini juga mencerminkan hambatan struktural ketika pengembangan karier mereka dimulai," ungkap Najeela.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




