Phobia, Ketakutan yang Hebat di Masa Lalu
Sabtu, 10 Desember 2011 | 10:32 WIB
Faktor keturunan, lingkungan dan budaya ternyata ikut memengaruhi.
Henni Norita, psikolog dari Lembaga Psikologi Hikari menjelaskan, phobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal (bisa benda atau situasi-situasi tertentu), yang seringkali tidak beralasan dan tidak berdasar pada kenyataan.
Istilah phobia itu sendiri, lanjutnya, berasal dari kata phobi yang artinya ketakutan atau kecemasan yang sifatnya tidak rasional; yang dirasakan dan dialami oleh sesorang.
"Jadi, phobia merupakan suatu gangguan yang ditandai oleh ketakutan yang menetap dan tidak rasional terhadap suatu obyek atau situasi tertentu," jelasnya kepada beritasatu.com.
Kondisi ini tentu saja amat mengganggu kehidupan seseorang yang sebenarnya normal.
Walaupun ada ratusan macam phobia, tetapi pada dasarnya phobia-phobia tersebut menurut buku DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder IV) merupakan bagian dari 2 jenis phobia.
Pertama, phobia sosial adalah ketakutan situasi sosial dimana seseorang mungkin diamati oleh orang lain atau biasanya berhubungan dengan kehadiran orang lain.
Salah satu contohnya, dikritik atau di evaluasi dapat membuat orang yang bersangkutan merasa terhina dan menunjukan tanda-tanda kecemasan atau menampilkan perilaku yang memalukan.
Kedua, phobia spesifik adalah ketakutan yang tidak diinginkan karena kehadiran atau antisipasi terhadap objek atau situasi yang spesifik.
Phobia ini digolongkan menjadi 5 hal :
1. Tipe phobia terhadap binatang (anjing, laba-laba, ular, ayam dan lain-lain)
2. Tipe phobia lingkungan alam (ketinggian, kilat atau air)
3. Tipe phobia terhadap darah
4. Tipe phobia situasional (dalam pesawat terbang, lift atau ruang tertutup)
5. Tipe lainnya (ketakutan terhadap kostum atau karakter tertentu pada anak-anak)
Traumatis di Masa Kecil
Gangguan kejiwaan ini, kata Henni, dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Namun umumnya phobia disebabkan karena, pernah mengalami ketakutan yang hebat atau pengalaman pribadi yang disertai perasaan malu atau bersalah yang semuanya lalu ditekan ke dalam alam bawah sadar.
Peristiwa traumatis di masa kecil dianggap sebagai salah satu kemungkinan penyebab terjadinya phobia.
Lalu bagaimana menjelaskan tentang orang yang takut akan sesuatu meski tidak pernah mengalami trauma pada masa kecilnya.
Martin Seligman di dalam teorinya yang dikenal dengan istilah biological preparedness mengatakan, ketakutan yang menjangkiti tergantung dari relevansinya sang stimulus terhadap nenek moyang atau sejarah evolusi manusia.
Dengan kata lain, ketakutan tersebut disebabkan oleh faktor keturunan. Misalnya, mereka yang takut kepada beruang, nenek moyangnya pada waktu masih hidup di dalam gua, pernah diterkam dan hampir dimakan beruang, tapi selamat sehingga dapat menghasilkan kita sebagai keturunannya.
Seligman berkata bahwa kita sudah disiapkan oleh sejarah evolusi kita untuk takut terhadap sesuatu yang dapat mengancam survival kita.
Pada kasus phobia yang lebih parah, lanjut Henni, gejala anxiety neurosa menyertai penderita tersebut.
Si penderita akan terus menerus dalam keadaan phobia meski tidak ada rangsangan yang spesifik.
Selalu ada saja yang membuat phobia-nya timbul kembali, misalnya thanatophobia (takut mati), dan lain-lain.
Faktor Penyebab
Perlu kita ketahui bahwa, phobia sering disebabkan oleh faktor keturunan, lingkungan dan budaya.
Perubahan-perubahan yang terjadi diberbagai bidang sering tidak seiring dengan laju perubahan yang terjadi di masyarakat.
Seperti dinamika dan mobilisasi sosial yang sangat cepat naiknya, antara lain pengaruh pembangunan dalam segala bidang dan pengaruh modernisasi, globalisasi, serta kemajuan dalam era informasi.
Dalam kenyataannya perubahan-perubahan yang terjadi ini, kata Henni, masih terlalu sedikit menjamah anak-anak sampai remaja.
Henni berpendapat, seharusnya kualitas perubahan anak-anak melalui proses bertumbuh dan berkembangnya harus diperhatikan sejak dini, khususnya saat masih dalam periode pembentukan (formative period) tipe kepribadian dasar (basic personality type).
"Ini untuk memperoleh generasi penerus yang berkualitas," imbuhnya.
Berbagai ciri kepribadian (karakterologis) perlu mendapat perhatian khusus bagaimana lingkungan hidup memungkinkan terjadinya proses pertumbuhan yang baik.
Dan bagaimana lingkungan hidup dengan sumber rangsangannya memberikan yang terbaik bagi perkembangan anak, khususnya dalam keluarga.
Berbagai hal yang berhubungan dengan tugas, kewajiban, peranan orangtua, meliputi tokoh ibu dan ayah terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, masih sering kabur, samar-samar.
Sayangnya, lanjut Henni, hingga kini masih belum jelas mengenai ciri khusus pola asuh (rearing practice) yang ideal bagi anak.
Seperti umur berapa seorang anak sebaiknya mulai diajarkan membaca, menulis, sesuai dengan kematangan secara umum dan tidak memaksakan.
Tujuan mendidik, menumbuhkan dan memperkembangkan anak adalah agar ketika dewasa dapat menunjukan adanya gambaran dan kualitas kepribadian yang matang (mature, wel-integrated) dan produktif baik bagi dirinya, keluarga maupun seluruh masyarakat.
Peranan dan tanggung jawab orangtua terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan hal yang teramat penting.
Henni Norita, psikolog dari Lembaga Psikologi Hikari menjelaskan, phobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal (bisa benda atau situasi-situasi tertentu), yang seringkali tidak beralasan dan tidak berdasar pada kenyataan.
Istilah phobia itu sendiri, lanjutnya, berasal dari kata phobi yang artinya ketakutan atau kecemasan yang sifatnya tidak rasional; yang dirasakan dan dialami oleh sesorang.
"Jadi, phobia merupakan suatu gangguan yang ditandai oleh ketakutan yang menetap dan tidak rasional terhadap suatu obyek atau situasi tertentu," jelasnya kepada beritasatu.com.
Kondisi ini tentu saja amat mengganggu kehidupan seseorang yang sebenarnya normal.
Walaupun ada ratusan macam phobia, tetapi pada dasarnya phobia-phobia tersebut menurut buku DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder IV) merupakan bagian dari 2 jenis phobia.
Pertama, phobia sosial adalah ketakutan situasi sosial dimana seseorang mungkin diamati oleh orang lain atau biasanya berhubungan dengan kehadiran orang lain.
Salah satu contohnya, dikritik atau di evaluasi dapat membuat orang yang bersangkutan merasa terhina dan menunjukan tanda-tanda kecemasan atau menampilkan perilaku yang memalukan.
Kedua, phobia spesifik adalah ketakutan yang tidak diinginkan karena kehadiran atau antisipasi terhadap objek atau situasi yang spesifik.
Phobia ini digolongkan menjadi 5 hal :
1. Tipe phobia terhadap binatang (anjing, laba-laba, ular, ayam dan lain-lain)
2. Tipe phobia lingkungan alam (ketinggian, kilat atau air)
3. Tipe phobia terhadap darah
4. Tipe phobia situasional (dalam pesawat terbang, lift atau ruang tertutup)
5. Tipe lainnya (ketakutan terhadap kostum atau karakter tertentu pada anak-anak)
Traumatis di Masa Kecil
Gangguan kejiwaan ini, kata Henni, dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Namun umumnya phobia disebabkan karena, pernah mengalami ketakutan yang hebat atau pengalaman pribadi yang disertai perasaan malu atau bersalah yang semuanya lalu ditekan ke dalam alam bawah sadar.
Peristiwa traumatis di masa kecil dianggap sebagai salah satu kemungkinan penyebab terjadinya phobia.
Lalu bagaimana menjelaskan tentang orang yang takut akan sesuatu meski tidak pernah mengalami trauma pada masa kecilnya.
Martin Seligman di dalam teorinya yang dikenal dengan istilah biological preparedness mengatakan, ketakutan yang menjangkiti tergantung dari relevansinya sang stimulus terhadap nenek moyang atau sejarah evolusi manusia.
Dengan kata lain, ketakutan tersebut disebabkan oleh faktor keturunan. Misalnya, mereka yang takut kepada beruang, nenek moyangnya pada waktu masih hidup di dalam gua, pernah diterkam dan hampir dimakan beruang, tapi selamat sehingga dapat menghasilkan kita sebagai keturunannya.
Seligman berkata bahwa kita sudah disiapkan oleh sejarah evolusi kita untuk takut terhadap sesuatu yang dapat mengancam survival kita.
Pada kasus phobia yang lebih parah, lanjut Henni, gejala anxiety neurosa menyertai penderita tersebut.
Si penderita akan terus menerus dalam keadaan phobia meski tidak ada rangsangan yang spesifik.
Selalu ada saja yang membuat phobia-nya timbul kembali, misalnya thanatophobia (takut mati), dan lain-lain.
Faktor Penyebab
Perlu kita ketahui bahwa, phobia sering disebabkan oleh faktor keturunan, lingkungan dan budaya.
Perubahan-perubahan yang terjadi diberbagai bidang sering tidak seiring dengan laju perubahan yang terjadi di masyarakat.
Seperti dinamika dan mobilisasi sosial yang sangat cepat naiknya, antara lain pengaruh pembangunan dalam segala bidang dan pengaruh modernisasi, globalisasi, serta kemajuan dalam era informasi.
Dalam kenyataannya perubahan-perubahan yang terjadi ini, kata Henni, masih terlalu sedikit menjamah anak-anak sampai remaja.
Henni berpendapat, seharusnya kualitas perubahan anak-anak melalui proses bertumbuh dan berkembangnya harus diperhatikan sejak dini, khususnya saat masih dalam periode pembentukan (formative period) tipe kepribadian dasar (basic personality type).
"Ini untuk memperoleh generasi penerus yang berkualitas," imbuhnya.
Berbagai ciri kepribadian (karakterologis) perlu mendapat perhatian khusus bagaimana lingkungan hidup memungkinkan terjadinya proses pertumbuhan yang baik.
Dan bagaimana lingkungan hidup dengan sumber rangsangannya memberikan yang terbaik bagi perkembangan anak, khususnya dalam keluarga.
Berbagai hal yang berhubungan dengan tugas, kewajiban, peranan orangtua, meliputi tokoh ibu dan ayah terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, masih sering kabur, samar-samar.
Sayangnya, lanjut Henni, hingga kini masih belum jelas mengenai ciri khusus pola asuh (rearing practice) yang ideal bagi anak.
Seperti umur berapa seorang anak sebaiknya mulai diajarkan membaca, menulis, sesuai dengan kematangan secara umum dan tidak memaksakan.
Tujuan mendidik, menumbuhkan dan memperkembangkan anak adalah agar ketika dewasa dapat menunjukan adanya gambaran dan kualitas kepribadian yang matang (mature, wel-integrated) dan produktif baik bagi dirinya, keluarga maupun seluruh masyarakat.
Peranan dan tanggung jawab orangtua terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan hal yang teramat penting.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




