Menkeu AS Minta Negara-negara Terdampak Tarif Impor Tak Membalas
Kamis, 3 April 2025 | 10:57 WIB
Washington, Beritasatu.com - Menteri Keuangan Amerika Serikat (Menkeu AS) Scott Bessent, menyarankan negara-negara yang terdampak tarif impor baru yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump untuk diam saja dan tidak mengambil tindakan balasan. Hal ini guna menghindari eskalasi lebih lanjut dalam perang dagang global.
"Saran saya kepada setiap negara saat ini adalah jangan membalas. Diam saja. Terima dahulu. Lihat bagaimana perkembangannya. Karena jika kalian membalas, maka akan terjadi eskalasi. Jika tidak membalas, ini adalah batas tertingginya," ujar Bessent dalam wawancara dengan Fox News.
Pernyataan ini muncul setelah Gedung Putih mengumumkan kebijakan tarif impor baru pada Rabu (2/4/2025) waktu AS. Berdasarkan kebijakan tersebut, Amerika Serikat akan menerapkan tarif tambahan sebesar 10% terhadap semua impor asing mulai 5 April 2025. Selain itu, negara-negara dengan defisit perdagangan terbesar dengan AS akan menghadapi tarif yang lebih tinggi, yang mulai berlaku pada 9 April 2025.
Dalam pengumuman resmi, Gedung Putih menegaskan bahwa tarif impor ini tidak akan dikenakan pada barang-barang yang dianggap penting bagi sektor manufaktur dan keamanan nasional. Beberapa kategori yang dikecualikan meliputi baja, aluminium, otomotif dan suku cadangnya, tembaga, farmasi, semikonduktor, kayu, emas batangan, energi, serta beberapa mineral tertentu yang tidak tersedia di AS.
Selain itu, Presiden Trump memiliki kewenangan untuk menaikkan tarif timbal balik jika negara mitra dagang memutuskan untuk melakukan tindakan balasan. Langkah ini dianggap sebagai bagian dari strategi proteksionisme ekonomi guna memperkuat industri dalam negeri dan mengurangi defisit perdagangan AS.
Kebijakan tarif impor ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan pakar ekonomi global. Beberapa pihak memperingatkan bahwa tindakan ini dapat memicu perang dagang yang merugikan, sementara lainnya melihatnya sebagai langkah strategis untuk melindungi kepentingan ekonomi Amerika Serikat.
Dengan ketidakpastian yang meningkat, pelaku bisnis dan negara-negara mitra dagang AS kini tengah mempertimbangkan langkah-langkah terbaik untuk menanggapi kebijakan tarif impor baru ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




