ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

AirNav RI Jadi Tuan Rumah Forum Navigasi Asia Pasifik di Yogyakarta

Selasa, 3 Juni 2025 | 09:35 WIB
OW
DM
Penulis: Olena Wibisana | Editor: DM
Kota Yogyakarta kembali mencuri perhatian dunia, kali ini bukan lewat pesona budaya atau pariwisata, melainkan sebagai pusat pertemuan strategis dunia penerbangan. AirNav Indonesia secara resmi menjadi tuan rumah ICAO Asia/Pacific Airport and Airspace Capacity Assessment Workshop.
Kota Yogyakarta kembali mencuri perhatian dunia, kali ini bukan lewat pesona budaya atau pariwisata, melainkan sebagai pusat pertemuan strategis dunia penerbangan. AirNav Indonesia secara resmi menjadi tuan rumah ICAO Asia/Pacific Airport and Airspace Capacity Assessment Workshop. (Beritasatu.com/Olena Wibisana)

Yogyakarta, Beritasatu.com - Kota Yogyakarta kembali mencuri perhatian dunia, kali ini bukan lewat pesona budaya atau pariwisata, melainkan sebagai pusat pertemuan strategis dunia penerbangan. AirNav Indonesia secara resmi menjadi tuan rumah ICAO Asia/Pacific Airport and Airspace Capacity Assessment Workshop.

Forum internasional ini berlangsung pada 2-5 Juni 2025 di Hotel Tentrem Yogyakarta. Acara ini bekerja sama dengan International Civil Aviation Organization (ICAO) dan Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat.

Workshop ini diikuti oleh 103 peserta dari 15 negara dan enam organisasi internasional, yang terdiri atas regulator penerbangan sipil, penyedia layanan navigasi udara (ANSP), maskapai penerbangan, dan lembaga internasional. Dari Indonesia, 18 delegasi AirNav turut ambil bagian aktif dalam diskusi teknis dan perumusan kebijakan bersama.

ADVERTISEMENT

“Eksistensi AirNav di Asia Pasifik semakin diakui. Menjadi tuan rumah forum ini adalah cara kami menunjukkan kontribusi dan kompetensi di dunia penerbangan,” ujar Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro kepada Beritasatu.com, Selasa (3/6/2025).

Selama empat hari, para peserta membahas isu-isu penting seputar navigasi udara di kawasan Asia Pasifik. Perinciannya:
1. Penilaian kapasitas bandara dan ruang udara berbasis data (data driven).
2. Manajemen lalu lintas udara regional melalui air traffic flow management (ATFM).
3. Penyusunan pedoman kapasitas regional antarnegara Asia Pasifik.
4. Peningkatan kepatuhan terhadap audit keselamatan ICAO (USOAP).
5. Harmonisasi prosedur dan teknologi navigasi udara lintas negara.

“Workshop ini membahas bagaimana suatu negara bisa menghitung kapasitas ruang udara dan bandara secara akurat dan efisien,” tambah Setio.

Terpilihnya Yogyakarta sebagai lokasi forum tak hanya karena nilai simbolik budaya, tetapi juga karena posisinya sebagai simpul penting navigasi udara Indonesia.

Pada April 2025, Kantor Cabang AirNav Indonesia Yogyakarta mencatat 2.524 pergerakan pesawat, mencakup penerbangan domestik, internasional, dan latihan. Tren positif ini diprediksi meningkat menjadi sekitar 2.600 pergerakan pada Mei 2025, menjelang musim libur panjang.

Dari total trafik pada April, 92% adalah penerbangan domestik, menandakan pentingnya peran layanan navigasi udara dalam mendukung mobilitas antardaerah di Indonesia.

Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota budaya, kini juga menegaskan perannya dalam peta strategis penerbangan Asia Pasifik melalui kehadiran AirNav Indonesia sebagai pemain kunci dalam dunia navigasi udara.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon