Kisah Mahasiswa Indonesia di Suriah yang Jadi Saksi Tumbangnya Rezim Assad di Damaskus
Selasa, 17 Desember 2024 | 04:50 WIB
Damaskus, Beritasatu.com – Dua mahasiswa Indonesia di Suriah, Tubagus Muhammad dan Wahyudi, membagikan pengalaman mereka mengenai detik-detik tumbangnya rezim Bashar Assad dan jatuhnya ibu kota Damaskus ke pemberontak.
Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (7/12/2024) malam itu telah menimbulkan ketegangan di Damaskus. Saat kelompok pemberontak mendekati ibu kota, pada warga setempat termasuk ratusan WNI yang tinggal mengunci pintu rumah sambil menunggu dengan ketidakpastian.
Tubagus Muhammad (22 tahun), adalah mahasiswa Indonesia di Suriah yang menimba ilmu di Universitas Bilad al-Sham. Ia terbangun pada Minggu (8/12/2024) dini hari, karena suara yang ia sangka baku tembak.
"Saya bahkan merekam video wasiat, karena khawatir malam itu adalah malam terakhir saya," ujarnya kepada CNA, baru-bari ini.
Namun, saat koneksi internet pulih, Tubagus baru menyadari bahwa suara tersebut adalah tembakan perayaan atas jatuhnya rezim Assad.
Suasana berubah drastis ketika warga Damaskus keluar rumah usai salat Subuh untuk merayakan kebebasan mereka. "Rasanya seperti Idulfitri, tetapi lebih meriah," ungkap Wahyudi, mahasiswa Indonesia di Suriah yang lainnya.
Jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Minggu pagi menjadi tonggak bersejarah, menandai akhir dari konflik 13 tahun yang menewaskan lebih dari 580.000 orang dan mengungsi sekitar 12 juta lainnya. Damaskus, bersama kota-kota seperti Aleppo, Hama, dan Homs, menyaksikan gelombang kegembiraan warga setelah bertahun-tahun dikuasai oleh rezim.
Kondisi serupa juga terjadi di berbagai wilayah Suriah dan di kalangan diaspora Suriah di seluruh dunia. “Setelah bertahun-tahun ketakutan, kini mereka berani mengungkapkan pendapat di media sosial tentang Assad,” tambah Tubagus.
Kedutaan Besar Indonesia di Damaskus sebelumnya telah mengeluarkan imbauan agar WNI tetap waspada. Aktivitas perkuliahan dihentikan sementara, dan mahasiswa Indonesia di Suriah dilarang keluar malam untuk menghindari risiko.
Namun, setelah situasi mereda, mahasiswa Indonesia di Suriah justru membantu membagikan makanan kepada WNI yang membutuhkan. "Kami bangga bisa membantu sesama," kata Tubagus.
Meskipun pemerintah Indonesia telah memulai evakuasi warga, termasuk 37 WNI yang dikembalikan ke Tanah Air melalui Beirut, Tubagus dan Wahyudi memilih tetap tinggal. "Kami sedang menyelesaikan tahun terakhir kuliah dengan beasiswa penuh," jelas Wahyudi.
Meski awalnya mendapatkan penolakan dari keluarga, kedua mahasiswa Indonesia di Suriah ini merasa Damaskus adalah tempat yang aman dan kaya akan sejarah. Dengan transisi kepemimpinan yang sedang berlangsung, mereka berharap Suriah segera pulih dan menjadi destinasi wisata dunia.
"Kami senang jika warga Suriah bahagia. Kami berharap perdamaian benar-benar terwujud di negara ini," tutup Tubagus.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




