ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Paus Fransiskus Meninggal, Ini Cara dan Tahapan Memilih Pemimpin Baru

Senin, 21 April 2025 | 16:37 WIB
MF
MF
Penulis: Muhammad Firman | Editor: MF
Mengenal cara dan proses pemilihan Paus
Mengenal cara dan proses pemilihan Paus (Berita Satu Photo/Joanito de Saojoao)

Jakarta, Beritasatu.com - Paus Fransiskus meninggal dunia pada Senin (21/4/2025) pada usia 88 tahun. Kabar duka ini diumumkan secara resmi oleh Kardinal Kevin Farrell, otoritas sementara yang bertanggung jawab atas urusan administratif saat Tahta Suci dalam keadaan kosong.

"Pada pukul 07.35 pagi ini, Uskup Roma, Fransiskus, telah kembali ke rumah Bapa. Seluruh hidupnya diabdikan untuk melayani Tuhan dan Gereja-Nya," ujar Farrell dalam siaran resmi dari Kota Vatikan.

Paus Fransiskus, yang memiliki nama asli Jorge Mario Bergoglio, lahir di Buenos Aires, Argentina, pada 17 Desember 1936. Ia tercatat sebagai Paus pertama yang berasal dari Amerika Selatan dan juga anggota pertama dari ordo Serikat Yesus (Jesuit) yang memimpin Gereja Katolik.

Ia terpilih menjadi Paus pada 13 Maret 2013, menggantikan Paus Benediktus XVI yang secara mengejutkan mengundurkan diri, yang menandai peristiwa sangat langka terjadi dalam sejarah Gereja Katolik modern.

ADVERTISEMENT

Meninggalnya Paus Fransiskus tentu menimbulkan pertanyaan mengenai proses pemilihan Paus baru. Lantas, bagaimana prosesnya? Dihimpun dari berbagai sumber, berikut lengkapnya!

Proses Pemilihan Paus Baru

Pemilihan Paus bukan hanya momen penting secara spiritual, tetapi juga mengikuti tradisi dan prosedur ketat yang telah diwariskan selama berabad-abad. Berikut tahapan yang akan dijalankan Gereja Katolik dalam memilih penerus Paus Fransiskus:

1. Persyaratan dasar calon Paus

Menurut Kitab Hukum Kanonik, seorang calon Paus haruslah laki-laki yang telah menerima sakramen baptis Katolik dan dikenal sebagai pemimpin rohani.

Walaupun secara teoritis setiap umat Katolik yang telah dibaptis bisa dipilih, kenyataannya proses seleksi biasanya mengerucut pada para kardinal.

Apabila calon terpilih belum ditahbiskan sebagai uskup, ia harus segera menjalani tahbisan tersebut. Ini penting agar ia dapat secara sah memegang otoritas tertinggi dalam Gereja.

Meskipun tidak ada batas usia resmi, Paus umumnya dipilih dari kalangan yang telah berpengalaman, dengan usia rata-rata sekitar 65 tahun.

2. Persiapan Konklaf dan pertemuan rahasia

Setelah wafatnya seorang Paus, seluruh kardinal berusia di bawah 80 tahun akan dipanggil ke Vatikan untuk mengikuti Konklaf—proses rahasia pemilihan Paus.

Mereka berkumpul dalam serangkaian pertemuan tertutup yang dikenal sebagai "congregations", guna membahas tantangan Gereja dan sosok-sosok yang dianggap layak menduduki jabatan Paus.

Selama Konklaf berlangsung, segala bentuk komunikasi eksternal seperti ponsel, media massa, dan perangkat elektronik lainnya dilarang keras demi menjaga kerahasiaan dan kekhidmatan proses tersebut.

3. Tahapan pemungutan suara

Dalam Kapel Sistina, para kardinal akan melakukan pemungutan suara secara tertutup. Mereka menuliskan nama kandidat pilihan pada selembar kertas bertuliskan “Eligio in Summum Pontificem,” yang berarti "Saya memilih sebagai Paus Tertinggi".

Kertas suara ini kemudian dilipat dan dimasukkan ke dalam wadah khusus, lalu dihitung dan disegel oleh petugas yang ditunjuk. Proses ini berulang hingga salah satu calon memperoleh minimal dua pertiga suara untuk dinyatakan sah sebagai Paus baru.

4. Ritual asap sebagai tanda pemilihan

Setelah setiap sesi pemungutan suara, surat suara akan dibakar. Jika belum ada hasil, asap hitam akan mengepul dari cerobong Kapel Sistina. 
Namun, jika telah terpilih Paus baru, asap putih akan muncul sebagai tanda bagi umat di seluruh dunia bahwa pemimpin baru telah dipilih.

Tak lama kemudian, kalimat ikonik akan diumumkan, "Annuntio vobis gaudium magnum, habemus papam" yang berarti, "Saya mengumumkan kabar gembira besar, kita memiliki Paus".

5. Pemilihan nama dan penampilan perdana

Setelah menyatakan kesediaannya untuk memimpin Gereja, Paus yang baru terpilih akan memilih nama kepausannya. Nama ini bukan sekadar simbol, tetapi mencerminkan arah, nilai, dan semangat yang akan ia bawa dalam masa jabatannya.

Setelah itu, para kardinal mendekat untuk menyatakan kesetiaan mereka. Lalu, Paus baru akan tampil untuk pertama kalinya di balkon utama Basilika Santo Petrus, menyampaikan sapaan perdana dan memberikan berkat Urbi et Orbi (kepada kota dan dunia), yakni sebuah momen penuh haru yang menandai babak baru dalam perjalanan Gereja Katolik.

Meninggalnya Paus Fransiskus menjadi momen duka mendalam bagi umat Katolik di seluruh dunia. Sosoknya yang penuh kasih, rendah hati, dan berkomitmen pada keadilan sosial meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Gereja. Meski kepergiannya membawa kesedihan, Gereja kini memasuki fase penting untuk memilih pemimpin baru yang akan meneruskan warisan spiritual dan moral yang telah ia bangun.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon