Meski Pasokan Ketat, Harga Minyak Turun karena Dolar Menguat
Kamis, 13 Oktober 2022 | 06:23 WIB
Chicago, Beritasatu.com - Harga minyak mentah berjangka dunia turun memasuki hari ketiga pada Rabu (12/10/2022), karena penguatan dolar di tengah rendahnya permintaan dan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Hal ini melebihi kekhawatiran pasokan seiring rencana OPEC+ memangkas produksi 2 juta barel per hari (bph).
Harga minyak mentah Brent berjangka turun US$ 2,02 atau 2,14% menjadi US$ 92,27 per barel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS kehilangan US$ 2,38, atau 2,66%, pada US$ 876,97.
OPEC+ pada Rabu memangkas prospek pertumbuhan permintaan tahun 2023 berkisar 460.000 barel per hari dan 2,64 juta barel per hari, mengacu langkah penguncian Covid-19 Tiongkok dan inflasi tinggi.
"Ekonomi dunia memasuki masa ketidakpastian karena tantangan meningkat," kata OPEC dalam laporan bulanannya.
Sejalan dengan itu, Departemen Energi AS menurunkan ekspektasi produksi dan permintaan di AS. Konsumsi minyak AS diproyeksi hanya naik 0,9% pada tahun 2023, turun dari perkiraan sebelumnya 1,7%. Sementara produksi minyak mentah diperkirakan tumbuh sebesar 5,2%, turun dari perkiraan sebelumnya 7,2%.
Pasar energi dan harga minyak berada di bawah tekanan dolar, yang menguat terhadap mata uang lain seperti yen.
Komitmen Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga guna membendung tingginya inflasi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. Hal ini membuat mata uang AS lebih menarik bagi investor asing.
Adapun Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari Rabu mengatakan The Fed akan tetap pada komitmennya menaikkan suku bunga. "Kami belum melihat banyak bukti bahwa inflasi melunak," kata dia.
Keputusan OPEC+ memangkas produksi membuat Amerika Serikat marah. Presiden AS Joe Biden menyatakan langkah OPEC akan memiliki konsekuensi pada hubungan AS dan Arab Saudi.
"Tanggapan Washington telah memperkuat dampak awal di pasar minyak," kata analis Verisk Maplecroft, Torbjorn Soltvedt.
Perusahaan pipa milik negara Rusia, Transneft, pada Rabu mengatakan telah menerima pemberitahuan dari operator Polandia PERN tentang kebocoran pipa minyak Druzhba.
Sementara Dana Moneter Internasional (IMF) Selasa memangkas perkiraan pertumbuhan global 2023 dan memperingatkan peningkatan risiko resesi global.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




