ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Menkeu AS Minta Negara-negara Terdampak Tarif Impor Tak Membalas

Kamis, 3 April 2025 | 10:57 WIB
A
SL
Penulis: Antara | Editor: LES
Menteri Keuangan AS Scott Bessent (kiri) berjalan bersama Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Robert F Kennedy Jr., dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick di Halaman Selatan Gedung Putih.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent (kiri) berjalan bersama Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Robert F Kennedy Jr., dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick di Halaman Selatan Gedung Putih. (AP/AP)

Washington, Beritasatu.com - Menteri Keuangan Amerika Serikat (Menkeu AS) Scott Bessent, menyarankan negara-negara yang terdampak tarif impor baru yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump untuk diam saja dan tidak mengambil tindakan balasan. Hal ini guna menghindari eskalasi lebih lanjut dalam perang dagang global.

"Saran saya kepada setiap negara saat ini adalah jangan membalas. Diam saja. Terima dahulu. Lihat bagaimana perkembangannya. Karena jika kalian membalas, maka akan terjadi eskalasi. Jika tidak membalas, ini adalah batas tertingginya," ujar Bessent dalam wawancara dengan Fox News.

Pernyataan ini muncul setelah Gedung Putih mengumumkan kebijakan tarif impor baru pada Rabu (2/4/2025) waktu AS. Berdasarkan kebijakan tersebut, Amerika Serikat akan menerapkan tarif tambahan sebesar 10% terhadap semua impor asing mulai 5 April 2025. Selain itu, negara-negara dengan defisit perdagangan terbesar dengan AS akan menghadapi tarif yang lebih tinggi, yang mulai berlaku pada 9 April 2025.

ADVERTISEMENT

Dalam pengumuman resmi, Gedung Putih menegaskan bahwa tarif impor ini tidak akan dikenakan pada barang-barang yang dianggap penting bagi sektor manufaktur dan keamanan nasional. Beberapa kategori yang dikecualikan meliputi baja, aluminium, otomotif dan suku cadangnya, tembaga, farmasi, semikonduktor, kayu, emas batangan, energi, serta beberapa mineral tertentu yang tidak tersedia di AS.

Selain itu, Presiden Trump memiliki kewenangan untuk menaikkan tarif timbal balik jika negara mitra dagang memutuskan untuk melakukan tindakan balasan. Langkah ini dianggap sebagai bagian dari strategi proteksionisme ekonomi guna memperkuat industri dalam negeri dan mengurangi defisit perdagangan AS.

Kebijakan tarif impor ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan pakar ekonomi global. Beberapa pihak memperingatkan bahwa tindakan ini dapat memicu perang dagang yang merugikan, sementara lainnya melihatnya sebagai langkah strategis untuk melindungi kepentingan ekonomi Amerika Serikat.

Dengan ketidakpastian yang meningkat, pelaku bisnis dan negara-negara mitra dagang AS kini tengah mempertimbangkan langkah-langkah terbaik untuk menanggapi kebijakan tarif impor baru ini.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Ekspor Inggris ke AS Anjlok 25 Persen Imbas Tarif Trump

Ekspor Inggris ke AS Anjlok 25 Persen Imbas Tarif Trump

EKONOMI
Trump Sebut Kanada Akan Dihabisi Hidup-hidup oleh China, Kenapa?

Trump Sebut Kanada Akan Dihabisi Hidup-hidup oleh China, Kenapa?

INTERNASIONAL
Surplus Dagang RI-AS Tahan Tekanan Tarif Impor Berkat Front Loading

Surplus Dagang RI-AS Tahan Tekanan Tarif Impor Berkat Front Loading

EKONOMI
Perang Tarif AS–China Makin Sengit, Ekonomi Global Terancam Melambat

Perang Tarif AS–China Makin Sengit, Ekonomi Global Terancam Melambat

INTERNASIONAL
Harga Minyak Dunia Hari Ini 13 Oktober 2025 Rebound

Harga Minyak Dunia Hari Ini 13 Oktober 2025 Rebound

EKONOMI
Memitigasi Kesepakatan Tarif 0 Persen vs 19 Persen dengan Trump

Memitigasi Kesepakatan Tarif 0 Persen vs 19 Persen dengan Trump

OPINI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon