Nasib Sepak Bola Kita Pasca-Tragedi Kanjuruhan
Senin, 10 Oktober 2022
PSSI: Kelanjutan Kompetisi Tunggu Kesepahaman Format Pengamanan
Minggu, 9 Oktober 2022 | 11:59 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menyatakan lanjutan kompetisi Liga 1 dan 2 2022/2023 akan digelar menunggu kesepahaman bersama tentang format pengamanan dan keselamatan, termasuk perbaikan di semua lini di PSSI.
"Tentunya kesepahaman itu dilakukan pihak PSSI, operator kompetisi, peserta klub sepakbola bersama pemerintah dan dan keamanan serta pihak terkait selesai dan menjadi pedoman bersama," kata Jubir PSSI sekaligus Eksekutif Komite (Exco) PSSI, Ahmad Riyadh kepada Beritasatu.com, Minggu (9/10/2022).
Ahmad Riyadh yang kini menjabat sebagai Ketua Tim Investigasi PSSI, menilai putusan PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi untuk menunda lanjutan pertandingan Liga 1 2022/2023 dan Liga 2 2022/2023 selama dua pekan, tidak bakal cukup.
"Dua minggu saya rasa tidak cukup. Salah satu jalan keluar sambil menunggu sinkronisasi dan harmonisasi regulasi pengamanan dan sistem baru kompetisi bisa jalan tanpa penonton," ungkap Ahmad Riyadh.
Selanjutnya, lanjut dia, bertahap pada panpel dan stadion yang sudah siap dengan penonton dengan jumlah bertahap. Selain itu tentunya juga menunggu supervisi dari Federasi Sepakbola Dunia (FIFA).
Sebelumnya PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi memutuskan menunda lanjutan pertandingan Liga 1 2022/2023 dan Liga 2 2022/2023 selama dua pekan.
Perihal keputusan tersebut, LIB juga telah berkirim surat kepada seluruh klub peserta Kompetisi Liga 1 2022/2023 dan Liga 2 2022/2023, Senin (3/10/2022).
Berdasar surat bernomor 583/LIB-KOM/X/2022 dan 584/LIB-KOM/X2022 yang dikirimkan kepada para peserta kompetisi, terdapat dua poin sebagai sebab dilakukannya penundaan kompetisi selama dua pekan.
Pertama terkait insiden pascapertandingan pada pekan ke-11 antara tuan rumah Arema FC versus Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang pada 1 Oktober lalu.
Kedua berdasar rapat koordinasi pada 2 Oktober yang dipimpin Menko PMK dan dihadiri oleh Menpora, Kapolri, Gubernur Jawa Timur, anggota Komisi X DPR, Kapolda Jawa Timur, Pangdam Brawijaya, dan unsur terkait yang menangani tragedi di Kanjuruhan.
Pada pengumuman awal setelah tragedi Kanjuruhan, PT LIB sempat menyatakan penghentian khusus kompetisi Liga 1 selama sepekan. Lewat rilis resmi terakhir, operator kompetisi di Tanah Air itu menyatakan penghentian sementara juga diberlakukan untuk Liga 2 2022/2023.
Durasinya pun bertambah menjadi dua pekan untuk kedua kasta kompetisi di Indonesia tersebut.
"Selanjutnya, PT LIB akan terus melakukan komunikasi dan koordinasi kepada klub peserta Liga 1 2022/2023 dan segala perkembangan akan diinformasikan pada kesempatan pertama," tulis surat yang ditanda tangani oleh Direktur Utama PT LIB, Akhmad Hadian Lukita.
Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022 di Stadion Kanjuruhan menelan korban jiwa 131 orang. Ini adalah tragedi terparah sepanjang sejarah sepak bola Indonesia.
Tragedi Kanjuruhan juga menyita perhatian dunia, sebab dengan jumlah korban mencapai ratusan, tragedi ini tercatat sebagai yang kedua terparah di dunia.
Tragedi Kanjuruhan Makan Banyak Korban, Kompetisi Sepak Bola Harus Tetap Jalan
Senin, 10 Oktober 2022 | 13:07 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Duka akibat hilangnya 131 nyawa pada tragedi Kanjuruan Malang, 17 di antaranya anak-anak, belum hilang meski sudah lebih sepekan waktu berjalan. Catatan kelam itu akan abadi, bukan saja di benak keluarga dan kerabat korban melainkan juga insan persepakbolaan di Tanah Air maupun mancanegara.
Tragedi Sabtu malam kelabu tanggal 1 Oktober 2022 itu membawa tangisan serta kemarahan. Namun roda kehidupan harus tetap berputar. Demikian juga persepakbolaan Tanah Air. Sepak bola Indonesia tidak boleh berhenti atau bahkan mati. Sebaliknya,
seluruh pemangku kepentingan harus menatap ke depan guna memperbaiki tata kelola persepakbolaan demi menyongsong prestasi di ajang regional maupun internasional.
Sungguh menyakitkan kehilangan ratusan saudara kita justru dalam sebuah kancah yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas. Dukacita dan kemarahan yang muncul pascatragedi sangat bisa dipahami sejauh tidak sampai menumpulkan akal atau logika. Keterkejutan kita oleh jumlah korban yang luar biasa itu jangan sampai melatari sikap yang bermuara pada keputusan membubarkan kompetisi atau mematikan sepakbola itu sendiri.
Pemerintah sudah mengambil langkah cepat, tepat, dan tegas. Presiden Jokowi pagi-pagi langsung memerintahkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk melakukan investigasi dan mengusut tuntas tragedi yang pecah pada Sabtu malam tanggal 1 Oktober 2022 tersebut.
Selain kepada Kapolri, Presiden juga memerintahkan Menpora hingga Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk mengevaluasi secara menyeluruh pelaksanaan pertandingan sepakbola serta prosedur pengamanannya.
Pemerintah membentuk tim gabungan independen pencari fakta (TGIPF) yang dipimpin Menko Polhukam Mahfud MD. Anggota timnya cukup representatif. Ada akademisi, pengamat sepak bola, jurnalis, mantan pengurus PSSI, pensiunan polisi, dan mantan pimpinan KPK, bahkan mantan pemain timnas Indonesia.
Kepada TGIPF, Presiden Jokowi meminta, tim ini dapat mengungkap secara tuntas tragedi Kanjuruhan dalam waktu kurang dari sebulan.
Kita mengapresiasi upaya terstruktur Presiden, Menko Polhukam, dan Kapolri dalam mengoreksi berbagai kesalahan dalam tragedi ini. Tujuannya jelas, agar ke depan tidak terulang jatuhnya korban. Yang terpenting, sanksi tegas dijatuhkan bukan kepada sepak bolanya melainkan kepada mereka yang bertanggung jawab terhadap malapetaka di Stadion Kanjuruhan, Malang tersebut.
Tak sampai seminggu Kapolri Jenderal Listyo Sigit sudah mengumumkan hasil penyelidikan dan penyidikan. Polri menetapkan enam orang tersangka tragedi Kanjuruhan, Kamis (6/10/2022) atau lima hari setelah kejadian. Keenamnya yaitu tiga dari sipil dan tiga lainnya adalah polisi.
Langkah demi langkah pemerintah tadi cukup menjadi jawaban bagi kalangan yang ngotot menginginkan persepakbolaan Indonesia dihukum. Sikap masyarakat ini terukur dari unggahan netizen di media sosial. Tidak sedikit warganet yang mengirimkan usulan kepada FIFA agar Indonesia mendapatkan sanksi.
Ada yang mengusulkan peringkat Indonesia di FIFA diturunkan, klub Indonesia tidak boleh bermain di ajang regional, atau timnas dilarang berlaga di Piala Asia. Bahkan ada yang memunculkan wacana pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 2023 mendatang.
Yang menohok adalah meminta FIFA menghentikan kompetisi sampai beberapa musim. Ada juga yang menyebut, “hentikan kompetisi dan bubarkan PSSI” atau “lebih baik hidup tanpa sepak bola”.
Pendapat-pendapat tersebut sangat kental oleh muatan emosi akibat tragedi. Nyaris tidak terlihat adanya pertimbangan kemungkinan kita sendiri yang justru bakal merugi. Tragedi Kanjuruhan adalah kerugian besar buat bangsa ini. Karena itu, tak selayaknya ditambah lagi dengan kerugian berikutnya yang harus ditanggung dunia persepakbolaan nasional.
Perlu diperhitungkan bahwa guliran sebuah kompetisi sepak bola sekelas Liga 1 bukanlah semata-mata hiburan bagi penghobi bola. Pertandingan demi pertandingan yang berlangsung adalah lahan ribuan orang mencari penghidupan. Setiap laga pasti memiliki multiplier effect.
Sepakbola Indonesia, meski belum besar, sudah berangsur menjadi industri yang mampu menampung ribuan tenaga kerja, bahkan jutaan.
Mereka yang terlibat di dunia sepakbola bukan hanya para pemain atau pelatih. Di lapangan ada tim medis, dokter, fisoterapis, hingga psikiater. Ada pula di level satpam stadion, tukang parkir, pemotong rumput lapangan hingga pedagang kios sekitar stadion.
Tiap klub yang bermain di Liga 1 saat ini punya ribuan suporter fanatik. Selain dari penjualan tiket, pemasukan klub bisa juga dari penjualan marchandise. Ceruk pasar ini mampu mendorong tumbuhnya UMKM pembuat cendera mata klub. Di luar itu semua, duit terbesar tentu saja dari sponsor dan hak siar.
Transfermarkt menyebut bahwa 18 klub yang berkompetisi di Liga 1 bernilai total Rp 1,27 triliun. Angka itu hanya dari hitungan nilai pasar para pemain. Total uang berputar dalam indutri ini tentu berkali lipat bila memperhitungkan sponsor, hak siar, dan penjualan tiket serta cendera mata. Betapa sayang bila industri yang sudah mulai bangkit pasca-pandemi ini harus berhenti.
Itu tadi dari sisi ekonomi. Dari sisi keolahragaan, pembubaran atau penghentian kompetisi bakal berpengaruh negatif pada pembinaan dan prestasi.
Saat ini, guliran Liga 1 disetop sementara sebagai buntut tragedi Kanjuruhan. Terdapat dua versi terkait nasib kompetisi Liga 1 musim 2022/2023. PT Liga Indonesia Baru (LIB) menyatakan, kompetisi dijeda dua pekan. PSSI menegaskan, penundaan Liga hingga waktu yang tidak ditentukan.
Mereka yang bekepentingan dengan keberlangsungan Liga tentu berharap penghentian kompetisi saat ini tidak memakan waktu lama. Di sisi lain, kita tidak bisa mengabaikan begitu saja pendapat miring yang menginginkan penghentian kompetisi. Kegalauan sebagian masyarakat itu sangat mungkin muncul dari rasa frustrasi. Persepakbolaan kita lebih banyak rusuh ketimbang berprestasi. Lalu tiba-tiba kita mendapati 131 orang mati!
Kesan negatif terhadap persepakbolaan yang memunculkan keputusasaan itu harus ditepis. Bukan dengan kata-kata melainkan tindakan nyata. Satu-satunya cara adalah membuatnya menjadi cabang berprestasi sekaligus menghindari ada yang mati.
Jadikan tragedi Kanjuruhan sebagai pemantik reformasi tata kelola persepakbolaan dalam negeri. Pelaku yang berkewajiban mengupayakan prestasi adalah semua pemangku kepentingan, yakni PSSI, klub, dan organisasi suporter. Pemerintah pusat dan daerah turut serta mengawal.
Kita beruntung sebab perbaikan tata kelola kompetisi sepakbola sepertinya bukan omong kosong. Presiden Jokowi begitu taktis pascatragedi. Presiden langsung menjalin komunikasi dengan Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) Gianni Infantino.
Belakangan muncul kabar gembira. Indonesia terhindar dari sanksi FIFA meski dalam tragedi Kanjuruhan jelas terjadi pelanggaran penggunaan gas air mata dalam penanganan suporter. Nyatanya, FIFA malah bergandengan tangan dengan pemerintah membentuk tim transformasi sepak bola Indonesia.
Tidak hanya itu, FIFA menyepakati adanya langkah-langkah kolaborasi dengan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan pemerintah Indonesia untuk memperbaiki penyelenggaraan kompetisi persepakbolaan Indonesia.
Dalam suratnya ke Jokowi, FIFA akan membangun standar keamanan di seluruh stadion yang ada di Indonesia. Bakal di formulasikan standar protokol serta prosedur pengamanan yang dilakukan oleh pihak kepolisian berdasarkan standar keamanan internasional.
Selain itu, dilakukan sosialisasi dan diskusi dengan klub-klub bola di Indonesia, termasuk perwakilan suporter untuk mendapatkan saran dan masukan serta komitmen bersama.
Jadwal pertandingan bakal diatur dengan memperhitungkan potensi-potensi risiko yang ada. Juga, menghadirkan pendampingan dari para ahli di bidangnya.
Bila FIFA sudah turun tangan -bukan untuk menghentikan kompetisi-, kurang apa coba sepak bola kita? Kita berharap kompetisi segera kembali bergulir. Tentu saja dengan aturan ketat sesuai regulasi internasional selaras dengan bagaimana FIFA memberikan supervisi.
Fokus Bantu Korban Tragedi Kanjuruhan, Arema Belum Pikirkan Kerugian
Senin, 10 Oktober 2022 | 09:10 WIB
Malang, Beritasatu.com - Manajemen Arema FC fokus membantu korban tragedi Kanjuruhan yang terjadi seusai laga Arema vs Persebaya, Sabtu (1/10/2022) lalu. Arema tidak memikirkan langkah PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang menunda kompetisi Liga 1. Selain itu, untuk saat ini, mereka belum memikirkan kerugian maupun penundaan jadwal laga sepak bola.
"Kalau soal penundaan jadwal jangan tanyakan ke saya, tanyakan ke yang bersangkutan (PT ILB dan PSSI,red) saya hanya mengurusi Arema," kata Manager Tim Arema FC, Ali Rifky kepada Beritasatu.com, Senin (10/10/2022).
Menurut Ali Rifky, dia tidak peduli dengan perbedaan penundaan jadwal antara PT ILB dan PSSI. Pasalnya, saat ini tim manajemen masih keliling menyalurkan bantuan ke rumah korban tragedi maut Stadion Kanjuruhan.
"Saat ini saya fokus penyaluran bantuan kepada korban," tandasnya.
Saat disinggung kerugian materi dan bisnis maupun kerja sama sponsor jika terjadi penundaan laga setelah tragedi Kanjuruhan, Ali Rifky mengaku manajemen belum memikirkan hal itu. Ia menegaskan pihaknya tetap akan fokus mendatangi ratusan korban Kanjuruhan.
"Kita belum memikirkan ke lain, kita fokus ke korban dulu. Untuk soal kerja sama bukan urusan saya, tetapi ke Mas Inal ( Yusrinal Fitriandi, Manager Bisnis Arema FC)," ujarnya.
Sementara itu, Manager Bisnis Arema FC, Yusrinal Fitriandi saat dikonfirmasi tidak mau memberikan jawaban. Ia menjanjikan lain waktu untuk bisa wawancara dengan beliau pasca tragedi Kanjuruhan. "Lain waktu ya mas," katanya singkat.
Dihubungi terpisah Manager Arema FC Women Fuad Ardiansyah mengungkapkan, saat ini manajemen Arema masih berkosentrasi pada bantuan korban. Jadi, manajemen membatasi dan berhati-hati untuk memberikan pernyataan ke media lantaran Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) masih di Malang.
"Saya tidak punya kapasitas untuk bicara soal kerugian dan kerja sama sponsor. Saat ini teman-teman masih kosentrasi keliling ke rumah korban, apalagi tim bentukan Mahfud juga masih di Malang," kata dia.
Diberitakan, setelah tragedi Kanjuruhan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah menetapkan 6 orang tersangka pada Kamis (6/10/2022). Masing-masing tersangka yakni Direktur LIB Ahkmad Hadian Lukita, Ketua Panitia Pelaksana Abdul Haris, Security Officer Suko Sutrisno, Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo, Danki 3 Brimob Polda Jatim AKP Has Darmawan, Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Ahmadi.
Dari keenam tersangka, tiga warga sipil disangkakan pasal 359 dan pasal 360 dan Pasal 103 ayat 1 juncto Pasal 52 UU
No 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan. Sedangkan, untuk tiga tersangka anggota polisi dijerat pasal 359 dan 360 KUHP.
Hingga kini, data korban dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang per Minggu (9/10/2022) berjumlah 704 korban. Korban meninggal dunia 131 orang, korban luka ringan atau sedang 550 orang, luka berat 23 orang, dan yang masih dirawat di rumah sakit 37 orang.
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB
Terekam CCTV: Detik-Detik Pria Berhelm Bakar Kios Warga Matraman Saat Dini Hari
Kericuhan Pecah Saat Warga Geruduk Tempat Hiburan Malam Tak Berizin di Tigaraksa
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB












