Mantan Bos Mossad Sebut Israel Kaget dengan Serangan Mendadak Hamas
Minggu, 8 Oktober 2023 | 10:38 WIB
Tel Aviv, Beritasatu.com - Mantan pimpinan dinas intelijen Israel Mossad, Efraim Halevy mengaku, terkejut dengan serangan mendadak yang dilancarkan kelompok militan Palestina, Hamas.
"Kami tidak mendapat peringatan apa pun, dan sungguh mengejutkan bahwa perang pecah pagi ini," katanya kepada CNN.
Efraim Halevy mengatakan, militan Hamas telah meluncurkan ribuan roket ke Israel pada hari Sabtu (7/10/2023). "Jumlah roket yang mereka luncurkan dalam waktu kurang dari 24 jam mencapai lebih dari 3.000. Dari sudut pandang kami, ini di luar imajinasi, dan kami tidak tahu bahwa mereka mempunyai rudal dalam jumlah sebanyak ini, dan kami tentunya tidak menyangka bahwa rudal tersebut akan seefektif saat ini," katanya.
'Baca Juga: Hamas Lancarkan Serangan Mendadak, Baku Tembak Terjadi di Kota-kota Israel
Halevy juga mengatakan bahwa jumlah roket yang ditembakkan oleh militan Palestina pada Sabtu pagi, belum pernah terjadi sebelumnya. Dia mengatakan, ini adalah serangan mendadak pertama kalinya Gaza mampu menembus jauh ke dalam wilayah Israel dan menguasai desa-desa.
"Sebagai sebuah operasi, operasi ini sangat sukses, menurut saya operasi ini terkoordinasi dengan baik," kata Halevy.
Halevy mengatakan bahwa dia mencurigai roket-roket tersebut diproduksi di Jalur Gaza setelah diselundupkan melalui laut, dan bahwa Hamas mungkin mampu melakukan pelatihan percobaan, tanpa membiarkan pasukan Israel mengetahui rencana mereka.
"Kami tidak memiliki firasat tentang apa yang sedang terjadi," katanya.
Sementara itu, Amnesty International menyerukan pasukan keamanan Israel dan kelompok bersenjata Palestina untuk melindungi warga sipil.
"Kami sangat khawatir dengan meningkatnya jumlah korban warga sipil di Gaza, Israel dan Tepi Barat, dan segera menyerukan semua pihak yang berkonflik untuk mematuhi hukum internasional dan melakukan segala upaya untuk menghindari pertumpahan darah warga sipil lebih lanjut," kata Amnesty International.
"Berdasarkan hukum humaniter internasional, semua pihak yang berkonflik mempunyai kewajiban yang jelas untuk melindungi nyawa warga sipil yang terjebak dalam permusuhan," kata Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnès Callamard,.
Badan pengawas hak asasi manusia tersebut memperingatkan bahwa sengaja menargetkan warga sipil, melakukan serangan yang tidak proporsional, dan serangan tanpa pandang bulu yang membunuh atau melukai warga sipil adalah kejahatan perang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




