Clinton hingga Trump, Netanyahu Selalu Berhasil Pengaruhi Presiden AS
Minggu, 22 Juni 2025 | 18:39 WIB
Jerusalem, Beritasatu.com - Meski kerap berselisih dengan para presiden Amerika Serikat (AS), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memiliki rekam jejak unik. Ia hampir selalu berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
Hanya sebulan lalu, Netanyahu terlihat terpinggirkan oleh Presiden AS Donald Trump. Saat itu, Trump mengunjungi Timur Tengah tanpa menyentuh tanah Israel, sekutu utama Amerika di kawasan tersebut.
Bahkan lebih buruk bagi Netanyahu, Trump mencabut sanksi terhadap Suriah, langkah yang ditentang Israel, dan mulai membuka pembicaraan nuklir dengan Iran, musuh bebuyutan Netanyahu sejak lama.
Namun, dalam waktu kurang dari 5 minggu, semua berubah. AS menggempur tiga situs nuklir utama Iran, langkah militer besar yang selama puluhan tahun coba didorong Netanyahu agar diambil Washington.
Serangan ini menjadi bukti bahwa, sekali lagi, Netanyahu berhasil mendorong kebijakan luar negeri AS selaras dengan tujuan Israel.
Netanyahu Selalu Menang
Netanyahu telah menjadi pemain utama dalam politik Timur Tengah selama lebih dari tiga dekade. Ia telah berhadapan dengan sejumlah presiden AS dari berbagai partai, baik Demokrat maupun Republik.
Ia tak ragu mengkritik, menentang, bahkan mempermalukan pemimpin Negeri Paman Sam secara terbuka. Namun, bantuan militer dan dukungan diplomatik AS ke Israel tetap mengalir deras.
“Ia mungkin merasa selalu bisa lolos dari konsekuensi. Dan sulit untuk menyangkal itu," kata seorang pejabat senior PBB di Yerusalem yang enggan disebutkan namanya, seperti dikutip Reuters pada Minggu (22/6/2025).
Kritik tajam dari dalam negeri pun pernah mengarah padanya. Pemimpin oposisi Yair Lapid menuding Netanyahu telah menghancurkan hubungan dengan AS.
Namun ironisnya, dalam waktu singkat terjadi penyelarasan militer paling erat antara AS dan Israel dalam menghadapi Iran, musuh bersama mereka.
Sejarah Ketegangan dengan para Presiden AS
Ketegangan bukan hal baru bagi Netanyahu. Pada tahun 1996, saat baru menjabat sebagai perdana menteri, ia sudah membuat Presiden Bill Clinton kesal dalam pertemuan di Washington.
“Siapa dia? Siapa negara adikuasa di sini?” tanya Clinton, sebagaimana dikutip oleh diplomat AS Aaron David Miller.
Meski begitu, bantuan AS tetap mengalir. Bahkan ketika hubungan Netanyahu dengan Presiden Barack Obama memanas, terutama terkait pembangunan permukiman di wilayah pendudukan dan kesepakatan nuklir Iran, AS tetap mengirimkan paket bantuan militer terbesar dalam sejarah sebesar US$ 38 miliar untuk jangka waktu 10 tahun.
Pada 2015, Netanyahu bahkan berbicara di hadapan Kongres AS tanpa izin Gedung Putih untuk menentang kesepakatan nuklir Iran dan menyebut perjanjian itu “membuka jalan bagi Iran untuk membuat bom”. Meski Obama dilaporkan marah, bantuan militer tetap diberikan.
Para analis meyakini Netanyahu memandang dukungan AS terhadap Israel sebagai sesuatu yang konstan dan didorong oleh kekuatan lobi Yahudi-Amerika dan basis pemilih evangelis di AS.
Ketika konflik meletus antara Israel dan Hamas pada Oktober 2023, Presiden Joe Biden menunjukkan dukungan awal kepada Israel. Namun hubungan dengan Netanyahu memburuk akibat tingginya jumlah korban sipil dan krisis kemanusiaan di Gaza.
Biden mulai menahan pengiriman amunisi berat dan menjatuhkan sanksi terhadap pemukim Israel yang melakukan kekerasan.
Kemenangan Trump dalam pemilu presiden AS kemudian dirayakan oleh Netanyahu. Meski sempat terlihat tidak sejalan, terutama ketika Trump membicarakan diplomasi nuklir dengan Iran pada 7 April 2025 lalu, Netanyahu tidak menyerah. Ia terus mendorong Trump untuk mengambil langkah militer.
Menurut sejumlah pejabat Israel dan AS, Netanyahu tidak secara eksplisit mendapatkan persetujuan Trump untuk memulai perang.
Namun, ketika Israel menyerang Iran pada Jumat (13/6/2025), mereka mendesak AS untuk ikut serta dan membujuk Trump agar berada “di pihak pemenang sejarah”.
Ketika pesawat pengebom AS menghantam situs nuklir Iran pada hari Minggu (22/6/2025), impian Netanyahu selama puluhan tahun seolah menjadi kenyataan.
Dalam pidato video singkat, ia memuji Trump dan menyebut keputusannya sebagai “berani” dan “akan mengubah sejarah”.
“Semoga Tuhan memberkati aliansi kita yang tak tergoyahkan, iman kita yang tak tergoyahkan,” tutup Netanyahu.
Meski kerap berselisih dengan presiden-presiden Amerika, Netanyahu tetap berhasil menjadikan hubungan Israel-AS sebagai poros utama kekuatan regional.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




