Pembicaraan Telepon Bocor Picu Ketegangan Baru Thailand-Kamboja
Kamis, 19 Juni 2025 | 07:10 WIB
Bangkok, Beritasatu.com — Hubungan antara Thailand dan Kamboja mengalami ketegangan baru pada Rabu (18/6/2025), setelah bocornya percakapan telepon antara Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra dan mantan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen. Kebocoran ini dikhawatirkan dapat memicu ketegangan lebih lanjut di tengah meningkatnya konflik wilayah perbatasan kedua negara.
Situasi antara kedua negara bertetangga itu kini berada pada titik terburuk dalam lebih dari satu dekade. Perselisihan mengenai perbatasan telah menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan konfrontasi militer, seiring meningkatnya retorika nasionalis dan pengerahan pasukan dari kedua sisi.
Percakapan telepon yang bocor pada 15 Juni 2025 tersebut telah dikonfirmasi keasliannya oleh kedua tokoh. Dalam rekaman tersebut, Paetongtarn menyebut dirinya berada dalam tekanan politik domestik, dan memohon agar Hun Sen tidak mendengarkan “pihak lawan” termasuk seorang jenderal militer Thailand di wilayah perbatasan.
"Dia hanya ingin terlihat keren dan mengatakan hal-hal yang tidak berguna bagi bangsa, tetapi sebenarnya yang kami inginkan adalah perdamaian," ujar Paetongtarn kepada Hun Sen melalui penerjemah dalam percakapan yang bocor dan merujuk pada sang jenderal.
Menanggapi rekaman tersebut, Paetongtarn mengatakan kepada wartawan bahwa percakapannya adalah bagian dari strategi diplomasi. Ia menegaskan tidak memiliki masalah dengan tentara Thailand.
“Saya tidak akan berbicara secara pribadi dengannya (Hun Sen) lagi karena ada masalah kepercayaan," katanya.
Hun Sen mengungkapkan kebocoran tersebut berasal dari salah seorang dari 80 politisi yang menerima salinan audio. Mantan pemimpin kuat yang memimpin Kamboja hampir empat dekade itu tetap berpengaruh meski telah menyerahkan kekuasaan pada 2023 kepada putranya, Perdana Menteri Hun Manet.
Sebelumnya, hubungan kedua negara relatif hangat yang didukung oleh kedekatan antara Hun Sen dan mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra, ayah dari Paetongtarn, yang juga masih aktif dalam politik.
Namun, kebocoran ini berpotensi merusak hubungan tersebut dan memperkuat spekulasi bahwa Paetongtarn berselisih dengan militer Thailand terkait penanganan krisis perbatasan.
Dalam beberapa hari terakhir, retorika dari pihak Kamboja meningkat. Hun Sen menyalahkan ekstremis Thailand dan militer negara itu sebagai pemicu ketegangan. Ia menyindir bahwa pemerintah Paetongtarn tidak mampu mengendalikan militernya.
Keluarga Shinawatra memang memiliki sejarah konfrontatif dengan militer Thailand, dengan dua pemerintahan sebelumnya digulingkan dalam kudeta militer pada 2006 dan 2014.
Letnan Jenderal Boonsin Padklang yang bertanggung jawab atas perbatasan wilayah timur mengaku telah ditelepon oleh Paetongtarn untuk memberikan penjelasan. "Saya tidak punya masalah, saya mengerti," ujarnya.
Konflik di perbatasan ini bermula dari bentrokan singkat pada 28 Mei 2025 yang menewaskan seorang tentara Kamboja. Sejak itu, kedua negara menyerukan ketenangan, tetapi bersumpah mempertahankan kedaulatan atas wilayah perbatasan sepanjang 820 km yang masih disengketakan.
Upaya diplomatik untuk menyelesaikan masalah ini belum membuahkan hasil. Kamboja, pada Minggu lalu, menyatakan akan membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional.
Pada Rabu, Kementerian Pertahanan Kamboja menuduh Thailand kembali melanggar wilayahnya melalui penerbangan drone, penggalian parit, dan pengerahan pasukan. Klaim tersebut dibantah oleh Bangkok.
Di Phnom Penh, ribuan warga Kamboja mengikuti aksi pawai untuk menunjukkan dukungan kepada pemerintah. Mereka mengibarkan bendera negara dan membawa foto Hun Manet serta Hun Sen. “Tanah Kamboja! Kami tidak akan mengambil tanah orang lain, kami akan mempertahankan tanah kami!” teriak para peserta pawai.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




