ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Raih Pendanaan Rp 450 M, IRRA Akan Ekspansi Pasar

Jumat, 21 Oktober 2022 | 01:10 WIB
HA
B
Penulis: Happy Amanda Amalia | Editor: B1
Jajaran dewan komisaris dan direksi PT Itama Ranoraya Tbk (kiri-kanan): Hendry Herman (Direktur), Heru Firdausi Syarif (Direktur Utama), Wirdhan Denny (Komisaris), Tjandra Yoga Aditama (Komisaris Utama), Roy Edison Maningkas (Komisaris Independen), Dodi Nurzani (Direktur) dan Nanan Meinanta Lasahido (Direktur). 
Jajaran dewan komisaris dan direksi PT Itama Ranoraya Tbk (kiri-kanan): Hendry Herman (Direktur), Heru Firdausi Syarif (Direktur Utama), Wirdhan Denny (Komisaris), Tjandra Yoga Aditama (Komisaris Utama), Roy Edison Maningkas (Komisaris Independen), Dodi Nurzani (Direktur) dan Nanan Meinanta Lasahido (Direktur).  (Istimewa )

BANDUNG, Beritasatu.com – PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA), perusahaan yang bergerak di bidang peralatan dan perlengkapan medis berteknologi tinggi (HiTech Healthcare Solutions), meneken kesepakatan pemberian fasilitas kredit sebesar Rp 450 miliar dengan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon) dan akan digunakan untuk perluasan pasar, pengembangan produk serta pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Adapun fasilitas kredit yang diberikan Bank Danamon meliputi Kredit Modal Kerja sebesar Rp 300 miliar dan sisanya berupa fasilitas Bank Garansi. Sementara itu, bertindak sebagai penjamin PT Global Dinamika Kencana – pemegang saham terbesar di IRRA.

Sebagai informasi, penandatanganan pemberian fasilitas kredit antara Direktur Utama PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) Heru Firdausi Syarif dengan Business Head Enterprise Banking Bank Danamon Region Jawa Barat Flint Indrawan Kamil telah dilaksanakan pada awal Oktober, di Jakarta.

"Kami ucapkan terimakasih atas dukungan perbankan untuk pengembangan bisnis IRRA. Bank Danamon telah memberikan komitmennya untuk tumbuh bersama IRRA. Dengan dukungan Bank Danamon, IRRA dapat terus berkembang maju untuk memberikan yang terbaik bagi kesehatan masyarakat Indonesia," ujar Direktur Utama PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) Heru Firdausi Syarif dalam siaran pers, Kamis (20/10).

ADVERTISEMENT

Ditambahkan oleh Heru bahwa peluang pasar produk alat kesehatan (alkes) di Indonesia masih menjanjikan. Hal ini seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas kesehatan dan bertambahnya jumlah fasilitas layanan kesehatan di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2021 jumlah rumah sakit di Indonesia mencapai 3.112 unit dan puskesmas sebanyak 10.260 unit. Jumlah tersebut belum ditambah dengan ribuan klinik yang berada di seluruh pelosok negeri.

Sementara itu, pertumbuhan jumlah rumah sakit selama 2021 telah mencapai 5,17% dibandingkan 2020 year on year (yoy). Pertumbuhan ini diperkirakan masih berlanjut untuk 2022 dan berimbas pada permintaan alat kesehatan. Bahkan hingga Juli 2022, data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan, jenis produk alat kesehatan dari luar negeri yang beredar di Indonesia mencapai 154.041 atau sekitar 87,3 %. Sedangkan jenis alkes dari produk lokal yang beredar mencapai 22.422 atau 12,7%.

Data yang disajikan Sekretariat Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes pun memperlihatkan pertumbuhan sarana produksi alat kesehatan yang terus meningkat. Dari jumlah 193 perusahaan pada 2015, naik menjadi 891 perusahaan pada 2021. Bahkan dalam lima tahun terakhir, industri manufaktur alat kesehatan dalam negeri tumbuh sebanyak 698 industri atau meningkat 361,66%.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, saat ini pengeluaran per kapita (expenditure per capita) per tahun Indonesia untuk bidang kesehatan sebesar US$ 112 atau setara Rp 1.568.000. Dalam lima tahun ke depan, angka ini diperkirakan naik, sedikitnya mendekati angka pengeluaran per kapita Malaysia sebesar US$ 432 atau setara Rp 6.048.000 per tahun.

Nilai pasar alat kesehatan di Indonesia sendiri dilaporkan tumbuh dari sekitar Rp 65 triliun pada 2016 menjadi Rp 85 triliun di 2020, dan melonjak lagi menjadi sekitar Rp 94 triliun pada 2021. Melihat tren, sepertinya pertumbuhan masih terus berlanjut di sisa tahun ini.

Sedangkan catatan BPS menunjukkan, produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) industri kimia, farmasi dan obat tradisional mencapai Rp 59,88 triliun pada kuartal I-2022. PDB industri tersebut tumbuh 6,47% dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yoy.

Pertumbuhan yang terjadi pada sektor alat kesehatan itu turut menjadi pendorong bagi Itama untuk meningkatkan penjualan produknya.

Penambahan dan pengembangan item-item produk consumer health IRRA, terutama akan difokuskan pada produk-produk surgical, imaging dan diagnostic yang diperuntukkan bagi pasar rumah sakit. Terkait keperluan tersebut, Itama menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan alat kesehatan terkemuka.

Yang terbaru adalah kesepakatan kerjasama dengan PT Medtronic Indonesia. Kolaborasi ini mencakup pemasaran dan promosi produk milik Medtronic oleh Itama Ranoraya di pasar wilayah Indonesia, berupa mesin diatermi generasi terbaru. Yang mana penggunaan mesin diatermi mencakup seluruh spesialisasi bedah seperti bedah ginekologi, bedah digestive (saluran cerna), bariatric (obesitas), bedah umum, bedah urologi, bedah THT dan bedah jantung.

Sementara itu untuk rencana perluasan pasar bakal diarahkan ke segmen non instansi seperti rumah sakit-rumah sakit swasta dan ritel.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon