Siap-siap! Pasar Finansial Beri Kejutan Positif di Semester II
Selasa, 2 Agustus 2022 | 16:13 WIB
Jakarta, Beritasatu.com- Memasuki paruh kedua 2022 banyak ekspektasi pasar finansial yang berubah dari pandangan di awal tahun. Pertama, tekanan inflasi yang tadinya diperkirakan akan memudar, ternyata lebih persisten dari perkiraan. Kedua, bank sentral Amerika Serikat (AS) the Fed yang awalnya akan menaikkan suku bunga secara gradual, ternyata menaikkan suku bunga secara agresif untuk menanggulangi lonjakan inflasi.
Faktor selanjutnya konflik Rusia-Ukraina dan naiknya kasus Covid-19 di Tiongkok yang mempengaruhi rantai pasokan global dan menambah tekanan inflasi. Bauran beberapa faktor ini menjadikan pandangan pasar menjadi lebih pesimistis terhadap outlook pertumbuhan ekonomi global dan menyebabkan pasar global bergejolak di semester pertama.
Saat ini pasar dan The Fed memiliki pandangan selaras bawah kenaikan suku bunga diperkirakan tetap agresif, dapat mencapai 3,4% di akhir tahun. Selain itu pertumbuhan ekonomi global untuk 2022 diperkirakan lebih lemah dari proyeksi sebelumnya, direvisi turun menjadi 2,9% dari perkiraan sebelumnya 4,1%.
Baca Juga: Kenaikan Inflasi Tak Perlu Dikhawatirkan Berlebihan
Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Dimas Ardhinugraha mengatakan, hal positif yang bisa diangkat adalah bahwa pasar saat ini telah memperhitungkan pelemahan kondisi tersebut. Pasar finansial bersifat forward-looking, sehingga pelemahan outlook ekonomi dan lonjakan inflasi telah tercermin dari kinerja pasar di semester pertama.
"Ke depannya, karena ekspektasi pasar sudah sangat pesimistis maka kejutan positif dari data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan, atau kebijakan ekonomi yang lebih suportif mendukung pertumbuhan ekonomi, dapat menjadi katalis positif bagi pasar finansial," ujarnya, Selasa (2/8/2022).
Topik yang sering menjadi perhatian pasar dan media saat ini adalah risiko resesi ekonomi di AS yang dapat menular ke dunia. Kondisi resesi umumnya terlihat dari kontraksi dan pelemahan misalnya tingkat upah, tenaga kerja, manufaktur, dan penjualan ritel.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Jumat 15 Mei 2026




