ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Trump Ngamuk gegara Dituduh Beri Bantuan Rp 48 Triliun untuk Iran

Sabtu, 28 Juni 2025 | 17:29 WIB
HH
HH
Penulis: Harumbi Prastya Hidayahningrum | Editor: HP
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengamuk seusai dituduh memberikan bantuan kepada Iran.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengamuk seusai dituduh memberikan bantuan kepada Iran. (AP Photo/Carlos Barria)

Washington, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah meluapkan kemarahan terhadap pemberitaan media yang menyebut dirinya telah menyetujui pemberian bantuan sebesar US$ 30 miliar atau sekitar Rp 48,6 triliun kepada Iran.

Bantuan itu, menurut laporan, dimaksudkan untuk pembangunan fasilitas nuklir nonmiliter.

Trump membantah keras tuduhan tersebut dan melontarkan serangan tajam melalui akun media sosial pribadinya di Truth Social.

ADVERTISEMENT

“Siapa bajingan di Media Berita Palsu yang mengatakan bahwa 'Presiden Trump ingin memberikan US$ 30 miliar kepada Iran untuk membangun fasilitas nuklir nonmiliter'? Tidak pernah ada ide konyol ini. Ini hanya tipuan lain yang dikeluarkan oleh berita palsu untuk merendahkan. Orang-orang ini sakit!!!” tulis Trump dengan nada penuh amarah.

Laporan yang membuat Trump marah soal bantuan AS untuk Iran muncul setelah sejumlah media mengutip tiga sumber yang mengetahui diskusi internal pemerintahan Trump.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa Gedung Putih tengah mempertimbangkan untuk mencairkan miliaran dolar aset milik Iran sebagai insentif agar Teheran menghentikan program pengayaan uraniumnya.

Namun, bagi Trump, berita itu hanyalah bagian dari narasi berita palsu yang menurutnya sengaja dirancang untuk melemahkan kredibilitas pemerintahannya di tengah ketegangan global yang sedang berlangsung.

Kemarahan Trump muncul di tengah memanasnya hubungan antara AS dan Iran. Baru-baru ini, tepatnya pada Minggu (22/6/2025), ketika AS meluncurkan serangan udara besar-besaran ke tiga situs nuklir Iran.

Enam bom penghancur bunker dijatuhkan ke fasilitas bawah tanah Fordow, sementara rudal-rudal jelajah diluncurkan dari kapal selam AS ke dua situs penting lainnya, yaitu Natanz dan Isfahan.

Langkah agresif tersebut dianggap sebagai bagian dari strategi tekanan maksimum AS terhadap ambisi nuklir Teheran.

Terlebih lagi, ketegangan sempat meningkat tajam usai serangan udara Israel ke fasilitas militer dan sipil Iran pada Jumat (13/6/2025), hanya 2 hari sebelum putaran keenam pembicaraan nuklir dijadwalkan berlangsung.

Konflik berkecamuk selama 12 hari sebelum akhirnya terhenti pada Selasa (24/6/2025) setelah gencatan senjata berhasil ditegakkan dengan dukungan diplomatik dari Washington.

Gencatan senjata tersebut diharapkan menjadi titik balik bagi kelanjutan pembicaraan nuklir antara AS dan Iran yang sempat tertunda akibat eskalasi militer.

Namun di tengah upaya meredakan ketegangan, tuduhan bahwa Trump memberikan bantuan dana untuk Iran justru memicu kontroversi baru. Banyak pihak menilai, informasi ini benar atau tidak dapat merusak posisi negosiasi AS dan memperburuk citra Trump di mata pemilih konservatif yang anti-Iran.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon