ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Israel Berencana Menggandakan Jumlah Warganya di Dataran Tinggi Golan

Senin, 16 Desember 2024 | 16:31 WIB
SL
SL
Penulis: Surya Lesmana | Editor: LES
Pasukan Israel saat melakukan operasi darat di Jalur Gaza.
Pasukan Israel saat melakukan operasi darat di Jalur Gaza. (AP/AP)

Yerusalem, Beritasatu.com - Pemerintah Israel pada Minggu (15/12/2024) menyetujui rencana strategis untuk menggandakan populasi warganya di Dataran Tinggi Golan yang telah dianeksasi. Keputusan ini diambil meski Israel menegaskan tidak berniat konfrontasi dengan Suriah, menyusul pengambilalihan zona penyangga yang dipantau oleh PBB.

Rencana tersebut mencakup anggaran sebesar 40 juta shekel (sekitar Rp 172 miliar) untuk pengembangan demografi wilayah strategis ini. "Penguatan Dataran Tinggi Golan adalah penguatan Negara Israel," tegas Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. 

Ia menyatakan pentingnya memperluas pembangunan di wilayah tersebut untuk menghadapi situasi geopolitik yang dinamis di Suriah.

ADVERTISEMENT

Sejak menduduki sebagian besar Dataran Tinggi Golan pada 1967, Israel mencaplok wilayah ini pada 1981, tindakan yang hanya diakui oleh Amerika Serikat pada 2019. Saat ini, Dataran Tinggi Golan menjadi tempat tinggal bagi sekitar 30.000 warga Israel dan 23.000 warga Arab Druze yang sebagian besar masih memegang kewarganegaraan Suriah.

Keputusan Israel ini memicu kecaman internasional. Arab Saudi dan Qatar menyebut langkah ini sebagai sabotase terhadap upaya perdamaian di Suriah dan pelanggaran hukum internasional. Sementara itu, Netanyahu menegaskan wilayah Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi akan tetap menjadi milik Israel selamanya.

Setelah jatuhnya rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad minggu lalu, Israel meningkatkan kehadiran militernya di zona penyangga. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz memerintahkan pasukan bersiap untuk tetap berada di wilayah tersebut selama musim dingin. Militer Israel juga mengakui telah melancarkan ratusan serangan terhadap posisi strategis di Suriah, termasuk gudang senjata dan fasilitas militer lainnya.

Ketegangan ini juga diperburuk oleh operasi militer Israel di luar zona penyangga, yang dinilai sebagai langkah defensif untuk mengisi kekosongan keamanan di perbatasan. Namun, tindakan ini mendapatkan kritik tajam dari komunitas internasional, termasuk dari PBB, yang memantau perkembangan situasi melalui misi penjaga perdamaian UNDOF.

"Kami tidak berniat memulai konflik dengan Suriah. Kebijakan kami akan ditentukan berdasarkan perkembangan di lapangan,” ujar Netanyahu beralasan.

Rencana Israel untuk menggandakan populasi di Dataran Tinggi Golan ini mengingatkan pada program serupa yang diluncurkan pada 2021 di bawah kepemimpinan PM Naftali Bennett, dengan anggaran US$ 317 juta selama lima tahun. Langkah ini menunjukkan tekad Israel untuk terus memperkuat kendalinya di wilayah yang dianggap strategis tersebut.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon